
Dunia sastra Indonesia terus saja dibanjiri karya-karya yang “tidak
biasa”. Sejak kemunculan Ayu Utami dengan dwilogi Saman dan Larung yang
mengumbar seksualitas secara apa adanya. Makin banyak saja
penulis-penulis yang berani mengungkapkan hal yang selama ini selalu
dianggap tabu, yaitu seksualitas. Seiring dengan hal itu, selain
banyknya muncul karya yang mengeksploitasi tubuh dan seks, juga mulai
terdapat beberapa karya yang mengusung wacana homoseksualitas.
Mungkin
memang bukan menjadi hal yang baru jika terdapat wacana homoseksualitas
dalam fiksi Indonesia. Karena pada sekitar taun 1970-an, tepatnya 1974,
muncul sebuah karya yang juga mengusung wacana homoseksualitas. Yatu
pada karya S.N. Ratmana yang berupa cerpen dengan judul Sang Profesor.
Setelahnya terdapat karya-karya penulis sekelas Seno Gumira Ajidarma,
Gus Tf Sakai, Agus Noor dll.
Lantas kemudan muncul sebuah antologi
cerpen di tengah-tengah masyarakat dengan mengusng wacana
homosesualitas secara total yang dihasilkan baik itu dari penulis yang
telah mengaku bahwa dirinya gay/lesbi dengan yang “normal”. Antologi
cerpen dengan tajuk Rahasia Bulan, secara apa adanya membeberkan
kisah-kisah yang ada di sekitaran kaum homoseks. Salahkah, mereka yang
selama ini “dibuang” oleh masyarakat berusaha kembali dalam karya?
Selain itu apa dan bagaimana homoseksualitas itu sebenarnya?
Homoseksual
biasanya diartikan sebagai kelainan seksual berupa disorientasi
pasangan seksualnya. Disebut gay bila penderitanya laki-laki dan lesbi
untuk penderita perempuan. Sementara pihak lain berpendapat hal
tersebut adalah sesuatu yang alami atau wajar karena manusia sebenarnya
mempunyai potensi untuk menjadi heteroseksual maupun homoseksual. Jadi,
di sini homoseksual hanyalah salah satu dari preferensi atau orientasi
seksual.
Lantas kemudian, apa sebenarnya penyebab seseorang
disorientas seksualnya? Terdapat berbagai versi tantang penyebab
seseorang kemudian mendefinisikn diri sebaga kaum homoseks. Menurut dr.
Wimpie Pangkahila, dalam teori penyebab homoseksual, terdapat empat
kemungkinan penyebab homoseksual. Antara lain, pertama Pertama, faktor
biologis, yakni ada kelainan di otak atau genetik. Kedua, faktor
psikodinamik, yaitu adanya gangguan perkembangan psikoseksual pada masa
anak-anak. Ketiga, faktor sosiokultural, yakni adat-istiadat yang
memberlakukan hubungan homoseks dengan alasan tertentu yang tidak
benar. Keempat, faktor lingkungan, yaitu keadaan lingkungan yang
memungkinkan dan mendorong pasangan sesama jenis menjadi erat.
Pada
faktor yang pertama adanya ketidakseimbangan jumlah hormon pada diri
seseorang sejak lahir. Jumlah hormon wanita cenderung lebih besar
daripada laki-laki. Atau sebaliknya. Hal yang demikian ini akan
berpengaruh terhadap sifat dan perilaku individu tersebut. Jika dia
laki-laki yang memilik hormon wanita berlebih maka jati diri kewanitaan
biasanya lebih kuat, sehingga mereka cenderung berperilaku feminin dan
selalu tertarik terhadap aktivitas yang dilakukan wanita. Ataupun
sebaliknya. Individu yang menjadi gay karena faktor tersebut biasanya
tidak bisa kembali normal. Tapi, sifat gay/lesbi tersebut bisa
berkurang frekuensinya. Tentunya, diperlukan usaha yang keras.
Misalnya, tidak bergaul lagi dengan kaum homoseks, punya keyakinan yang
kuat, dan harus tahan segala godaan.
Pada faktor yang kedua, berupa
gangguan perkembangan psikoseksual pada masa kecil atau sebagai reaksi
psikoseksual untuk mengatasi masalah dan kehidupan heteroseksual. Pada
kasus ini, kemungkinan yang terjadi adalah pada masa kecilnya individu
tersebut mengalami pelecehan seksual baik fisik maupun psikis. Sehingga
menimbulkan trauma. Trauma inilah yang pada nantinya memicu perilaku
homoseksual..
Pada faktor ketiga, ada beberapa adat dan budaya yang
membenarkan adanya perilaku homoseks. Dalam kasus ini, para pelaku
homoseks biasanya telah dapat diterima oleh masyarakat. Bahkan pada
beberapa adat, pelaku homoseks merupakan dukun adat. Sedangkan pada
faktor keempat, Kedua, faktor lingkungan, yaitu komunitasnya lebih
sering bertemu dengan laki-laki dan amat jarang bertemu dengan wanita.
Selain itu, ada juga dari mereka yang terlibat dalam kehidupan gay
semata-mata karena gaya hidup dan materi. Biasanya mereka berawal dari
coba-coba untuk berhubungan dengan sesama jenis dengan imbalan uang.
Jenis gay ini bisa hilang bila mereka telah menemukan pasangan hidup
wanita. Atau, mereka keluar akibat terkena penyakit kelamin. Dan juga,
gay tersebut dapat kembali sebagai lelaki sepenuhnya bila punya
komitmen kuat untuk menjauhi kehidupan gay.
Penjelasan singkat di
atas kiranya dapat sedikit memberikan ruang untuk kita berpikir
positif. Bahwa, kaum homoseksual it ada di sekitar kita. Dengan pola
kehidupan dan perilaku yang mungkin berbeda dengan kaum heteroseksual.
Sejenis ataupun lawan jenis, harusnya hal tersebut ditempatkan sebagai
sebuah pilihan yang berhak digunakan oleh setiap individu. Tinggal
bagaimana individu tersebut mempertanggungjawabkan pilihannya.
Terkait
dalam hal itu, pada antologi cepen Rahasia Bulan, banyak ditampilkan
kisah seputar kehidupan kaum homoseks. Ada individu lesbian yang dia
“terperangkap” dalam kehidupan perkawinan normal. Atau dilematis
seseorang yang pada ahirnya ia “sadar” bahwa ia seorang homo. Atau
kisah tentang seorang yang terjebak dalam kehidupan “gay” yang mulai
mencari pola ukuran dalam hubungan para gay. Ada yang berdasarkan size
matter, power matter, dan love matter. Semua kisah-kisah itu terbuka
dan seakan-akan sap untuk dibaca oleh siapapun.
Mungkin antologi
ini dapat dijadikan sebuah alat “berbicara” bagi kaum homoseksual yang
selama ini cenderung “dihilangkan” dari peta kehidupan. Mulai gencarnya
LSM-LSM yang mencoba untuk memperjuangkan hak-hak kaum homoseks.
Ataupun diskusi-diskusi terbuka yang membahas tentang homoseksual.
Sedikit banyak telah menunjukkan bahwa sebagian masyarakat Indonesia
telah mulai terbuka tentang keberadaan homoseks. Walaupun harus diakui
masih banyak yang bersifat konservatif terhadapnya.
Sastra masih
merupakan media yang efektif untuk upaya resistensi terhadap stigma
yang telah berkembang dalam masyarakat untuk berbagai persoalan.
Termasuk halnya mengenai homoseksualitas. Karena masih beredarnya
anggapan bahwa sastra adalah sesuatu yang bebas nilai. Di luar hal itu,
jika nantiya terdapat penilaian terhadap karya sastra tersebut hanyalah
sebagai upaya apresiasi, resepsi, ataupun penelitian.
Perjuangan
dan resistensi kaum homoseks masih berlangsung. Salah satu goal mereka
adalah bangsa ini menerima secara wajar keberadaan mereka dan
meminimalisir adanya diskriminasi. Hal ini mulai dilakukan dengan mulai
terbukanya mereka dalam menunjukkan identitas mereka dan juga turut
mengambil peranan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Sekarang
banyak kita temui para gay/ lesbi yang berprofesi sebagai dosen,
pengusaha, dokter, pengacara, atau profesi di dunia hiburan.
Peran
masyarakat lainnya yang “mengaku” sebagai heteroseksual sebenarnya
sangat mudah. Menempatkan secara proporsional keberadaan mereka sebagai
individu yang sama dengan individu lainnya. Hal ini diperlukan
pemikiran yang terbuka, moderat, dan positif. Dukungan dari masyarakat
lainnya ini diperlukan karena perlawanan mereka pada dasarnya adalah
perlawanan terhadap pola pikir masyarakat dan budaya umum yang
berkembang. Kaum homoseks mulai terbuka dengan keberadaan mereka. Jika
masyarakat umum juga mulai terbuka dengan keberadaan mereka. Tinggal
nantinya bagaimana memberdayakan potensi setiap individu bangsa
Indonesia untuk memajukan bangsa ini tanpa membedakan ras, etnis,
gender, status,dll. Dan sastra, dapat dijadikan salah satu sarana untuk
melakukan resistensi dan perjuangan tersebut.