Showing posts with label Buku. Show all posts
Showing posts with label Buku. Show all posts

Monday, February 11, 2013

Sejatinya Cinta




 

Saya selalu jatuh cinta pada kisah cinta sejati.
Masih ingat posting saya yang ini kan?

http://akuperempuanlangit.blogspot.com/2010/05/kesetiaan-itu-langka-tapi-ada.html


Siapa sangka, kepiluan Eyang Habibie ditinggal oleh Eyang Ainun berbuah karya yang mampu membuat kita meresapi keagungan cinta sejati. Berawal dari diagnosis dokter bahwa Eyang Habibie mengalami penyakit kejiwaan yang dinamakan Psikosomatik Malignant, yang dapat merenggut kesadaran dan menurunkan kesehatan Eyang Habibie. Dokter dari Jerman dan Indonesia pun memberikan alternatif pengobatan, salah satunya dengan menuliskan dan mengungkapkan perasaan dan kegalauannya.
Alhasil, berbuahlah sebuah karya buku berjudul Habibie & Ainun, dan ternyata kemudian dikembangkan dalam film dengan judul serupa.

Aku selalu percaya bahwa menulis mampu menjadi terapi untuk pemulihan luka, terlebih luka psikis atau batin. Apa yang mungkin dialami oleh Eyang Habibie juga pernah saya alami. Bedanya kalau Eyang Habibie menuliskannya dalam bentuk buku, kisah saya tertuang dalam blog ini.

Cinta sejati memang hanya dapat kita definisikan jika nantinya hanya maut yang memisahkan keduanya. Mengapa kisah cinta Eyang Habibie dan Ainun terkesan lebih meresap ke lubuk hati dan menyentuh bagian terdalam siapapun yang membaca atau menonton kisahnya? Mungkin jawabannya adalah karena faktor kedekatan. Their love story is real. Mungkin Layla Majnun atau Romeo dan Juliet memiliki kisah yang sama memilukan tentang kisah cinta sejati, tapi di mana mereka, jauh dari jangkauan akan dan indera dari kita masyarakat awam di Indonesia.

Berkali-kali melihat dan menyimak bagaimana eyang Habibie mengisahkan betapa beliau mencintai eyang Ainun, membuat saya berulang kali terhenyak. Ada yang meleleh dari dalam sanubari saya. Ada yang mengusik ketenangan kesadaran saya.

Cinta mereka begitu agung terlihat, seperti dongeng pengantar tidur tepatnya. Tapi mereka nyata.

Sejatinya cinta memang harus demikian, sesakit apapun rasanya ketika mereka terpisahkan oleh maut, selalu ada cerita yang indah. Bahkan setiap gamitan tangan keduanya, posisi tidur di tempat tidur, amarah kecil, selalu menjadi indah untuk dikisahkan.

Sejatinya cinta, akan selalu menjadi indah, pertemuan atau perpisahan, tak pernah benar-benar menjadi luka sedih, hanya bagian dari kisah indah.

Ah... sejatinya cinta...


 

Monday, September 20, 2010

Ketika Laki-laki Mengisahkan Tentang Rahim

Rahim, Sebuah Dongeng Kehidupan
Sebuah novel yang mampu membuatku terpaku membacanya hingga beberapa lama. Mungkin terdengar klise atau terlalu berlebihan. Tapi ya... katakanlah setiap karya akan memiliki nilai "lebih" ketika nilai-nilai yang coba disampaikan penulis melalui karyanya itu dapat diterima oleh pembacanya. Atau ketika sang pembaca merasa memiliki ikatan dengan karya tersebut mungkin karena karya tersebut laksana cermin bagi kehidupannya.
Dari sekian banyak karya yang kubaca, Rahim karya Fahd Djibran mampu mengaduk-aduk emosiku bahkan sejak melihat sampulnya saja. Meskipun sejak sebelum memutuskan untuk membeli dan membaca novel ini pun aku sudah berasumsi bahwa aku akan mudah takluk dengan kisah-kisah seputar kelahiran, kehamilan, kehidupan baru, rahim, bayi, aborsi, dan sebagainya. Dan asumsiku pun benar (semoga aku tak pernah salah menafsirkan apa yang kurasakan).
Mungkin kalian bertanya, apa istimewanya novel Rahim ini? Beberapa tahun silam aku pernah membaca karya serupa dengan Rahim, kalau tidak salah berjudul Fetussaga karya Jamal. Mengapa aku bilang serupa, hal ini karena kedua novel ini sama-sama berkisah tentang kehidupan di dalam rahim Ibu. Lantas apa istimewanya novel Rahim? Ada beberapa hal yang mungkin menurut saya Rahim karya Fahd Djibran ini memiliki "rasa" yang berbeda.
Yang pertama karena Fahd meramu semua informasi yang ia ketahui tentang kehamilan dan dunia rahim menjadi sebuah novel dengan gaya penceritaan yang "berbeda". Ia menjejali pembaca dengan berbagai informasi "medis", nilai-nilai moral, pesan cinta, dll dengan cara mendongeng dan mengajak pembaca berdialog. Hal ini secara tidak sadar mampu mengikat emosi pembaca untuk terus larut dalam dongeng yang ia sampaikan.
Kedua, berkaitan dengan poin sebelumnya, banyaknya informasi yang diberikan dalam novel ini serta dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi yang ada di dalamnya membuat pembaca secara mudah memvisualisasikan imajinasi mereka. Bagiku, kekuatan Fahd dalam novel ini adalah ia mampu mendeskripsikan secara detail apa saja yang mungkin terjadi di dalam rahim.
Yang selanjutnya ini mungkin terdengar begitu subjektif. Seperti yang sempat kusampaikan di awal catatan ini, sebuah karya akan mempunyai nilai lebih ketika sang pembaca merasa memiliki ikatan terhadap karya tersebut. Aku menangis, sejak awal membaca novel ini. Untuk kali ini, aku tak dapat menafsirkan arti tangisan itu. Kisah di awal novel yang menggambarkan beragamnya reaksi laki-laki tentang sebuah kehamilan. Ada yang berbinar bahagia, ada pula yang dingin menolak. Atau kisah lain tentang banyaknya pasangan yang melakukan aborsi karena tidak siap menjadi orang tua atau kisah pasangan yang puluhan tahun tak mendapat keturunan. Dari situ saja perasaan saya sudah diaduk-aduk.
Semakin banyak lembar-lembar yang kubaca. Yang kurasakan adalah ngilu, entah bagian mana dari tubuhku yang begitu sakit serasa tercabik-cabik.
Novel ini, semakin membuatku percaya bahwa setiap anak yang dititipkan pada rahim kita, entah apakah ia buah dari ritual suci yang diiringi doa ataupun buah dari apa yang dianggap sebuah kesalahan, adalah sebuah anugerah yang layak untuk diperjuangkan dan dipertahankan.
Aku kagum pada Fahd, seorang laki-laki, suami, dan calon ayah, yang berusaha memaknai setiap detik hadirnya calon buah hatinya di rahim istrinya dan menuangkannya pada sebuah karya yang indah. Andai semua laki-laki mampu menyadari betapa berartinya menjadi seorang ayah dan orang tua. Andai semua laki-laki menghargai setiap kehidupan yang hadir di rahim perempuannya. Andai semua orang, laki-laki dan perempuan, tidak berbuat bodoh dengan menghilangkan kesempatan sebuah kehidupan untuk terlahir di dunia. Andai semua orang, laki-laki dan perempuan, menyadari bahwa apapun kesalahan mereka, seorang anak yang baru terlahir adalah manusia suci tanpa dosa. Andai saja... mereka membaca novel ini, jauh sebelum mereka memutuskan untuk mengaborsi janin, membunuh anak-anak mereka yang baru terlahir, meninggalkan perempuannya yang tengah hamil dalam kekalutannya seorang diri, menyia-nyiakan kehidupan yang dititipkan Tuhan pada mereka... Andai saja....
Andai semua itu terjadi, maka tidak akan ada kisah-kisah menyakitkan lagi tentang anak-anak yang ditolak, anak-anak yang dibunuh, janin-janin yang berguguran. Tidak akan ada lagi keputus asaan...
Ketika laki-laki mengisahkan tentang rahim, maka seharusnya kisah itu tak hanya habis dalam lembar-lembar yang mungkin akan usang seiring dengan waktu. Tapi kisah ini harus terus dikabarkan dari satu orang ke orang lain, dari perempuan satu ke perempuan lain, laki-laki satu ke laki-laki lain, anak satu ke anak lain. Dan ketika kisah ini terus terus terkabarkan, Rahim bukan lagi menjadi sebuah dongeng tentang kehidupan. Tapi akan berubah menjadi sebuah kesadaran massal atas pentingnya sebuah kehidupan bahkan sejak berada di dalam rahim.


ps:
1. Ada sebuah catatan lama yang kutemukan kembali sembari aku membaca Rahim, aku pikir jika Rahim  diceritakan oleh laki-laki, maka catatan ini adalah kisah dari seorang perempuan, silahkan intip di sini
2. Catatan ini juga bisa dilihat Rahim Semesta

Sunday, May 16, 2010

Kisah-kisah Perempuan oleh Perempuan

Gairah penulisan karya sastra kembali bangkit pada di Indonesia dekade ini. Terlebih karya sastra yang berbau perempuan dan feminis. Entah yang memang mempunyai muatan cerita mengenai dunia perempuan atau karya sastra yang dilahirkan dari “rahim” perempuan. Dari negeri sendiri terdapat beberapa nama misalnya Djenar Maesa Ayu dengan karya terbarunya Nayla, Herlinatiens dengan beberapa karya terdahulunya Garis Tepi Seorang Lesbian dan Dejavu, Ayu Utami dengan Saman dan Larung juga beberapa sastrawan lainnya yang semakin hari semakin banyak yang suka membongkar-bongkar dunia perempuan dalam karya-karyanya. 
Rupanya fenomena ini dapat dibidik dengan baik oleh Penerbit Jalasutra, yang beberapa terbitannya adalah karya-karya terjemahan, untuk ikut serta menghadirkan dunia perempuan dari sisi dunia yang berbeda, pada buku terbitannya kali ini. Dengan mengusung tematis tentang cerpen perempuan, antologi ini berisikan cerita-cerita mengenai kehidupan perempuan yang ditulis oleh 11 pengarang terkemuka dunia yang pernah mendapat penghargaan di dunia kepenulisan atau Nobel Sastra. Antara lain terdapat nama-nama seperti Virginia Woolf asal Inggris, Uyen Leowald asal Vietnam, Angeles Mastretta asal Meksiko, serta beberapa nama lainnya.
Para pengarang perempuan ini menyuguhkan cerita yang cukup apik mengenai kehidupan perempuan sesuai dengan kultur budaya mereka masing-masing. Hanya saja, pada cerita-cerita yang mereka usung kurang menunjukkan adanya “girl power”. Hanya ada beberapa cerpen yang menyiratkan adanya ketangguhan seorang perempuan yaitu pada cerpen Seorang Perempuan yang Jatuh Cinta Pada Laut karya Angeles Mastretta. Perempuan pada cerpen ini digambarkan sebagai seorang perempuan yang teguh pada pendiriannya dan rela meninggalkan keluarganya demi terwujudnya keinginannya yaitu melihat laut.
Cerita lainnya pada antologi ini lebih banyak memperlihatkan kehidupan perempuan, dengan beragam karakter yang dimiliki oleh masing-masing tokoh, yang “gak neko-neko”. Mereka seakan-akan hanya tunduk saja pada apa yang telah digariskan padanya dan menerimanya tanpa perlawanan yang berarti. Hal ini terlihat pada beberapa cerpen seperti Putri dari Polis karya Irena Adamidou, yang memperlihatkan ketundukkan seorang anak pada ibunya yang mengakibatkan masa depannya hancur. Atau pada cerpen lainnya yaitu Sprei Linen karya Dacia Maraini, cerpen ini menceritakan tentang seorang istri yang “tenang-tenang” saja ketika suaminya pulang dengan membawa perempuan lain. Ia juga tak bereaksi apa-apa ketika ia diperlakukan seperti pembantu di rumahnya sendiri. Namun, ia bereaksi keras ketika istri baru suaminya merusak sprei linennya. Serta beberapa cerita lainnya yang memiliki kekhasan pada setiap karakter tokoh perempuan yang dimiliki.
Meskipun pada antologi ini, kurang menunjukkan adanya kesetaraan hak antara perempuan dan laki-laki. Namun, kehadiran antologi yang “cukup ringan” ini memberikan sentuhan baru pada dunia sastra perempuan di Indonesia. Dengan berbagai warna dan karakter yang dibawa oleh masing-masing pengarang, sedikit banyak mungkin akan dapat memberikan inspirasi bagi sastrawan Indonesia untuk menampilkan karya yang lebih beragam.
Antologi ini cukup ringan untuk dibaca. Bagi perempuan Indonesia baiknya buku ini dijadikan sebagai pandangan baru untuk tidak lagi hanya pasrah pada apa yang telah digariskan untuknya. Berusaha dalam hidup untuk mendapatkan apa kita kehendaki itu sah-sah saja. Pada dasarnya perempuan mempunyai kesamaan hak dan kewajiban dalam hidup ini setara dengan laki-laki. 
Be a strong woman, why not?

Sebuah Fantasi atas Kepedihan Realita

:: Ulasan Potongan Cerita di Kartu Pos karya Agus Noor

Di lembar ini saya mencoba sedikit memberikan komentar atau ulasan atas  kumpulan cerpen terbaru dari Agus Noor—Potongan Cerita di Kartu Pos—yang jujur saja karya-karya Agus Noor terdahulu pun belum saya baca. Dengan begitu pengalaman pembacaan saya atas karya-karya Agus Noor sangat kurang. Saya hanya mengandalkan pengalaman pembacaan saya atas karya sastra lain atau pembacaan saya atas hidup. 

Satu hal yang pasti saya perhatikan dari sebuah buku adalah sampulnya. Saya tertarik dengan sampul atau cover buku ini. Konsep desain sampul itu sangat menarik. Sederhana namun penuh makna. Itu yang saya tangkap. Mengambil konsep sesuai dengan judulnya, berhubungan dengan kartu pos. Desain sampulnya pun mengadopsi konsep tersebut.

Satu daya tarik yang kuat adalah gambar lain di sampul tersebut. Yaitu gambar perempuan “peri” dengan busana hitam yang menengadah menuju cahaya. Saya lantas bertambah penasaran untuk membaca. Karena menurut asumsi saya, desain sampul pasti terkait dengan isi di dalamnya. Peri berbusana hitam entah mengapa saya identikkan dengan sesuatu yang buruk. Entah apakah, cerpen-cerpen di dalamnya berisikan tragedi atau apa.

Sayapun beranjak dari hanya sekedar melihat desain sampul kemudian mulai membaca cerpen-cerpen di dalamnya. Saya mengalami beberapa kali keterkejutan ketika membaca kumpulan cerpen ini. Betapa tidak, pengarang menawarkan cerita-cerita yang dengan khayalan tingkat tinggi  atau fantasi pengarang yang luar biasa di setiap cerpen. Pun ketika Agus Noor mencoba memotret realitas sosial kehidupan masyarakat yang berkembang dewasa ini.

Saat bercerita tentang penderitaan rakyat karena semua kebutuhan pokoknya tak dapat terpenuhi. Kelaparan dan bau kematian ada di mana-mana. Ketika mereka kaum-kaum yang terlupakan itu sudah tak tahu kemana mereka harus mengadu dan meminta pertolongan. Mereka pun mulai terbiasa menyimpan sendiri penderitaan dan tangis mereka. Dan tanpa mereka sadari bulir-bulir airmata mereka mengkristal (Potongan-Potongan Cerita di Kartu Pos hal 112).

Cerita yang menurut saya mencengangkan. Agus Noor berani menyulap dongeng tentang butiran air mata kristal dan disandngkan dengan dua cerita sekaligus yang menurut saya hasil pembacaannya pada dunia nyata. Bagaimana tidak, gosip perselingkuhan Ahmad Dhani dan Mulan terhadao Maiya  juga turut ditempelkan belum lagi cerita tragis masyarakat marginal dengan segala kekurangannya.

Atau kita bisa lihat kegilaan dan keliaran fantasi pengarang pada cerpen yang berjudul Komposisi untuk Sebuah Ilusi. Begitu liarnya Agus Noor menggambarkan dua sosok yang berlainan 180° yang sama-sama mengalami stagnansi dalam hidup, mereka adalah penjual obat dan sebuah boneka maneken. Digambarkan pula bagaimana mereka berdua sama-sama mengkhayalkan melakukan persetubuhan.

Kadang ia juga berkhayal, -betapa suatu malam- ketika hypermarket ini tutup dan semua pertokoan menjadi lengang- laki-laki itu muncul begitu saja dari balik gelap, dan dengan tergesa dan bernafsu mencopoti pakaiannya, menngelus pahanya yang licin berkilat, meremas payudaranya yang kencang, hingga ia menggelinjang...(hal 4).

Sepertinya maneken itu ingin menyerahkan seluruh tubuhnya. Agar ia gagahi. Agar ia setubuhi. Ini tubuhku penuh berahi, nikmati. Maneken itu mendengus minta dijamah. Minta disesah. Bahkan maneken itu seperti menginginkan tubuhnya ia cacah-cacah! Ia merasakan kelaminnya mengeras. Dan ia pun mulai meremas...
(hal 8).

Kedua  kutipan di atas menunjukkan bagaimana hebat dan liarnya fantasi pengarang untuk membentuk sebuah cerita yang GILA. Paling tidak pengarang ingin menyampaikan ya...kalau tidak dapat memperoleh kebahagiaan di dunia nyata, apa salahnya ciptakan kebahagiaan di dunia khayal. Hanya saja ending yang tragis rupanya lebih dipilih pengarang. Mungkin sekali, ia ingin menunjukkan bahwa bermain-main dengan dunia khayal bukanlah solusi untuk menyelesaikan masalah kehidupan.

Namun saya melihat keGANJILan di kumpulan cerpen ini. Tentu saja saya tidak menyukai sesuatu yang ganjil, jadi jelas ini MENGGANGGU saya. Seorang pengarang akan sangat dihargai akan orisinalitasnya, baik itu dalam hal ide cerita ataupun gaya penulisan. Ya, walaupun hal itu tak sepenuhnya dapat dilakukan, karena akan selalu ada keterkaitan antara karya sastra satu dengan lainnya.

Tetapi ketika membaca cerpen ini saya sangat terkejut (lagi), bagaimana tidak saya menemukan bagian-bagian yang telah saya baca pada karya sastra lain. Pada cerpen Sirkus (hal 16), banyak saya menemukan karakter hasil comotan dari karya lain. Mulai dari hobbit hingga aragog dan sapu nimbus yang telah dahulu ada pada karya Tolkien dan JK. Rowling.

Pengarang mungkin berkeinginan untuk membuat cerita fantasi layaknya Tolkien dan Rowling hanya saja mengapa ia tidak membuat karakter sendiri. Mengapa harus mencomot karakter yang sudah “jadi”? Ketika saya membaca cerpen Sirkus dan menemukan karakter-karakter tersebut spontan saya berucap “halah...njiplak” Untungnya karakter-karakter itu bukanlah pusat dari cerpen ini. Melainkan pada “tubuh-tubuh melayang” yang tubuh dan kepalanya kosong karena riwayat kehidupan mereka yang serba kekurangan. Mereka diambil dari sebuah bangsa yang hilang dari peradaban. Jadi walaupun sebentar saya telah dikecewakan karena penyomotan karakter itu sedikit terkikis dengan muatan cerita secara keseluruhan yang coba diangkat oleh pengarang.

Di lembar lain saya lagi-lagi dibuat terkejut. Cerpen Puzzle Kematian Girindra mengingatkan saya pernah ada sebuah karya yang menggunakan teknik penceritaan yang demikian. Meloncat-loncat dari bagian satu ke bagian lain, halaman satu ke halaman lain dan pembaca dapat menentukan sendiri alur mana yang ia kehendaki plus jalan cerita yang berbeda juga di tiap pilihannya. Yup, dan ingatan saya tertumbuk pada GOOSEBUMPS karya RL STINE, kebetulan dulu saya penikmat Goosebumps jadi saya hafal betul bagaimana alur yang menjadi ciri di setiap serinya.

Tapi ternyata bagaimanapun karya yang orisinal biasanya tetap lebih baik. Bukan bermaksud untuk membandingkan tapi bagaimana lagi saya harus membandingkan. Goosebumps dengan formula yang dibuat RL. Stine, lebih terstruktur dan jelas, tidak membingungkan. Di bagian bawah halaman terdapat petunjuk yang dapat kita pilih. Dan akan ditemukan berbagai jalan cerita dan berbagai akhir penceritaan yang sama-sama menegangkan dan jelas. Tapi untuk cerpen karya Agus Noor, jujur saja saya kebingungan membacanya. Niatnya untuk mengadopsi gaya penceritaan RL. Stine, namun ia terhambat dengan platform cerita yang hanya cerpen. Sehinggga ia tidak bisa bermain-main ending, hanya bermain-main dengan alur yang bukannya menyenangkan dan menegangkan tapi pembaca dibuat kesulitaan dan kebingungan.

Di luar itu semua , ya...patut dihargai usaha pengarang untuk mencoba menghadirkan cerita-cerita fantasi yang tidak hanya mengandalkan keliaran fantasi. Tapi cerita-cerita fantasi itu digunakan untuk memotret realita kehidupan masyarakat yang kian hari semakin semrawut. Harga-harga yang semakin melambung, pengangguran, anak-anak yang kurang gizi, flu burung, hingga masa-masa maraknya demo mahasiswa. Semua peristiwa-peristiwa aktual dengan sempalan kritik-kritik terhadap pemerintah itu menjadi tidak lagi tragis untuk dibaca karena diwarnai dengan kisah-kisah fantasi yang mengkamuflasekan semua itu.

Ya, memang karya Agus Noor ini memang layak dapat acungan jempol, satu saja tapi. Karena betapapun gaya penceritaan dan cerita yang diusung memang menarik dan layak baca, tapi saya agak kurang respek dengan penyomotan karakter dan juga teknik penceritaan yang ada pada kumpulan cerpen ini.

But, over all that’s not bad. So, read this book and watch out your imagination.       
         

Thursday, November 26, 2009

Berlayarlah Perahu Kertasku ke Laut Lepas

~....berputar menjadi sesuatu yang bukan kita demi menjadi diri kita lagi...~

Penantian sekian lama akhirnya terbayar juga. Perahu Kertas novel terbaru Dewi Lestari kini sudah di tangan dan sudah pula selesai dibaca. Di halaman ini aku hanya ingin berbagi, berbagi tentang mimpi yang pasti akan terwujud suatu saat, berbagi tentang cinta yang menemukan jalannya sendiri untuk bersatu, berbagi tentang nilai-nilai pengorbanan dalam cinta, berbagi tentang air mata yang luruh ketika membaca lembar demi lembar novel ini. Aku hanya ingin berbagi tentang Perahu Kertas yang bukan hanya karya dari seorang Dewi Lestari tapi juga jawaban atas semua pertanyaanku selama ini...
Setiap novel baru Dee muncul aku selalu berasumsi bahwa akan ada nilai-nilai yang dileburkan ke dalamnya. Pun itu yang kudapatkan pada Perahu Kertas, karya terbaru dari Dewi Lestari. Perahu Kertas menyuguhkan kisah tentang Kugy dan Keenan yang masing-masing memiliki mimpi-mimpi. Mimpi yang mereka tahu jauh dari realita kehidupan yang mereka jalani. Mimpi yang muncul dari idealisme yang mereka bangun dari mereka masih bocah.
Kugy, sesesorang yang sangat menyukai dunia dongeng. Mimpinya adalah suatu hari ia dapat menjadi penulis dongeng. Mimpi yang sudah ia petakan sejak ia baru mulai mengenal kata-kata. Tujuan hidupnya sangat jelas, sehingga apapun yang ia lakukan sejak kecil adalah semata-mata untuk mewujudkan mimpinya. Mulai dari mengoleksi novel, buku cerita, komik, dll, membuat penyewaan buku di rumahnya, semua itu demi mewujudkan mimpinya untuk menjadi penulis dongeng.
Keenan, menjadi pelukis adalah impiannya. Ia mewarisi darah melukis dari Ibunya. Keenan yang untuk sementara tinggal dengan Omanya di Belanda semakin mencintai melukis. Dengan melukis, Keenan menemukan kedamaian, menemukan dunianya.
Kugy dan Keenan memiliki banyak kesamaan, mereka sama-sama eksentrik. Kugy dengan dandanannya yang berantakan. Keenan dengan rambut gondrongnya ala seniman. Sama-sama berzodiak Aquarius. Sama-sama memiliki mimpi yang menuntut untuk diwujudkan.
Kugy dan Keenan dipertemukan oleh takdir. Bertemu di kota Bandung, menjalin lingkaran persahabatan dengan Noni dan Eko yang merupakan pasangan kekasih. Keempatnya dikenal dengan Geng Midnight. Namun perjalanan kehidupan membuat persahabatan itu terpecah-pecah. Waktu menggiring mereka untuk berjalan dalam rel kehidupan mereka sendiri. Keenan di Ubud, Kugy kembali ke Jakarta, Noni dan Eko masih di Bandung. Namun banyak hal yang belum tersampaikan satu sama lain saat mereka terpisah-pisah. Cinta yang  sesungguhnya ada diantara Keenan dan Kugy. Kesalahpahaman antara Noni dan Kugy.    
Kugy dan Keenan masih menyimpan mimpi mereka dan berusaha mewujudkannya. Namun mereka tetap berpijak dalam dunia nyata yang harus mereka jalani. Kugy yang akhirnya bekerja di Advertising dan bertemu dengan Remi. Keenan yang menetap dan menjadi pelukis di Ubud kemudian dipertemukan dengan Luhde. Namun ada satu moment yang mengharuskan Keenan kembali ke Jakarta dan mengambil alih tanggung jawab mengelola perusahaan ayahnya.
Perahu Kertas tidak hanya menawarkan tentang kisah cinta antara Keenan dan Kugy. Bagaimana cinta yang akhirnya menentukan jalannya sendiri. Kisah yang berliku di antara Keenan dan Kugy mengharuskan mereka bertemu dengan orang-orang lain. Menghadirkan cinta-cinta lain di hati dan hidup mereka. Meskipun jauh  di lubuk hati mereka dan di bawah kesadaran mereka, Keenan dan Kugy saling mencintai satu sama lain. Cinta yang tak pernah tersampaikan satu sama lain. Hingga takdir mempertemukan mereka kembali. Hingga cinta menemukan jalannya untuk bersatu.
Aku lantas tergerak untuk mengingat kisahku, kisah yang sebenarnya enggan tuk aku buka lagi karena luka yang telah ditimbulkannya. Kisah tentang mimpi tentang cinta yang terputus begitu saja. Kisah tentang pengorbanan yang mau tidak mau harus aku lakukan. Kisah yang mencabik-cabik hidupku sedemikian rupa hingga serpihannya pun tak kutemukan. Perahu Kertas membawaku pada satu keyakinan bahwa suatu hari entah dengan cara apa, aku akan menemukan cintaku kembali. Akan ada keajaiban dengan cara yang indah dan saat yang tepat. Cinta yang tak kutahu akan sama ataukah tidak.      
Perahu Kertas juga membuatku tersadar bahwa mimpi adalah sesuatu yang harus diperjuangkan. Semustahil apapun mimpi itu nantinya dapat terwujud. Karena mimpi adalah sesuatu yang membuat kita sadar akan tujuan hidup kita. Mimpi yang membuat setiap langkah yang kita ambil akan kita yakini bermuara pada satu titik yang telah kita tentukan. Mimpi yang sangat mungkin akan terwujud. Mimpi yang selalu menunggu untuk kita raih.
Perahu Kertas kembali meyakinkanku bahwa kesejatian cinta itu memang ada. Meyakinkanku bahwa mimpi harus diperjuangkan.
Bersama Perahu Kertas~Dee aku telah membuat perahu kertasku dan menghanyutkannya pada aliran air. Bersama hanyutnya perahu kertasku tlah kusematkan pula asa dan mimpiku yang aku tahu nantinya akan bermuara pada lautan.
Bersama hanyutnya perahu kertasku tlah kuyakini entah kapan ku kan temukan kesejatian cinta dan mimpiku yang terwujud....
;-)

Tuesday, November 24, 2009

Baby Proposal: Cinta Tak Membutuhkan Alasan....


Aku tahu novel ini pertama kali karena tidak sengaja. Kebetulan aku membuka website Gagas Media dan aku mendapati sampul novel ini di bagian buku-buku baru. Aku tergelitik dengan sampul dan judul novel ini dan akhirnya membaca reviewnya. Cukup membaca sejenak review yang memang tidak terlalu panjang membuatku memutuskan aku harus mendapatkan novel ini untuk kado ulang tahunku. Selain Perahu Kertas tentunya. Pas tanggal 22 November kemarin aku berhasil menghadiahi diriku sendiri dengan 2 novel ini. Salah satunya Baby Proposal. Pada akhirnya aku memilih novel karya dua penulis Dahlian dan Gielda Lafita ini karena ide yang coba mereka angkat. Mencari kesejatian cinta di tengah kenyataan yang menyakitkan. Membuktikan jika cinta memang tidak membutuhkan alasan.
Kisah berawal ketika Karina menyadari bahwa dirinya tengah hamil. Hasil hubungan tak sengajanya dengan seorang laki-laki yang baru dikenalnya pada perjalanan wisatanya ke Lombok. Laki-laki yang dari kesan pertama yang didapat Karina adalah angkuh dan borju. Laki-laki itu bernama Daniel. Kejadian yang begitu singkat tapi mampu merubah keseluruhan jalan hidup Karina.
Karina yang hidup mandiri dan berjuang seorang diri untuk meraih cita-citanya sebagai chef tidak menyertakan kehamilan dan pernikahan dalam daftar rencana hidupnya. Karena ia memiliki trauma yang dalam dengan lembaga pernikahan. Laki-laki yang ia kenal sebagai ayahnya selalu menyiksa Ibu dan dirinya baik secara fisik dan mental. Hal itulah yang membuat Karina membuang jauh-jauh menikah dalam kamus hidupnya.
Kehamilannya ini sungguh diluar perkiraannya. Karina sama sekali tidak siap untuk itu. Maka ia memutuskan untuk menghubungi Ayah dari janinnya untuk meminta pertanggungjawaban. Bukan untuk dinikahi tapi untuk bertanggung jawab atas dirinya sampai ia melahirkan. Setelah itu Karina akan menyerahkan anak itu pada ayahnya, yaitu Daniel. Karina menemui Daniel dengan segala macam pikiran yang berkecamuk. Pun begitu dengan Daniel.
Ketidaksengajaan mempertemukan mereka, Daniel dan Karina. Kehamilan Karina yang tak terduga  membuat mereka berdua tergagap dalam menjalani konsekuensi tanggung jawab yang harus mereka jalani. Pada awalnya mereka sama-sama enggan dan terkesan menolak kehadiran janin di tubuh Karina. Namun ketika Daniel menemani Karina untuk check up kehamilan, Daniel dapat mendengarkan detak bayi yang ada di kandungan Karina. Detik itu juga Daniel seketika menyayangi anak itu. Demikian juga Karina. Tak ada lagi penolakan terhadap anak dalam kandungan Karina.
Hingga pada satu kenyataan, mereka harus kehilangan anak mereka. Rasa kehilangan yang sama-sama mereka rasakan menyatukan mereka dalam satu bentuk hubungan yang tak terdefinisikan. Rasa kasih sayang dan cinta itu perlahan muncul di antara mereka. Konflik kemudian muncul ketika Celline mantan kekasih Daniel muncul. Perasaan Daniel diuji pun juga perasaan Karina. Daniel dan Karina yang sama-sama tidak pernah mengutarakan perasaan satu sama lain diuji dengan kesalahpahaman yang muncul karena kehadiran Celline. Kesalahpahaman yang kemudian memisahkan mereka.
Mereka kembali pada kehidupannya masing-masing. Karina mengejar cita-citanya sebagai Chef dan Daniel sibuk dengan bisnisnya. Karina sengaja menghilang dari kehidupan Daniel karena mengira Daniel akan kembali pada Celline. Padahal tanpa sepengetahuan Karina, Daniel selalu mencari tahu di mana Karina berada. Hingga pada akhirnya mereka kembali dipertemukan secara tidak sengaja. Pertemuan oleh takdir yang menyadarkan Daniel bahwa untuk kali ini ia tak mau lagi kehilangan Karina. Bahwa Ia harus jujur akan perasaannya pada Karina.
Hubungan yang diawali tanpa sengaja. Kehamilan yang tak terduga. Menumbuhkan perasaan yang tak terdefinisikan di antara Karina dan Daniel. Cinta memang tidak membutuhkan alasan. Karena ketika ada seribu alasan agar cinta itu tumbuh maka akan ada pula seribu alasan ketika cinta itu hilang.
Membaca novel ini, seperti membaca sebagian kisahku. Air mata tak hentinya luruh ketika merekam kata demi kata ke dalam memori otakku. Karina beruntung karena memiliki Daniel yang bersedia bertanggung jawab dan menerima anaknya dengan ikhlas. Mungkin aku tak seberuntung Karina. Tapi satu hal yang kusadari sejak awal bahwa aku sama sekali tak pernah berniat membuang apa yang telah diberikan padaku. Dengan atau tanpa laki-laki di sampingku. Mungkin Karina berpikir ulang terus untuk dapat menerima janin dalam tubuhnya. Tapi aku, di detik aku tahu Dia ada detik yang sama aku ikhlas menerimanya meskipun aku tahu aku hanya akan berjalan seorang diri.
Baby Proposal, membuatku sekali lagi percaya bahwa suatu hari kebahagiaan akan datang di hidupku dengan cara yang indah dan waktu yang tepat. Dan cinta memang tak membutuhkan alasan, sama halnya cintaku dan penerimaanku terhadap kehadiran Langit.
:-)       

*) gambar diunduh dari www.gagasmedia.net 

Saturday, November 07, 2009

Azalea Jingga, Kehidupan Poligami Perempuan Yahudi

Isu poligami selalu menimbulkan perdebatan klasik. Perdebatan tentang patut atau tidaknya pernikahan macam ini dilakukan. Namun, meskipun kontroversi selalu mengiringi hadirnya isu ini, para pelakunya selalu memiliki alasan pembenar pada pilihan mereka untuk berpoligami. Sebagian menggunakan dalil agama sebagai tameng. Namun sebagian lainnya mencoba untuk jujur dengan alasan yang murni manusiawi, hasrat.
Banyak seniman yang mencoba menghadirkan poligami sebagai ide penciptaan karya. Dari jajaran dunia perfilman, terdapat karya Hanung Bramantyo dalam film Ayat-Ayat Cinta yang juga merupakan adaptasi novel berjudul sama karya Habiburrahman el Shirazy yang kental akan nuansa islami dan juga menyelipkan ide poligami. Selain itu juga ada film Berbagi Suami karya Nia Dinata, yang kentara sekali memuat ide poligami dari sisi perempuan. 
Dalam ranah karya sastra, terdapat judul Azalea Jingga karya Naning Pranoto. Novel ini tidak hanya menyuguhkan poligami sebagai sentral isu. Tetapi juga latar kultur yang berbeda dalam sebuah pernikahan. Azalea Polansky, perempuan berkebangsaan Australia beragama Yahudi tertarik secara emosional kepada Pejuang muda, yang terbuang dari tanah airnya, berasal dari tanah Jawa bernama Bimo Satriodi Reksoprodjo. Keduanya kemudian menikah dan tinggal di Indonesia.
Perjalanan waktu, membuat jiwa heroisme dan idealisme Bimo terkikis. Yang muncul kemudian adalah sikap materialistis dan keinginan berkuasa. Selain itu Bimo mulai membagi cintanya untuk perempuan lain. Cinta masa lalu Bimo muncul, dan membuatnya memutuskan untuk menduakan Zaza (panggilan Azalea). Atas keputusan Bimo itu, Zaza memilih untuk jalan di jalannya. Ia mulai membatasi hubungan dengan Bimo. Terutama hubungan suami istri. Ia merasa jijik melakukannya dengan Bimo, mengingat Bimo melakukan hal yang sama dengan perempuan lain. Sikap defensif Zaza berlanjut hingga mereka tua dan anak-anaknya beranjak dewasa.
Kehidupan mereka berlangsung tidak sehat. Masing-masing individu dalam pernikahan itu merasa tersakiti. Hanya istri kedua Bimo yang mungkin berbahagia karena mendapat tularan harta dan kekayaan. Tapi itu juga tidak sepenuhnya ia dapatkan, ia juga merasa tertekan karena ketakutan jika sewaktu-waktu Bimo mencabut hak-haknya dan juga anaknya. Jadi tidak ada yang sepenuhnya bahagia dalam pernikahan poligami itu.
Novel ini menunjukkan sisi negatif pernikahan poligami. Dalam setiap pilihan keputusan untuk melakukan poligami, pihak yang paling dirugikan adalah perempuan. Dalih apapun tidak akan mampun menutupi kenyataan tersebut. Perempuan harus dapat menunjukkan sikapnya untuk tidak begitu saja tunduk dengan apa yang dinamakan takdir.
Penolakan terhadap poligami bukan hanya masalah perempuan yang sok memperjuangkan kesetaraan gender. Atau salah satu gerakan feminis. Tapi lebih pada upaya menyadarkan perempuan bahwa dalam kehidupan pernikahan mereka berhak untuk menentukan nasibnya. Termasuk sikap untuk menolak dipoligami.
Perlu dikaji lebih dalam lagi jika para pelaku menggunakan dalih agama. Jangan sampai penafsiran kita yang minor terhadap Ayat Ayat Tuhan, membuat kita semena-mena menggunakan dalil agama tersebut. Hanya untuk menghalalkan hasrat manusiawi yang sangat individualistik.

Judul Buku     : Azalea Jingga
Penulis            : Naning Pranoto
Penerbit/Edisi : Grasindo, pertama 2005
Tebal               : 245 halaman

*) gambar diunduh dari www.rayakultura.net by google


   

Monday, November 02, 2009

Pay It Forward - MLM Kebaikan Ubah Dunia

Pernah dengar ungkapan "Kita bisa mengubah dunia dengan sesuatu yang sederhana" mungkin hal ini juga yang mendasari penulisan Pay It Forward karya Catherine Ryan Hyde yang kemudian juga difilmkan dengan judul yang sama. Saya telah menuntaskan buku dan filmnya beberapa tahun lampau bahkan sempat mengulang beberapa kali setelahnya. Namun saya tergelitik untuk menuliskan sekarang karena saya baru saja mendapatkan cuhatan seorang teman mengenai masalah yang dihadapinya.
Teman saya itu beberapa hari lalu saya chatting dengan teman yang sudah beberapa lama tidak bertemu, dengan diawali emoticon cry dia cerita kalau dia baru saja tertipu. Ia telah setahun ini bergabung dengan MLM yang berkedok arisan motor (MLM ini juga yang pernah ia tawarkan dulu pada saya, tapi dengan alasan saya tidak suka berbisnis MLM, maka saya tolak). Ia telah menjadi koordinator arisan dengan beberapa puluh member downline. Tugasnya sebagai koordinator hanyalah sebagai collector dana, yang kemudian akan disetorkan kepada manajer arisan. Pertengahan bulan awal, semua lancar karena semua pemenang arisan mendapatkan motornya, pembayaran arisan pun tidak mengalami penundaan yang berarti. Menurut teman saya, masalah mulai muncul beberapa bulan lalu. Saat sang manajer mulai susah dihubungi, dan kemudian menghilang. Hilangnya sang manajer membuat teman saya panik, karena ia harus segera memberikan motor kepada pemenang arisan. Ketika motor tak juga diberikan, kepanikan itu menular juga kepada member downline teman saya. Teman saya stres karena tekanan yang diberikan semua downline membernya yang meminta uang mereka kembali. Fiuh...kasus ini sekarang masih ditangani polisi dan sang manajer pun masih buron. Hemh.... meskipun teman saya ini tidak berada pada posisi harus mengganti semua uang tersebut, tapi ia juga terbebani, karena dialah yang mengumpulkan uang-uang tersebut.
Kasus-kasus macam ini sudah marak tahun-tahun belakangan ini. Arisan berbagai jenis dengan sistem MLM memang cenderung diminati oleh masyarakat kalangan menengah ke bawah. Contohnya arisan motor teman saya, banyak membernya karena mereka berfikir arisan ini menguntungkan, bisa dapat motor dengan sistem cicil arisan. Namun resikonya juga besar, apalagi kalo apes dapat manajer arisan yang "nakal". Bukannya dapat motor malah uang melayang.
Tidak semua MLM di Indonesia (bahkan dunia) yang berujung penipuan, ada juga sebagian yang memang murni menawarkan bisnis dan keuntungan. Saya tidak akan banyak membahas tentang apa dan bagaimana bisnis MLM ini dijalankan di Indonesia. Tapi, satu hal yang menarik dan saya pikir berkaitan dengan buku dan film yang saya "baca", Pay it Forward.
Dalam Pay it Forward, Trevor McKinney (Haley Joel Osment) mendapatkan tugas dari gurunya di kelas sosial, Eugene Simonet (Kevin Spacey). Trevor membuat sebuah proyek sosial dengan menggunakan  nama  "pay it forward" kalau istilah saya sih "Jejaring Pohon Kebaikan" (hehehehe). Proyek ini dimulai dengan 1 orang akan berbuat kebaikan ke 3 orang lain, untuk membalas kebaikan itu, orang yang dibantu harus melakukan kebaikan ke 3 orang lainnya. Begitu seterusnya sehingga membentuk jejaring pohon kebaikan. Trevor yang mengira proyeknya ini gagal, karena ia merasa gagal membantu orang-orang di sekitarnya, mulai dari membantu tuna wisma bernama Jerry dengan memberinya makan, pakaian, dan tempat menginap. Trevor berharap Jerry dapat membantu 3 orang lainnya tapi ternyata Jerry kembali ke tabiat semulanya sebagai junkies. Trevor juga membantu Ibunya dengan mengenalkannya dengan Eugene dan berharap mereka menjadi pasangan. Tapi ternyata harapan itu pupus ketika ayah Jerry yang pemabuk kembali. Begitulah, satu persatu terjadi dan Trevor merasa proyeknya akan gagal. Tapi tanpa sepengetahuan Trevor proyek Pay it Forward telah jauh melanglang buana dan mengubah dunia tidak hanya di kotanya tapi jauh di luar itu.
Pay it Forward menurut saya adalah salah satu bentuk dari praktek MLM, dalam hal ini MLM Kebaikan. Seseorang yang mampu memberikan kebaikan pada orang lain dalam bentuk apapun dan mampu merubah hidup orang lain. Dan jika "virus" itu menular ke orang lain, maka ini akan menjadi kebaikan yang menggejala. Bayangkan saja jika seperempat saja dari jumlah penduduk Indonesia melakukan pay it forward, maka tidak akan ada kasus kelaparan, kemiskinan, pengangguran, dll di Indonesia.
Mungkinkah itu? Semua bermula dari ide kecil kan? Semua juga dimulai dari sendiri. pay it forward sebuah ide sederhana untuk merubah dunia. Sebuah sistem MLM kebaikan yang pasti tidak akan menimbulkan kabar buruk seperti MLM yang diikuti teman saya. Pay it Forward... apakah mungkin gerakan semacam ini dilakukan di Indonesia...
:-)        

*) Gambar ini diunduh dari www.imdb.com

Thursday, September 17, 2009

KETIKA HOMOSEKSUALITAS BERBICARA DALAM RAHASIA BULAN

Dunia sastra Indonesia terus saja dibanjiri karya-karya yang “tidak biasa”. Sejak kemunculan Ayu Utami dengan dwilogi Saman dan Larung yang mengumbar seksualitas secara apa adanya. Makin banyak saja penulis-penulis yang berani mengungkapkan hal yang selama ini selalu dianggap tabu, yaitu seksualitas. Seiring dengan hal itu, selain banyknya muncul karya yang mengeksploitasi tubuh dan seks, juga mulai terdapat beberapa karya yang mengusung wacana homoseksualitas.
Mungkin memang bukan menjadi hal yang baru jika terdapat wacana homoseksualitas dalam fiksi Indonesia. Karena pada sekitar taun 1970-an, tepatnya 1974, muncul sebuah karya yang juga mengusung wacana homoseksualitas. Yatu pada karya S.N. Ratmana yang berupa cerpen dengan judul Sang Profesor. Setelahnya terdapat karya-karya penulis sekelas Seno Gumira Ajidarma, Gus Tf Sakai, Agus Noor dll.
Lantas kemudan muncul sebuah antologi cerpen di tengah-tengah masyarakat dengan mengusng wacana homosesualitas secara total yang dihasilkan baik itu dari penulis yang telah mengaku bahwa dirinya gay/lesbi dengan yang “normal”. Antologi cerpen dengan tajuk Rahasia Bulan, secara apa adanya membeberkan kisah-kisah yang ada di sekitaran kaum homoseks. Salahkah, mereka yang selama ini “dibuang” oleh masyarakat berusaha kembali dalam karya? Selain itu apa dan bagaimana homoseksualitas itu sebenarnya?
Homoseksual biasanya diartikan sebagai kelainan seksual berupa disorientasi pasangan seksualnya. Disebut gay bila penderitanya laki-laki dan lesbi untuk penderita perempuan. Sementara pihak lain berpendapat hal tersebut adalah sesuatu yang alami atau wajar karena manusia sebenarnya mempunyai potensi untuk menjadi heteroseksual maupun homoseksual. Jadi, di sini homoseksual hanyalah salah satu dari preferensi atau orientasi seksual.
Lantas kemudian, apa sebenarnya penyebab seseorang disorientas seksualnya? Terdapat berbagai versi tantang penyebab seseorang kemudian mendefinisikn diri sebaga kaum homoseks. Menurut dr. Wimpie Pangkahila, dalam teori penyebab homoseksual, terdapat empat kemungkinan penyebab homoseksual. Antara lain, pertama Pertama, faktor biologis, yakni ada kelainan di otak atau genetik. Kedua, faktor psikodinamik, yaitu adanya gangguan perkembangan psikoseksual pada masa anak-anak. Ketiga, faktor sosiokultural, yakni adat-istiadat yang memberlakukan hubungan homoseks dengan alasan tertentu yang tidak benar. Keempat, faktor lingkungan, yaitu keadaan lingkungan yang memungkinkan dan mendorong pasangan sesama jenis menjadi erat.
Pada faktor yang pertama adanya ketidakseimbangan jumlah hormon pada diri seseorang sejak lahir. Jumlah hormon wanita cenderung lebih besar daripada laki-laki. Atau sebaliknya. Hal yang demikian ini akan berpengaruh terhadap sifat dan perilaku individu tersebut. Jika dia laki-laki yang memilik hormon wanita berlebih maka jati diri kewanitaan biasanya lebih kuat, sehingga mereka cenderung berperilaku feminin dan selalu tertarik terhadap aktivitas yang dilakukan wanita. Ataupun sebaliknya. Individu yang menjadi gay karena faktor tersebut biasanya tidak bisa kembali normal. Tapi, sifat gay/lesbi tersebut bisa berkurang frekuensinya. Tentunya, diperlukan usaha yang keras. Misalnya, tidak bergaul lagi dengan kaum homoseks, punya keyakinan yang kuat, dan harus tahan segala godaan.
Pada faktor yang kedua, berupa gangguan perkembangan psikoseksual pada masa kecil atau sebagai reaksi psikoseksual untuk mengatasi masalah dan kehidupan heteroseksual. Pada kasus ini, kemungkinan yang terjadi adalah pada masa kecilnya individu tersebut mengalami pelecehan seksual baik fisik maupun psikis. Sehingga menimbulkan trauma. Trauma inilah yang pada nantinya memicu perilaku homoseksual..
Pada faktor ketiga, ada beberapa adat dan budaya yang membenarkan adanya perilaku homoseks. Dalam kasus ini, para pelaku homoseks biasanya telah dapat diterima oleh masyarakat. Bahkan pada beberapa adat, pelaku homoseks merupakan dukun adat. Sedangkan pada faktor keempat, Kedua, faktor lingkungan, yaitu komunitasnya lebih sering bertemu dengan laki-laki dan amat jarang bertemu dengan wanita. Selain itu, ada juga dari mereka yang terlibat dalam kehidupan gay semata-mata karena gaya hidup dan materi. Biasanya mereka berawal dari coba-coba untuk berhubungan dengan sesama jenis dengan imbalan uang. Jenis gay ini bisa hilang bila mereka telah menemukan pasangan hidup wanita. Atau, mereka keluar akibat terkena penyakit kelamin. Dan juga, gay tersebut dapat kembali sebagai lelaki sepenuhnya bila punya komitmen kuat untuk menjauhi kehidupan gay.
Penjelasan singkat di atas kiranya dapat sedikit memberikan ruang untuk kita berpikir positif. Bahwa, kaum homoseksual it ada di sekitar kita. Dengan pola kehidupan dan perilaku yang mungkin berbeda dengan kaum heteroseksual. Sejenis ataupun lawan jenis, harusnya hal tersebut ditempatkan sebagai sebuah pilihan yang berhak digunakan oleh setiap individu. Tinggal bagaimana individu tersebut mempertanggungjawabkan pilihannya.
Terkait dalam hal itu, pada antologi cepen Rahasia Bulan, banyak ditampilkan kisah seputar kehidupan kaum homoseks. Ada individu lesbian yang dia “terperangkap” dalam kehidupan perkawinan normal. Atau dilematis seseorang yang pada ahirnya ia “sadar” bahwa ia seorang homo. Atau kisah tentang seorang yang terjebak dalam kehidupan “gay” yang mulai mencari pola ukuran dalam hubungan para gay. Ada yang berdasarkan size matter, power matter, dan love matter. Semua kisah-kisah itu terbuka dan seakan-akan sap untuk dibaca oleh siapapun.
Mungkin antologi ini dapat dijadikan sebuah alat “berbicara” bagi kaum homoseksual yang selama ini cenderung “dihilangkan” dari peta kehidupan. Mulai gencarnya LSM-LSM yang mencoba untuk memperjuangkan hak-hak kaum homoseks. Ataupun diskusi-diskusi terbuka yang membahas tentang homoseksual. Sedikit banyak telah menunjukkan bahwa sebagian masyarakat Indonesia telah mulai terbuka tentang keberadaan homoseks. Walaupun harus diakui masih banyak yang bersifat konservatif terhadapnya.
Sastra masih merupakan media yang efektif untuk upaya resistensi terhadap stigma yang telah berkembang dalam masyarakat untuk berbagai persoalan. Termasuk halnya mengenai homoseksualitas. Karena masih beredarnya anggapan bahwa sastra adalah sesuatu yang bebas nilai. Di luar hal itu, jika nantiya terdapat penilaian terhadap karya sastra tersebut hanyalah sebagai upaya apresiasi, resepsi, ataupun penelitian.
Perjuangan dan resistensi kaum homoseks masih berlangsung. Salah satu goal mereka adalah bangsa ini menerima secara wajar keberadaan mereka dan meminimalisir adanya diskriminasi. Hal ini mulai dilakukan dengan mulai terbukanya mereka dalam menunjukkan identitas mereka dan juga turut mengambil peranan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Sekarang banyak kita temui para gay/ lesbi yang berprofesi sebagai dosen, pengusaha, dokter, pengacara, atau profesi di dunia hiburan.
Peran masyarakat lainnya yang “mengaku” sebagai heteroseksual sebenarnya sangat mudah. Menempatkan secara proporsional keberadaan mereka sebagai individu yang sama dengan individu lainnya. Hal ini diperlukan pemikiran yang terbuka, moderat, dan positif. Dukungan dari masyarakat lainnya ini diperlukan karena perlawanan mereka pada dasarnya adalah perlawanan terhadap pola pikir masyarakat dan budaya umum yang berkembang. Kaum homoseks mulai terbuka dengan keberadaan mereka. Jika masyarakat umum juga mulai terbuka dengan keberadaan mereka. Tinggal nantinya bagaimana memberdayakan potensi setiap individu bangsa Indonesia untuk memajukan bangsa ini tanpa membedakan ras, etnis, gender, status,dll. Dan sastra, dapat dijadikan salah satu sarana untuk melakukan resistensi dan perjuangan tersebut.

Ketika Yang Tersisa Hanyalah Air Mata

Hey kamu... Iya kamu... Kamu yang dulu datang lagi dalam hidupku dengan janji tuk tak lagi menghadirkan air mata di wajahku dengan jan...