Showing posts with label Film. Show all posts
Showing posts with label Film. Show all posts

Tuesday, July 21, 2015

Saya Benci Film SURGA YANG TAK DIRINDUKAN


Ya, Saya benci film SURGA YANG TAK DIRINDUKAN (SYTD). Kesimpulan ini semakin kuat setelah saya akhirnya menonton film ini semalam.

Sejak awal film SYTD dipromosikan secara gencar di berbagai media baik online maupun elektronik, saya sudah apatis. Begitu tahu tema yang diusung adalah POLIGAMI, saya semakin melangkah mundur.

Secara pribadi, saya membenci ide tentang POLIGAMI. Bukan karena saya membenci ketentuan Allah SWT yang memperbolehkan suami memiliki istri lebih dari satu. Hanya saja, sekarang ini jika dalih yang digunakan adalah ketentuan Allah SWT dan Sunnah Rasul hanya dijadikan sebagai "alat" saja. Dari semua istri Nabi Muhammad SAW, hanya satu yang berusia muda, yang lainnya berusia lebih tua dan janda. Sementara, pelaku poligami saat ini? Ahh... cukup saya membahas tentang mengapa saya tidak sepakat untuk yang satu ini.

Kembali saya akan bahas tentang film SURGA YANG TAK DIRINDUKAN (SYTD). Dengan alasan yang saya sebut di atas, saya cukup yakin bahwa film ini tidak akan pernah masuk dalam list film yang saya lihat, baik itu di bioskop atau televisi. Dalam pikiran saya, film ini pasti hanya alat propaganda untuk melanggengkan ide poligami di tengah masyarakat.

Namun jujur, gencarnya promosi yang dilakukan oleh produser film ini, ke berbagai media sempat membuat saya penasaran. "Apa sih maunya orang ini? Dhamoo Punjabi, Asma Nadia, Hanung Bramantyo, dan para pemerannya ini? Ide apa yang mau mereka usung? Apa alasan mereka untuk membenarkan poligami itu dalam rumah tangga?"

Semalam (20/7), saat saya sudah ada bioskop untuk menonton film lainnya dengan suami. Entah mengapa, saya berubah pikiran dan membeli tiket untuk nonton film SURGA YANG TAK DIRINDUKAN. Pikiran saya saat itu, paling gak saya punya bahan untuk semakin kukuh pada pendapat saya.

Saya melangkahkan kaki masuk ke theater dengan setengah hati dan sedikit menyesal, kenapa tadi saya berubah pikiran. Dan saya berpikir 124 menit ke depan adalah waktu terlama dan paling membosankan sepanjang hidup saya, karena harus melihat film yang secara ide tidak saya sukai.

Film yang digarap bersama oleh Dapur Film milik Hanung Bramantyo dan MD Picture ini memiliki setting Yogyakarta. Untuk pemilihan setting ini, cukup membuat saya semakin "jleb". Kota yang memiliki sejuta kenangan indah bagi saya. Ada Laudya Chintya Bella yang berperan sebagai Arini, Fedi Nuril sebagai Prasetya, dan Raline Shah sebagai Meirose. Di samping tiga nama itu ada nama nama lain, Zaskia Adya Mecca (yang hampir selalu ada di semua film Hanung), Landung Simatupang, Tanta Ginting, Sitoresmi Prabuningrat, Kemal Pahlevi, Vitta Mariana, dan Sandrinna Michelle yang berperan sebagai anak Pras dan Arini, Nadia.

Kisah dimulai dengan pertemuan Pras dan Arini yang berlanjut bagai dongeng. Mereka Ta'aruf dan akhirnya menikah. Memiliki anak yang cantik, rumah yang indah dengan latar belakang sawah dan gunung, karir yang bagus bagi keduanya. Semua indah bagai dongeng. Hingga muncul tokoh Meirose yang dengan segala problematika hidupnya berhasil membuat Pras "terjebak" untuk menikahinya. Mengesampingkan perasaan Arini, menepikan amanah ayah Arini untuk tidak menyakiti hatinya.

Dan konflik bagi laki laki beristri dua pun dimulai, adegan adegan Pras yang kebingungan mengatur waktu antara Arini dan Meirose, pekerjaanya yang terbengkalai, Hingga puncaknya saat Arini mengetahui pernikahan Pras dan Meirose.

Bagi saya, poin penting dalam film ini sebenarnya bukan ada dalam diri Pras, Arini, dan Meirose. Meskipun ketiganya memang pemeran utama. Namun yang menggerakkan alur dan konflik film ini adalah peran ibu Arini. Di saat scene ayah Arini meninggal, terkuaklah ternyata ayahnya memiliki istri lain yang diketahui oleh ibunya. Bertahun tahun sang Ibu menyembunyikannya dari Arini. Bagaimana keikhlasan, kekuatan, sikap nerimo, yang dimiliki ibu Arini saat menjelaskan kisahnya mengapa mau dimadu, yang secara tidak sadar mengarahkan jalan cerita ini. Salah satu adegan yang mengganggu pikiran saya saat Arini menanyakan pada ibunya bagaimana rasanya saat ibunya tahu sang ayah akan menikah dengan orang lain. Sang Ibu yang diperankan Sitoresmi menjawab dengan tenang bahwa memang sakit hatinya pada saat itu, sama yang dirasakan Arini, namun karena ia memikirkan jauh ke depan, tidak hanya soal ego pribadi, sakit hati pribadi, karena ada anak, yaitu Arini. Sang Ibu memikirkan masa depan anaknya, mewujudkan dongeng anaknya tentang keluarga madaniyah. Dan ketika Arini melakukan yang sama, dengan menerima Meirose, saya pikir di situlah kekuatan peran Ibu Arini.

Dia telah berhasil menunjukkan kepada Arini, memang ada yang harus dikorbankan untuk mewujudkan dongeng yang indah, tidak hanya bagi kita, tapi juga anak anak. Sang Ibu berhasil mengarahkan Arini untuk berdamai dengan keadaan, belajar untuk ikhlas, belajar untuk menerima semua ketentuan Allah SWT.

124 menit, ya 124 menit yang panjang. 124 menit saya disuguhi oleh gambar adegan yang membuat saya harus menahan nafas, menahan sakitnya di dada, mengusap air mata, dan mencerna semua adegan dan dialog.

Saya membenci film ini karna berhasil mengoyak ego saya, ide tentang dongeng sempurna yang saya bangun sejak dulu. Saya membenci film Surga yang Tak Dirindukan karena akhirnya membuat saya kembali berpikir, apa memang harus demikian? Apa memang harus sebegitu menyakitkannya?

Sama seperti Arini, saya juga tidak mengharapkan surga yang semacam itu. Saya tentu tidak akan mungkin setegar Arini atau ibunya yang bisa ikhlas dan menerima membagi hati dan berbagi suami dengan perempuan lain. Tapi yang akhirnya saya percaya setelah melihat film ini semua skenario yang dibuat oleh Allah SWT tentu terjadi bukan tanpa maksud. Tugas saya dan kita sebagai pelakon di dunia ini hanya harus memerankan sebaik mungkin.

Saya membenci film ini. Sungguh membencinya karena berhasil membuat saya yang dulu pongah dengan dongeng yang saya miliki menjadi bimbang. Memang bukan Surga yang seperti itu yang saya rindukan. Ada banyak monolog yang saya lakukan semenjak semalam. Dan saya masih belum bisa menempatkan diri sebagai perempuan dalam film itu.

Setelah melihat film ini saya teringat dengan sebuah kata kata yang bertahun tahun lalu diberikan seseorang pada saya

di saat kamu ikhlas melepaskannya 
di titik itulah sesungguhnya kamu telah mendapatkannya kembali 

Bagaimana ending film yang membuat jiwa raga saya mendidih ini? Anda harus melihatnya sendiri! Anda harus membuktikannya sendiri dan kembali mendefinisikan dongeng Anda! 




Monday, February 11, 2013

Sejatinya Cinta




 

Saya selalu jatuh cinta pada kisah cinta sejati.
Masih ingat posting saya yang ini kan?

http://akuperempuanlangit.blogspot.com/2010/05/kesetiaan-itu-langka-tapi-ada.html


Siapa sangka, kepiluan Eyang Habibie ditinggal oleh Eyang Ainun berbuah karya yang mampu membuat kita meresapi keagungan cinta sejati. Berawal dari diagnosis dokter bahwa Eyang Habibie mengalami penyakit kejiwaan yang dinamakan Psikosomatik Malignant, yang dapat merenggut kesadaran dan menurunkan kesehatan Eyang Habibie. Dokter dari Jerman dan Indonesia pun memberikan alternatif pengobatan, salah satunya dengan menuliskan dan mengungkapkan perasaan dan kegalauannya.
Alhasil, berbuahlah sebuah karya buku berjudul Habibie & Ainun, dan ternyata kemudian dikembangkan dalam film dengan judul serupa.

Aku selalu percaya bahwa menulis mampu menjadi terapi untuk pemulihan luka, terlebih luka psikis atau batin. Apa yang mungkin dialami oleh Eyang Habibie juga pernah saya alami. Bedanya kalau Eyang Habibie menuliskannya dalam bentuk buku, kisah saya tertuang dalam blog ini.

Cinta sejati memang hanya dapat kita definisikan jika nantinya hanya maut yang memisahkan keduanya. Mengapa kisah cinta Eyang Habibie dan Ainun terkesan lebih meresap ke lubuk hati dan menyentuh bagian terdalam siapapun yang membaca atau menonton kisahnya? Mungkin jawabannya adalah karena faktor kedekatan. Their love story is real. Mungkin Layla Majnun atau Romeo dan Juliet memiliki kisah yang sama memilukan tentang kisah cinta sejati, tapi di mana mereka, jauh dari jangkauan akan dan indera dari kita masyarakat awam di Indonesia.

Berkali-kali melihat dan menyimak bagaimana eyang Habibie mengisahkan betapa beliau mencintai eyang Ainun, membuat saya berulang kali terhenyak. Ada yang meleleh dari dalam sanubari saya. Ada yang mengusik ketenangan kesadaran saya.

Cinta mereka begitu agung terlihat, seperti dongeng pengantar tidur tepatnya. Tapi mereka nyata.

Sejatinya cinta memang harus demikian, sesakit apapun rasanya ketika mereka terpisahkan oleh maut, selalu ada cerita yang indah. Bahkan setiap gamitan tangan keduanya, posisi tidur di tempat tidur, amarah kecil, selalu menjadi indah untuk dikisahkan.

Sejatinya cinta, akan selalu menjadi indah, pertemuan atau perpisahan, tak pernah benar-benar menjadi luka sedih, hanya bagian dari kisah indah.

Ah... sejatinya cinta...


 

Monday, May 24, 2010

Kesetiaan itu Langka tapi Ada

Kurang lebih satu bulan yang lalu saya menyaksikan ulasan sebuah film di Metro TV. Film itu Hachiko: A Dog's Story. Awalnya saya menyaksikannya sambil lalu, tapi kemudian ada satu komentar dari si presenter yang membuat saya duduk dengan tenang di depan televisi hingga ulasan film itu usai. Kurang lebih komentarnya bahwa film ini bukan hanya film tentang seekor anjing dengan tuannya melainkan kisah tentang kesetiaan abadi. Ulasan itu membuat saya terus bertanya-tanya kapan film itu akan diputar di Indonesia, lebih khusus lagi diputar di Surabaya atau Yogyakarta.
Kemudian, saya dapat kabar kalau Hachiko sudah diputar, tapi sayangnya saya tidak menemukan waktu yang pas untuk melihatnya. Baru hari ini itupun setelah meluang-luangkan waktu.
Hachiko: A Dog's Story, dibintangi oleh aktor yang memiliki ketampanan "abadi" (sampai tua gitu tetep aja keren) Richard Gere yang berperan sebagai Prof. Parker Wilson serta Joan Allen sebagai Cate Wilson, istri sang profesor. Kisah berawal ketika Ronnie berkisah tentang pahlawannya. Seekor anjing milik kakeknya.
Seekor anjing dikirim dalam sebuah perjalanan oleh seorang biksu di Jepang. Dalam perjalanannya, Hachiko akhirnya "lepas" di sebuah stasiun di kota Bedridge. Kemudian, si anjing yang tersesat bertemu dengan Parker. Prof. Parker bermaksud untuk menitipkan si anjing pada Carl, petugas stasiun, tapi Carl menolaknya dan menyarankan agar Parker membawa pulang anjing itu. Akhirnya Parker membawa pulang anjing itu. Meskipun di awal istrinya menolak kehadiran anjing itu, namun kemudian ia menerimanya karena melihat Parker dan anaknya Andy begitu bahagia dengan kehadiran anjing itu. Parker membawa si anjing kepada temannya Ken. Ken pun menjelaskan tentang anjing yang berjenis Akita dan ia pun membaca kalung yang melingkari leher anjing itu. Di liontin itu ada huruf kanji yang berarti Hachi atau delapan. Ia menjelaskan bahwa Hachi adalah lambang keberuntungan. Dan anjing jenis Akita adalah anjing yang begitu setia dengan majikannya. Biasanya dimiliki oleh keluarga kerajaan dan menjadi teman untuk berburu.  Sejak saat itu, anjing itu dipanggil dengan nama Hachi. Hachi mewarnai kehidupan keluarga Parker dan telah menjadi bagian dari keluarga, 
Hachi, adalah anjing yang spesial, ia begitu setia pada Parker. Saat pagi ia mengantarkan Parker ke stasiun kemudian ia pulang dan kembali ke stasiun tepat pukul 5 kurang 5 untuk menjemput Parker. Begitu seterusnya, Hachi selalu melakukan "ritual" yang sama setiap harinya. Apa yang dilakukan Hachi menarik perhatian banyak orang di sekitar stasiun, Jasjeet, si penjual hot dog, Mary Ann penjual buku, Carl petugas stasiun, dan pasangan suami istri penjual daging. Hachi setia menunggu kedatangan Parker di depan pintu stasiun dari hari ke hari. Hingga Parker kemudian meninggal di kampusnya dan tidak pernah keluar dari pintu stasiun untuk pulang. Tapi Hachi terus menunggunya hingga malam, hingga Andy, anak Parker, menjemput Hachi pulang.
Setelah Parker meninggal dunia, Hachi tinggal bersama Andy. Namun, Hachi sepertinya ikut merasakan kehilangan, ia tidak banyak beraktifitas. Hingga suatu hari Hachi kabur dari rumah dan pergi ke stasiun di kota Bedridge. Sejak itu ia terus menunggu "kedatangan" Parker, tuannya, di depan pintu stasiun. Di tempat yang sama setiap harinya. Hingga musim berganti dan Hachi pun menjadi pembicaraan setiap orang di kota itu hingga menarik seorang wartawan untuk meliputnya. Selepas itu kisah tentang Hachi, anjing yang setia menunggu kedatangan tuannya yang sudah meninggal menjadi legenda di kita itu. Hachi telah menjadi bagian dari hidup semua orang di Bedridge. Hachi terus menunggu di stasiun hingga 10 tahun kemudian. Cate yang sedang berziarah di makam Parker, terkejut karena melihat Hachi masih setia menunggu. Hachi terus setia menunggu hingga dia meninggal di depan stasiun itu.
Film ini terinspirasi dari kisah yang sama tentang Hachiko, anjing yang setia pada tuannya Prof. Hidesaburo Ueno, profesor departemen agricultur di Universitas Tokyo, Jepang. Hachi di dunia nyata meninggal di tahun 1935. Hachi menjadi legenda di kota Shibuya, Jepang. Bahkan di depan stasiun Shibuya terdapat monumen Hachiko.
Hachiko mengajarkan saya akan banyak hal. Terutama adalah tentang kesetiaan. Kesetiaan yang hanya patah oleh usia. Kesetiaan tanpa pamrih. Kesetiaan yang hanya dapat terjadi, jika tidak hanya rasa cinta kasih yang mendasari sebuah hubungan melainkan juga bentuk penghormatan, menghargai, pengabdian, dan mendasarkan semua pada kepercayaan.
Berharap sebuah kesetiaan ataupun bersetia pada satu diri mungkin merupakan barang langka sekarang ini. Banyak sekali alasan yang dijadikan pembenaran saat sebuah perselingkuhan atau ketidaksetiaan terjadi. Namun bukan berarti kesetiaan abadi itu tidak ada. Beberapa kisah bertebar di sekitar kita. Salah satunya adalah kisah seorang wanita yang memegang kesetiaannya hingga ruh terpisah dari raganya. Ainun Habibie, wanita berusia 72 tahun, istri dari presiden ketiga Indonesia BJ Habibie. Kisah Ibu Ainun menjadi istimewa bagi saya, karena beliau dengan setianya mendampingi sang suami dalam keadaan apapun dan dimanapun Pak Habibie berada. Di Jerman maupun Indonesia. Kesetiaan dan kebaikan Ibu Ainun yang selalu ada di sisi suaminya membuat beliau pun mendapat perlakuan yang sama dari suami dan anak-anaknya. Pak Habibie tak sesaat pun beranjak dari isi Ibu Ainun. Hingga beliau menghembuskan nafas terakhirnya di Jerman.
Dua kisah ini benar-benar membuat saya tersadarkan. Kesetiaan tidak dapat diraih dalam waktu sekejap. Kesetiaan adalah sebuah proses panjang sebuah hubungan. Apakah itu hubungan antar manusia pun manusia dengan makhluk lain.
Mungkin saya bukan Hachiko yang begitu setia dengan tuannya atau Ibu Ainun yang memegang teguh kesetiaannya hingga ruh itu terlepas. Saya hanya perempuan yang cukup tahu apa itu mencintai, pengorbanan, dan kesetiaan. Saya perempuan yang tahu menempatkan kesetiaan saya sampai sejauh apa. Saya perempuan yang tahu kepada siapa saya harus setia dan menunggu kehadirannya.
Kesetiaan itu langka tapi ada.

A True Story of Faith, Devotion and Undying Love 

Saturday, May 08, 2010

Aku dan Film -Yang Terampas dan Yang Putus

Yang Terampas dan Yang Putus, sebuah film pendek yang digagas oleh kawan-kawan, adik-adik, dan sahabat-sahabat saya di Sastra Indonesia Unair yang menyematkan nama Ksatria Pena sebagai identitas mereka. Mereka mempersembahkan film ini pada acara penghormatan dan mengenang kembali Chairil Anwar di bulan April mendatang. Saya tentu saja tidak akan membahas apa dan bagaimana isi dan jalan cerita film ini karena saya sedikit pun belum menyaksikannya. Saya sedikit banyak mengikuti perjalanan mereka dalam pembuatan film ini, itupun secara tidak langsung. Mengingat keberadaan saya yang tidak intens di kampus. Tapi di atas semua itu, saya sangat yakin bahwa film ini merupakan tonggak dimulainya masa-masa pembuktian bahwa Sastra Indonesia Unair memiliki generasi-generasi kreatif. Tidak hanya di dunia literasi tapi juga industri kreatif lainnya.

Lepas dari semua itu, saya, secara pribadi merasa perlu berkaca dan merenung kembali ketika membaca judul |Yang Terampas dan Yang Putus|...

Ya... Aku merasa menjadi sosok itu. Yang Terampas dan Yang Putus. Banyak hal yang telah terampas dalam hidupku. Banyak ikatan yang kuputuskan untuk langkah yang kemudian ku ambil. Menyesalkah aku? Sepertinya tidak. Paling tidak hingga detik ini aku masih tegak berdiri. Jika kemudiannya aku nampak menghilang dari semua rutinitas kehidupanku sebelumnya. Itu semata-mata merupakan konsekuensi dari keputusan yang telah ku ambil. Banyak hal yang terampas dariku. Mungkin juga bahagia dan senyum. Tapi tidak dengan HARAPAN.

Chairil, Aku, dan mungkin masih banyak orang-orang di luar sana pasti juga pernah merasakan menjadi seseorang Yang Terampas dan Yang Putus. Apapun dan bagaimanapun mereka dan kami. Ada satu hal yang pasti tak akan mampu dirampas oleh siapapun dari diri kami adalah HARAPAN dan MIMPI. Karena dengan dua hal itulah langkah-langkah kecil kami dapat kami tapaki. Meninggalkan segenap lara yang tersisa. Untuk setitik asa dan bahagia.



|in the middle of the night @ my little room|

Thursday, November 12, 2009

Ingin Bertemu The Yes Man???

YES MAN~Another Jim Carrey's Movie... Film-film Jim Carrey selalu menarik untuk dinanti. Termasuk Yes Man. Ide film ini cukup unik, bagaimana ketika seseorang dihadapkan pada situasi ia harus berkata YA pada semua kesempatan yang datang padanya. Heum... cukup susah, apalagi jika yang melakukannya adalah seseorang yang memiliki kepribadian introvert seperti Carl Allen, tokoh yang diperankan Jim Carrey.
Carl memiliki kepribadian introvert, terlebih setelah ia bercerai dengan istrinya. Ia selalu menghindar jika diajak hang out oleh sahabat-sahabatnya, ia lebih memilih nonton DVD di apartemennya. Ia selalu menolak aplikasi kredit (Carl bekerja di Bank) yang masuk ke mejanya. Ia juga selalu menolak pada setiap kesempatan yang datang padanya.
Sampai pada satu titik ia merasa hampa. Dan kemudian ia bertemu dengan teman lamanya yang mengajaknya ke seminar YES. Seminar itu mengkampanyekan YES untuk semua kesempatan yang lewat dalam hidup kita. Dalam seminar itu Carl terpaksa berkomitmen dengan Terrence "Sang Guru" untuk selalu berkata YA. Jika tidak maka Carl akan mendapatkan musibah.
Petualangan Carl dimulai. Hidupnya mulai terbuka. Carl mencoba hal-hal baru, kongkow ama sobat-sobatnya, bertemu dengan perempuan yang menarik hatinya, hingga disangka teroris. Semua pengalaman baru itu membuat Carl tersadar bahwa banyak hal yang terlewat dalam hidupnya. Sampai pada satu titik Carl sadar ia tak seharusnya berkata YA pada semua hal. Ia berhak berkata tidak jika tidak sesuai dengan hati nurani dan kehendaknya. Tapi satu hal yang harus ia lakukan adalah mencoba membuka diri terhadap segala kemungkinan.

Film ini menggugah pikiran nakal saya. Andaikan saya bertemu dengan My Yes Man. Yang akan mengamini setiap yang saya inginkan. Hahahahahaha Ngarep banget sih.... Tapi actually aku pernah bertemu dengan laki-laki yang seperti ini. Ia selalu menuruti apa yang aku inginkan. Menemani kemana aku pergi, berkata ya pada semua yang aku mau dan minta... Yang pada akhirnya aku sadar bahwa itu semua mungkin tidak sepenuhnya ia lakukan karena dia inginkan. Tapi ada rasa terpaksa dan nggak enak nolak permintaanku.  Pada akhirnya ia terus membohongi diri sendiri dan ini adalah benih ketidakjujuran.
Nggak enak juga sih kalo kita berhubungan dengan seseorang yang hanya mbeo dan mbebek apalagi dengan terpaksa. Mungkin memang menyakitkan kalau pasangan kita menolak yang kita mau dan berbeda pendapat dengan kita di awal. Tapi akan lebih menyakitkan kalau sebuah hubungan terus-terusan dijalani dengan ketidakjujuran.
Kalau sudah begini, apa aku masih mau bertemu dengan My Yes Man? Ya... aku masih mau bertemu dengan My Yes Man. Tapi saat ia berkata YA itu benar-benar harus karena ia menginginkannya. Tidak dengan terpaksa. Tidak dengan kebohongan. Heum....So...Are You My Yes Man?????  hhehehehehehe

Tuesday, November 10, 2009

Bukan Aborsi Solusinya....

Beberapa waktu lalu, saya menemukan film Juno di rak film penyewaan VCD. Saya begitu tertarik melihat cover VCD tersebut sebelum saya pada akhirnya membaca resume ceritanya. Cover film itu memperlihatkan seorang remaja perempuan muda dengan perut membuncit karena hamil dan juga seorang remaja laki-laki. Saya segera mengambil film tersebut dan pada akhirnya menemani saya menghabiskan malam saat itu.
Juno, kisah seorang gadis remaja yang tumbuh di tengah keluarga yang kedua orang tuanya bercerai dan masing-masing telah memiliki keluarga lagi. Akhirnya, Juno tinggal dengan ayah dan ibu tirinya. Juno memang tergolong gadis muda yang sedikit liar. Ia siswa dari

Monday, November 02, 2009

Pay It Forward - MLM Kebaikan Ubah Dunia

Pernah dengar ungkapan "Kita bisa mengubah dunia dengan sesuatu yang sederhana" mungkin hal ini juga yang mendasari penulisan Pay It Forward karya Catherine Ryan Hyde yang kemudian juga difilmkan dengan judul yang sama. Saya telah menuntaskan buku dan filmnya beberapa tahun lampau bahkan sempat mengulang beberapa kali setelahnya. Namun saya tergelitik untuk menuliskan sekarang karena saya baru saja mendapatkan cuhatan seorang teman mengenai masalah yang dihadapinya.
Teman saya itu beberapa hari lalu saya chatting dengan teman yang sudah beberapa lama tidak bertemu, dengan diawali emoticon cry dia cerita kalau dia baru saja tertipu. Ia telah setahun ini bergabung dengan MLM yang berkedok arisan motor (MLM ini juga yang pernah ia tawarkan dulu pada saya, tapi dengan alasan saya tidak suka berbisnis MLM, maka saya tolak). Ia telah menjadi koordinator arisan dengan beberapa puluh member downline. Tugasnya sebagai koordinator hanyalah sebagai collector dana, yang kemudian akan disetorkan kepada manajer arisan. Pertengahan bulan awal, semua lancar karena semua pemenang arisan mendapatkan motornya, pembayaran arisan pun tidak mengalami penundaan yang berarti. Menurut teman saya, masalah mulai muncul beberapa bulan lalu. Saat sang manajer mulai susah dihubungi, dan kemudian menghilang. Hilangnya sang manajer membuat teman saya panik, karena ia harus segera memberikan motor kepada pemenang arisan. Ketika motor tak juga diberikan, kepanikan itu menular juga kepada member downline teman saya. Teman saya stres karena tekanan yang diberikan semua downline membernya yang meminta uang mereka kembali. Fiuh...kasus ini sekarang masih ditangani polisi dan sang manajer pun masih buron. Hemh.... meskipun teman saya ini tidak berada pada posisi harus mengganti semua uang tersebut, tapi ia juga terbebani, karena dialah yang mengumpulkan uang-uang tersebut.
Kasus-kasus macam ini sudah marak tahun-tahun belakangan ini. Arisan berbagai jenis dengan sistem MLM memang cenderung diminati oleh masyarakat kalangan menengah ke bawah. Contohnya arisan motor teman saya, banyak membernya karena mereka berfikir arisan ini menguntungkan, bisa dapat motor dengan sistem cicil arisan. Namun resikonya juga besar, apalagi kalo apes dapat manajer arisan yang "nakal". Bukannya dapat motor malah uang melayang.
Tidak semua MLM di Indonesia (bahkan dunia) yang berujung penipuan, ada juga sebagian yang memang murni menawarkan bisnis dan keuntungan. Saya tidak akan banyak membahas tentang apa dan bagaimana bisnis MLM ini dijalankan di Indonesia. Tapi, satu hal yang menarik dan saya pikir berkaitan dengan buku dan film yang saya "baca", Pay it Forward.
Dalam Pay it Forward, Trevor McKinney (Haley Joel Osment) mendapatkan tugas dari gurunya di kelas sosial, Eugene Simonet (Kevin Spacey). Trevor membuat sebuah proyek sosial dengan menggunakan  nama  "pay it forward" kalau istilah saya sih "Jejaring Pohon Kebaikan" (hehehehe). Proyek ini dimulai dengan 1 orang akan berbuat kebaikan ke 3 orang lain, untuk membalas kebaikan itu, orang yang dibantu harus melakukan kebaikan ke 3 orang lainnya. Begitu seterusnya sehingga membentuk jejaring pohon kebaikan. Trevor yang mengira proyeknya ini gagal, karena ia merasa gagal membantu orang-orang di sekitarnya, mulai dari membantu tuna wisma bernama Jerry dengan memberinya makan, pakaian, dan tempat menginap. Trevor berharap Jerry dapat membantu 3 orang lainnya tapi ternyata Jerry kembali ke tabiat semulanya sebagai junkies. Trevor juga membantu Ibunya dengan mengenalkannya dengan Eugene dan berharap mereka menjadi pasangan. Tapi ternyata harapan itu pupus ketika ayah Jerry yang pemabuk kembali. Begitulah, satu persatu terjadi dan Trevor merasa proyeknya akan gagal. Tapi tanpa sepengetahuan Trevor proyek Pay it Forward telah jauh melanglang buana dan mengubah dunia tidak hanya di kotanya tapi jauh di luar itu.
Pay it Forward menurut saya adalah salah satu bentuk dari praktek MLM, dalam hal ini MLM Kebaikan. Seseorang yang mampu memberikan kebaikan pada orang lain dalam bentuk apapun dan mampu merubah hidup orang lain. Dan jika "virus" itu menular ke orang lain, maka ini akan menjadi kebaikan yang menggejala. Bayangkan saja jika seperempat saja dari jumlah penduduk Indonesia melakukan pay it forward, maka tidak akan ada kasus kelaparan, kemiskinan, pengangguran, dll di Indonesia.
Mungkinkah itu? Semua bermula dari ide kecil kan? Semua juga dimulai dari sendiri. pay it forward sebuah ide sederhana untuk merubah dunia. Sebuah sistem MLM kebaikan yang pasti tidak akan menimbulkan kabar buruk seperti MLM yang diikuti teman saya. Pay it Forward... apakah mungkin gerakan semacam ini dilakukan di Indonesia...
:-)        

*) Gambar ini diunduh dari www.imdb.com

Ketika Yang Tersisa Hanyalah Air Mata

Hey kamu... Iya kamu... Kamu yang dulu datang lagi dalam hidupku dengan janji tuk tak lagi menghadirkan air mata di wajahku dengan jan...