Showing posts with label Catatan Renungan. Show all posts
Showing posts with label Catatan Renungan. Show all posts

Tuesday, August 25, 2015

Apa Harus Sebegini Sakitnya?

Sayang....

Ingatkah kau pada kisah Sri Rama?
masih ingat bagaimana ia meragukan kesucian Dewi Shinta?
masih terekam jelas pada memorimu bagaimana Dewi Shinta rela tubuhnya dijilat api untuk membuktikan kesuciannya

Sayang....
kalau hingga detik ini kamu meragukanku
meragukan kesungguhanku
meragukan cintaku
perlukah aku berlaku layaknya Dewi Shinta?
perlukah aku menyediakan tubuhku pada jilatan api?

Sayang...
mungkin aku tak sesuci Shinta
tapi cintaku padamu sebesar cintanya pada Sri Rama
aku hanya bisa menyayat tubuhku untukmu
hingga setetes demi setetes darahku jatuh ke bumi untuk bersaksi padamu

aku mencintaimu dengan seluruh jiwaku...

tapi mengapa nyawaku tak jua tercerabut sayang?
padahal sakitnya sayatan ini menelusup hingga kalbuku
meneteskan air mata
apa harus sebegini sakit cara untuk membuktikan cintaku
apa harus sebegini sakit caraku agar membuatmu tetap tinggal
apa harus sebegini sakit untuk membuatmu merengkuh tubuhku yang lunglai

apa harus sebegini sakitnya mencintaimu...



Monday, March 23, 2015

Dan Ketika Cinta Sudah Tak Berarti

Aku mencintaimu
Aku menyayangimu
Di semua kehidupan hanya kamu yang aku sayang...
Mencintaimu adalah candu yang selalu aku inginkan
Dan ketika semua kata-kata berbungah itu sudah menjadi tak berarti lagi. Bukan, bukan berarti cinta itu telah hilang atau berubah menjadi benci. Tapi, semua menjadi sesuatu yang... tidak berarti...
Mungkin terdengar janggal. Cinta, romansa, ibarat percikan api dalam sebuah hubungan. Memberikan gelora tak biasa dalam diri kita. Tak mendengar suaranya sebentar saja sudah resah. Tak dapat kabarnya sehari menjadi gelisah.
Tapi ibarat api yang memercik, cinta yang apa adanya akan berubah menjadi kobar api yang membakar hati. Saat cinta berubah menjadi ikatan. Rasa memiliki, takut kehilangan, tak ingin menjadi nomor sekian dalam hidup pasangan, dan... Ah kamu pasti tahu banyak lagi lainnya.
Dan ketika kobar api itu terus membakar hati, masihkah cinta yang hanya percikan mampu bertahan?
Sebab itulah saya bilang cinta tak lagi mempunyai arti. Ketika ikatan telah ditahbiskan, maka cinta saja tak cukup. Sebab cinta bisa menguap karena kobaran api dalam hati tadi. Karena percikan cinta tak mampu lagi menjaga ikatan hati.
Lantas apa yang penting? Kepercayaan dan Komitmen. Tapi percayalah padaku, dua hal ini adalah hal yang paling absurd untuk dijelaskan. Komitmen mungkin akan lebih mudah dimengerti, karena saat masing masing dari kita memegang komitmen, maka tugas selesai. Tapi komitmen pun mudah rapuh jika cinta tak kuat.
Kepercayaan, ada yang bilang kepercayaan itu seperti kertas, sekali kau remas dia tak akan pernah sama seperti awal lagi. Dan inilah masalahnya.
Ketika kepercayaanmu pernah dikhianati, dan kamu menganggap kertas itu masih bisa digunakan tinggal diratakan saja, atas dasar cinta kamu membangun sebuah ikatan dan komitmen. Apakah menuliskan kisahmu di kertas itu akan sama saat waktu kertas itu belum lecek? Tidak.
Akan selalu ada bayangan hitam yang meneror setiap langkahmu. Ketakutan akan merasakan pengkhianatan yang sama. Ketakutan akan kehilangan lagi cinta dalam hidupmu. Dan percayalah, semua itu perlahan akan membuatmu gila.
Dan karena cinta saja tak cukup untuk membuatmu kembali waras. Kobaran api pun semakin membesar. Hatimu akan menjadi serupa gumpalan asap. Ada tapi tak dapat dirasakan...

Wednesday, June 25, 2014

Epilog Sebuah Kisah

jika pagi dan malam saling meniadakan
mengapa mereka ciptakan jeda
berpelukan diantara keremangan langit fajar
dan semburat senja
dalam diam

jika ombak tahu akan selalu ada karang
yang terus memecah deburannya
hingga hanya buih dan serpihan
yang mampu memeluk pasir pantai
mengapa ia terus menderu, menggulung, mendebur
dan izinkan karang melukainya
menghancurkannya berkeping
menyerpih...

jika perpisahan begitu sangat menyakitkan
mengapa merindu begitu menjadi candu

jika aku dan kamu berbeda
tak sejalan
tak selangkah
mengapa harus ada kita

Jika pertanyaan-pertanyaan menjadi tak berarti
mengapa jawaban begitu dinanti

Gambar di ambil dari sini




Monday, November 04, 2013

Bye, and I Miss You....

Gamang
Kau genggam tanganku 
Erat 
Kau letakkan di dadamu
Aku dan kamu hening dalam tabir 
Keriuhan stasiun tua itu tak dapat hapuskan hening yang kita lahirkan
Aku harus pergi cinta.... 
Kau hanya diam 
Lekat memandangku
dan airmataku hanya menetes saat bibirmu sentuh keningku
Pergilah.... 
Katamu saat itu
Kata yang tercekat itu membuatku pedih
Aku akan kembali untukmu
Aku akan jadi shintamu
Yang tetap bergeming pada rayu Rahwana
Aku akan kembali... 
Janjiku ini serupa senja yang selalu hadir menyambut malam
Pelukanmu melemahkanku sayang 
Aku tentu bukan srikandi yang tetap akan berangkat berperang apapun yang terjadi
Aku hanya perempuanmu
Memandang punggungmu yang menjauh dari pintu stasiun tua itu membuat hatiku bergetar
Ya.... aku mencintai lelaki itu Tuhan... 
Takdir macam apa ini yang memisahkan dua orang kekasih dengan jarak yang menyesakkan
Aku pergi
Untuk kembali suatu saat
Untuk memeluk punggungmu lagi di stasiun tua ini
Bahkan keretapun belum berangkat 
Dan aku telah merindukanmu






-Surabaya Gubeng 021113-


*) Foto ini bisa diambil di sini

Hikayat Pohon

Bukit itu masih sama 
Pohon itu juga
Kokoh di sana
Pohon kita
Tempat kita sembunyikan impian dan kisah.... cinta
Ingatkah kau tentang pohon itu sayang?
Ah tentu kau sudah lupa
Jelaga perkotaan telah menyumbat memorimu
Pohon itu masih sama
Rindang....
Selalu melindungi kita di saat terik
Dahannya masih kokoh dan besar
Ingat kan kita berdua saja tak bisa memeluknya? 
Tidak? Ah kau terlalu sayang
Kau begitu rekat dibalut jubah keangkuhan 
Bahkan memori tentang pohon kita saja tak kau ingat.... 
Padahal.... 
Pohon itu terus mengingat semuanya....
Tak satu kisahpun ia lupakan
Aku ingin menjadi seperti pohon itu... 
Ia menawarkan keteduhan
Menawarkan tempat bagi kita berbagi rahasia 
Tanpa harap balas
Jika kita telah puas
Ia rela melepas kita melanjutkan langkah 
Tak ada dendam
Atau kesombongan
Kau tahu mengapa aku kembali ke sini.... 
Aku rindu pohon ini
Aku rindu berlindung pada ia yang tak peduli balas
Di kotamu itu
Kota yang selalu kau banggakan kebesaran dan kehebatannya
Di kota yang hanya memberimu jelaga kesombongan
Aku tak temukan pohonku...
Tak temukan apa-apa
Kaupun menjadi asing bagiku
Bagi pohon kita
Bagi kisah kita....

*) Foto bisa diambil di sini

 

Sunday, February 17, 2013

Sahabat Sejati


sahabat sejati itu akan ada di saat-saat terburuk kita... 
maka saat terpuruk pejamkan matamu, 
kemudian buka perlahan, 
lihat sekelilingmu, 
pandang satu persatu mata mereka yang menopangmu di saat terpuruk, 
dan ingat mata-mata itu... 
dan saat esok kau mampu bangkit, 
berdiri tegak, 
jangan lepaskan genggamanmu dari tangan-tangan mereka



Sunday, September 09, 2012

Cukup Sederhanakan Semuanya


Setiap perempuan selalu memiliki impian masa kecil. Menikah dengan pangeran yang menunggang kuda putih, tinggal di kastil impian, dan hidup bahagia selamanya... Cinderella Syndrome kata orang...
Namun impian masa kecil itu kadang terbawa hingga mereka dewasa, memiliki pasangan yang ganteng, kehidupan yang mapan, dan bahagia selamanya, masih menjadi patron setiap wanita di dunia.

Satu hal yang masih tetap sama sejak dulu hingga kini, dan itu memang kodrat perempuan, adalah menikah dan bahagia selamanya. Terdengarnya sederhana, tapi sungguh, dua hal itu adalah dua hal yang paling rumit di dunia ini.

Menikah, bagiku (entah bagi yang lain) adalah sebuah hal yang rumit. Karena pernikahan sudah tidak lagi perkara menyatukan dua hati dalam ikrar suci, tetapi juga ada ritual budaya dan prestise keluarga di dalamnya. Tidak sesederhana percakapan di bawah ini :

Rangga : Cinta, kita sudah menjalani setiap proses hubungan selama ini, tawa dan tangis kita bisa lalui berdua, aku tidak pernah terpikirkan untuk menjalani sisa hidupku tanpa ada kamu di sisiku. Maukah kamu menjadi bagian dari hidupku, ibu dari anak-anakku, menemaniku hingga hanya maut memisahkan kita?

Cinta : (sambil menangis) Aku mau Rangga, aku mau...

Keesokannya mereka sudah menggunakan busana pengantin dan resmi menjadi suami istri

Hidup ini tidak seperti FTV atau film romansa drama yang selalu ada kebahagiaan di akhirnya. Apa mungkin pernikahan dilaksanakan secara kilat tanpa persiapan yang matang? Mungkin saja sebenarnya jika pasangan itu telah siap baik secara mental atau materi. Meskipun mereka sudah siap pun, melaksanakan pernikahan tidak sesederhana transaksi dagang, "Ok besok kita menikah, mau di mana dan jam berapa?" hehehehe...

Ada orang tua dan keluarga besar yang selalu ingin dilibatkan dalam momen persiapan hari bahagia itu. Bahkan sebagian masih menganut perhitungan hari baik dan buruk dalam melaksanakan upacara pernikahan. Sebagian yang lain mungkin lebih moderat tapi masih mengajukan prasyarat atau saran tentang berapa jumlah undangan, catering, gedung, dll Hal-hal kecil dan bukan pokok dalam pernikahan yang kemudian menjadi poin utama dalam melaksanakan upacara pernikahan.

Semua itu terlalu rumit bagiku. Jujur saja kuakui. Mengapa tidak kita sederhanakan semuanya sehingga semua terasa lebih memorable. Tidak harus dengan seremoni mewah dan agung, cukup kita dan mereka yang terdekat dengan kita. Huru hara upacara pernikahan yang heboh itu membuat orang cenderung segan untuk melangkah dalam jenjang pernikahan. Karena merasa belum siap secara finansial untuk mengadakan acara yang wah. 
  
So, sederhanakan semuanya. Dengan kesederhanaan, kita tidak akan berat dalam melangkah, tidak pula terbebani. Jadi ketika permintaan untuk menikah itu datang, maka kita akan siap menjawab "Ayo nikah, kapan? Kita sudah siap kan!" 


Monday, August 06, 2012

Adamu Menggenapkanku

Kesalahan membuat kita belajar bagaimana menjadi benar
Kehilangan membuat kita tahu artinya memiliki...
Dulu... 
Ada bahagia dalam kata Kita
Ada pula airmata dan luka dan terperih
Memiliki dan kehilanganmu dulu
Membuat kita sadar betapa cinta dan Kita begitu berharga...

Masih ingat dengan kata-kata Penulis kita 
"Satu itu menggenapkan tapi dua melenyapkan"
Itulah kita... 
Adamu menggenapkanku
membuatku utuh
membantuku kokoh...

kita adalah sayap-sayap bagi kehidupan dan cinta kita
jika satu diantara kita luruh
maka tak ada lagi cinta
apalagi Kita...

terima kasih telah menggenapkanku
semoga kaupun tak lagi ganjil dengan ada ku












*aku tak hendak jadi bintang bagimu langitku, aku hanya perempuanmu, yang akan ada di sampingmu
untuk berbagi dan temanimu hingga saatnya kita terpisah oleh usia...

Wednesday, March 28, 2012

Ketika Cinta


ketika cinta saja tak mampu satukan kita
ketika cinta saja tak mampu membuatmu hadir di sisiku
ketika cinta memberi ruang bagi yang lain di hatimu
ku memilih doa
entah berapa rapal doa 
kulantunkan atas namamu
dan ketika cintaku saja tak cukup untukmu
ku berharap Sang Maha Memberi Cinta 
juga memenuhimu dengan cintaNya


Monday, November 21, 2011

Menata Langkah Lagi, Esok kan Lebih Baik

Satu jam lagi hari berganti, bagiku lebih dari itu, bertambah usia juga. Biasanya aku selalu memacu diriku menuliskan keinginanku di masa depan. Tapi, sekali lagi tidak untuk tahun ini. Jujur saja aku bingung saat harus menuliskan apa resolusiku untuk tahun 2012. Karena hampir semua yang kuinginkan terjadi di tahun ini, 2011, tidak terjadi. Ijazah belum di tangan, Usaha belum ajeg, Belum bisa membahagiakan orang tua, Tak ada rencana pernikahan yang terjadi hingga saat ini, tak ada apa-apa.

Itu jika aku terus saja mencari-cari cela untuk usiaku yang akan segera lewat ini. Tapi sungguh, aku ingin masa depanku jauh lebih baik saat ini. Dan aku harus bersyukur pada satu hal yang kembali datang dalam hidupku. Allah mungkin tak banyak menuruti pintaku tahun ini. Tapi Allah memberikan satu hal yang mungkin sangat aku butuhkan saat ini. Mengirimnya kembali dalam hidupku.


Allah SWT tidak akan memberikan apa yang kita mau tapi apa yang kita butuhkan
Begitu kan yang sering terdengar...
Allah mengirimnya kembali padaku di tahun ini. Inilah kado yang paling berarti di hari ini. Mengisi kekosongan hati yang selama ini aku rasakan. Mungkin Allah sudah bosan melihatku setiap hari menangis.


Dan, jika saat ini aku mengeluh karena banyak hal yang tidak terjadi dalam hidupku, betapa kurang ajarnya aku.

Usia baru telah menantiku, ada dua hal yang pasti dan harus aku lakukan di sisa usiaku. Pertama, sah menjadi istrinya dan yang kedua dan yang terpenting, membuat orang tuaku tersenyum dan bangga padaku. Hanya itu saja. Cukup.

Keinginanku sederhana, kan? Aku nggak akan minta  perhiasan berlian, rumah mewah, mobil bermerek, uang banyak. Hanya dua hal itu saja Ya Allah... Karena dua hal itu yang mampu membuatku bertahan menghadapi situasi sesulit apapun. Karena mereka, orang tua, keluarga dan dia adalah nyawa dari langkahku menggapai mimpi.

Happy Birthday to My Self, Make Your Dream Come True and Make the others proud of you



Saturday, September 03, 2011

Itu Hal yang Berbeda

itu hal yang berbeda...

by Neng Nunung on Monday, August 15, 2011 at 2:43pm
entah kegilaan macam apa yang kurasa
entah kesetiaan macam apa yang kupunya
entah kepercayaan seperti apa yang ku pegang
entah...

dosa masa lalu selalu mengejar
    ke manapun ku melangkah
kegelisahan akan kesalahan
   yang entah mengapa selalu memenjarakan langkahku

aku mencintaimu itu satu yang pasti
tapi memelihara setia dan percaya
menepis luka dan menjemput bahagia
itu hal yang berbeda

Entah mengapa seakan begitu sulit bagi kita
tuk sekedar ucapkan janji bersama
tuk sekedar melangkah menuju altar suci
apa begitu hinanya kita
hingga tak satu malaikatpun restui kisah kita

aku mencintaimu itu satu yang pasti
tapi membuatku jadi makmummu itu hal yang berbeda
mengapa terasa begitu berat langkah kita
berjalan di titian yang diridhoi Allah
apa tak ada nama kita berjodoh di Lauhul Mahfudz

aku mencintaimu
sekarang dan selamanya itu satu hal yang pasti
tapi membuatmu yakin bahwa kita bisa lalui hidup berdua
selamanya
itu hal yang berbeda...

mengapa tak bisa begitu saja
melangkah ke altar suci
dan biarkan waktu menuntun langkah kita
mengapa restu itu seakan enggan turun dari langit...

aku mencintaimu itu satu yang pasti
tapi membuatmu tak lagi ragu dan berpikir
atas hubungan kita
itu hal yang berbeda...


Thursday, June 02, 2011

Kaulah Jodohku

ketika tangan telah tertaut
     pun begitu juga hati
ketika cinta tak lagi sekumpulan aksara
     melainkan sebuah rasa
ketika cinta tak melulu bicara romansa
     namun juga samsara
hingga pada masa itu ku menunggumu
tuk menjemputku
menjemput pengantinmu
aku ingin namaku disebut saat ucap ijab itu
     terlafadz dari bibirmu
belahan jiwwamu dalam mengarungi alur hidup
rahim kehidupan bagi keturunanmu
jika hanya kata cinta saja
     belum cukup
maka izinkanku mengatakan
    kaulah jodohku

:) cinta tak pernah keman-mana kan a'?

Selamat Datang Kembali, Sayang...

penantian bertahun
dan semua terbalas dengan sempurna...
inilah yang selalu kukatakan
tentang cinta, kesabaran, dan keikhlasan...

tahun-tahun terlewat
aku tak akan menipumu, kalau di waktu-waktu yang tlah lewat
kalau aku berusaha begitu keras
untuk menggantimu dengan dengan yang lain
tapi aku gagal a'...

tapi sudahlah...
tak ingin lagi aku menguak masa lalu kita...
sekarang ini...
aku siap menyambut kepulanganmu, sayang...

awalnya aku sedikit tergagap dengan
semua perhatian yang hadir darimu
pertanyaan-pertanyaan sederhana
sekedar
"neng udah makan belum, ndang maem trus minum obat"
atau
"semangat ya sayang, hati-hati di jalan"
kembali menemani hari-hariku

jalan kita ke depan akan jauh lebih rumit dari sebelumnya
tapi entah mengapa, aku merasa kita mampu melaluinya kali ini
tautan tangan kita lebih erat dari sebelumnya
mimpi kita jauh lebih nyata dari sebelumnya
doa kita jauh lebih seirama...

kita kembali menyatu sebagai dua orang dewasa...
dua orang yang pernah berbuat salah di masa lalu
dua orang yang ingin memperbaiki semua yang mereka hancurkan...

neng sayang a', dulu dan insyaallah selamanya...
maka yang terjadi hari ini
adalah jawaban dari semua doa dan sujud yang panjang dalam bentangan sajadah
dan aku begitu dikuatkan saat akhirnya kamu berkata
"Insyaallah, a' siap menjadi imam untuk neng"

beriringan dengan tangan bertaut
kita akan saling menguatkan untuk melewati semua...
selamat datang kembali, sayang...



Sunday, May 15, 2011

Semata-mata Kisah

sejak awal kau muncul kembali dalam hidupku
tak secuil mimpi pun kau tawarkan padaku
hanya senyum
kebahagiaan
kepercayaan
semua nyata...
kau memberiku tangan untuk berpegangan
pundak untuk bersandar
hanya hal-hal sederhana
ya kan, mas?

kau menggenggam tanganku tuk seiring langkah denganmu
kau membuatku terjaga dan mulai wujudkan setiap detail mimpiku
kau membuatku percaya, cinta tak lagi bicara tentang masa lalu
      tapi masa depan...

jika kali ini aku berkata
bahwa aku mencintaimu
maka ini bukan semata-mata lenaan rasa romansa
jika kali ini aku siap untuk menantimu
mengucap janji atas namaku
maka ini bukan semata-mata igauan dalam mimpi

قَبِلْتُ نِکَاحَهَا وَ تَزْوِيْجَهَا عَلَي الْمَهْرِ الْمَذْکُوْرِ وَ رَِضِْیتُ بِهِ وَ اللهُ وَلِيُّ التَّوْفِیْقِ
Qobiltu Nikahaha wa Tazwijaha alal Mahril Madzkuur wa Radhiitu bihi, Wallahu Waliyut Taufiq

aku tak ingin menerbangkan anganku jauh ke langit ke tujuh
aku ingin menjejak bumi
hingga nanti tiba waktunya
kau menjemputku sebagai pengantimu...

aku mencintaimu semata karena Allah SWT
maka aku hanya izinkan kisah kita berjalan
di jalan kebaikan untuk menebarkan manfaat dan kebaikan...
jika pada Lauhul Mahfuz kita telah ditakdirkan berjodoh
maka aku siap menjadi makmummu...
jika tidak, semoga langkah yang kita lalui tak menjadi fitnah di kemudian hari...


Monday, May 09, 2011

Catatan Hitam


sebuah catatan hitam tentang kisahku

lagi, tentang sebuah kehilangan...

Kita tak akan pernah siap atas sebuah kehilangan, perpisahan, kematian, atau apapun namanya.
Padahal sesungguhnya, ia, aku, kamu, kita semua sadar tak ada yang pernah abadi di atas dunia ini
selain Sang Pencipta...

Sebenarnya aku benci menuliskan lagi tentang sebuah kehilangan. Mungkin karena aku, dalam hidupku, banyak mengalami kehilangan. Tapi, entah mengapa kali ini aku tergerak untuk menuliskan kisah ini. Kisah penantian panjang seorang perempuan yang ingin kembali melahirkan kehidupan dari rahimnya. Untuk menemani hari-harinya yang jauh dari sang lelaki.

Perempuan ini memilih untuk menikahi laki-laki yang kemungkinan akan lebih banyak menghabiskan waktunya di lautan daripada bersamanya. Tak ada yang salah dengan perjodohan ini. Karena memang takdir telah mempertemukan mereka. Kehidupan berjalan penuh dinamika. Meskipun satu sama lain jarang bersua raga, tak sebutir kesetiaan dan kepercayaan luntur dari keduanya.

Tak ada konflik berarti, hingga... peristiwa kemarin. Sang perempuan kehilangan janin dalam rahimnya. Janin yang diharapkan lahir sebagai buah hati yang mereka idamkan. Kabar itupun sampai ke negeri seberang, di telinga sang lelaki. Lelaki yang nampak tangguh tak tergoyahkan, akhirnya luruh juga. Ia menangis... dan kami pun larut dalam sedih.


Tak satupun dari kami siap dengan kehilangan ini.
Pun denganku
Mungkin, jika sang janin itu tak sempat terlahir...
Itu satu cara agar kesuciannya terjaga....


Friday, April 15, 2011

Aku Pemenangnya...

pemenang adalah
ia yang tegak berdiri dan tersenyum 
di akhir permainan...

Itu yang pernah kutuliskan beberapa waktu lalu. Dan, aku baru benar-benar meresapi semua itu belakangan ini.
Kini, aku tak lagi ingat seberapa sakit luka yang pernah kau torehkan.
Aku juga tak lagi menangis, saat mendengar, melihat, atau bersinggungan dengan apapun tentangmu.
Justru sekarang, aku lebih banyak bersyukur. Bersyukur karena aku masih diberi kekuatan untuk bertahan hingga kini. Tak hanya bertahan, tapi kekuatan untuk bangkit pun tercurah padaku.
Memang, aku tak dapat katakan aku sepenuhnya bahagia atau hidupku mudah-mudah saja. Tapi semua itu tergantikan dengan rasa syukur dan ikhlas.
Mungkin benar, saat kita menyerahkan semua yang terjadi kepada Allah SWT dan ikhlas, maka langkah akan lebih ringan.

Sampai titik ini, aku bisa katakan, Aku Pemenangnya, A'...
;)



















Wednesday, April 13, 2011

Menunggu Pinangan Tuhan

cinta...
untaian aksara macam apa kau itu
kau datang tiba-tiba
menghilang pun tanpa jeda sejenak
cinta...
tak pernah mampu mereka-reka kedalamannya
bagaimana mungkin
cinta yang pada mulanya begitu kuat, menggebu, bergelora
mendadak hilang dan pupus
atau kebencian yang mengakar seketika redam
dan menjelma menjadi cinta dan sayang...
seseorang berkata
karena aku melihat Tuhan dalam dirinya, maka aku mencintainya
haruskah Tuhan merendahkan diri dan menjelma serupa manusia
agar aku, kamu, dia, mereka benar-benar menemukan cinta...
karena sungguh, entah untuk alasan apa
aku benar-benar ingin menemukan cinta

jika demikian,
haruskah aku menunggu pinangan Tuhan?
atau pertanyaan mungkin harus diganti,
mungkinkah aku melihat Tuhan pada diri seseorang...
sehingga aku dapat temukan dan rasakan

apa itu cinta...

namun, menunggu pinangan Tuhan???
ah... untuk sekedar menunggu saja aku sudah segan...





*inspirasi ringan dari sebuah film India yang dibintangi Sharukh Khan, 12 April 2011

Tuesday, April 05, 2011

Persimpangan

aku berada persimpangan
dan menunggu
entah siapa, apa, dan kapan penantian ini berakhir
entah percuma atau tidak
menunggu seseorang yang terus sibuk dengan pilihan
entah mengapa,
slalu aku tertambat pada ia yang mempunyai banyak pilihan...
entah aku atau siapa yang terpilih
yang kuyakin tak ada yang percuma untuk sebuah penantian
...
aku tak bangga menjadi yang pertama di hidup seseorang
yang kumau
menjadi terakhir dan satu-satunya
maka kini...
kulepaskan kau terbang bebas
hingga nanti kau lelah dan mencari jalan pulang
temui aku di persimpangan ini



Monday, April 04, 2011

yang hendak kutuliskan untukmu

ada jeda di antara kita
tak jauh
tapi cukup membuatku tersiksa
tak bisa memelukmu di saat bahagia ini
ada yang hendak kutuliskan untukmu
tentang sebuah rindu
tentang sebuah kasih yang tulus
tentang sebuah perayaan dan doa
tentang kamu

tapi tunggulah sejenak
karena saat ini semua kataku kelu
karena aku hanya ingin ada di sampingmu


happy birthday dear Langit


Ketika Yang Tersisa Hanyalah Air Mata

Hey kamu... Iya kamu... Kamu yang dulu datang lagi dalam hidupku dengan janji tuk tak lagi menghadirkan air mata di wajahku dengan jan...