Thursday, December 08, 2016
RAHASIAMU
Luka seperti apa yang kau simpan
Kebencian sebesar apa yang kau tutupi
Sehingga yang kau beri hanya diam dan kebekuan
Aku benci jeda di antara kita
Aku benci diammu
Tak bisakah kau sekedar meledakkan amarahmu
Atau mungkin aku hanya takut
Jika ternyata lukamu dan amarahmu
Ternyata karnaku
Perempuan Langit, Surabaya 2016
Tak Berjejak
Lepas Subuh itu aku menantikan secercah cahaya
yang menyeruak di antara debur ombak
Cahaya yang menyibak jejak langkah demi langkah
yang kau tinggalkan semalam
Namun...
Hingga terik ini menusuk kulit tak kutemukan jejak itu
Jejakmu...
Mereka hilang seperti dirimu...
Kau datang dan pergi dalam diam
Hanya meninggalkan bayangan hitam
Bahkan dalam pekat malam, bayangmu jauh lebih pekat
Sepekat kopi yang terecap pahit
Sepekar darah yang meleleh dari luka
yang kau toreh...
Perempuan Langit, Surabaya 2016
Wednesday, April 20, 2016
Perempuan...
Perempuan...Ia diajarkan untuk memiliki hati seluas samudera
Yang memiliki ribuan sediaan ruang untuk menyimpan kata maaf dari mereka yang menyakitinya
Yang memiliki jutaan senyum bagi mereka yang ia sayangi
Ia diajarkan untuk menjadi rumah yang nyaman untuk pulang
Tempat yang teduh untuk kembali
Hingga ia dapat begitu saja memeluk hangat mereka dulu pergi dan jejakkan luka padanya
Tapi ia juga serupa lilin
Ia memberi pijar dan terang pada kegelapan
Tapi, itu membuat dirinya luluh tak berbentuk
Ketulusannya membuat dirinya sirna dalam gelap
Terkadang sekokoh pohon
Seberapapun luka yang dicabikkan pada dirinya
Ia tetap kokoh berdiri
Memberikan kehidupan pada makhluk di sekelilingnya
Memberikan keteduhan
Tapi coba lihat lebih dekat
Bekas cabikan itu masih ada di sana
Mungkin dia tidak menunjukkan rasa sakitnya
Namun bekas luka itu tetap berada di sana
Dan sejauh ini aku masih perempuan....
Sunday, November 22, 2015
Ia Masih Menunggunya...
Perempuan itu masih menunggu lelakinya...
Menunggu lelakinya menunaikan janji untuk bertemu dengannya
Menunggu lelakinya menunaikan janji untuk membasuh air matanya
Menunggu lelakinya menunaikan janji untuk menghilangkan resah dan rindunya
Menunggu lelakinya menunaikan janji menghapus sedihnya...
Ia masih menunggunya
Bahkan di penghujung malam
Saat lelakinya datang tak sebahagia dahulu
Ia masih menunggunya
Bahkan dengan sebuncah harapan yang tak pernah surut
Bahkan dengan setia yang tak pernah susut
Bahkan dengan hati yang terus kalut
Ia masih menunggunya menawarkannya tawa yang tak terputus
Ia masih menunggunya dengan senyum yang sama, cinta yang sama, harapan yang sama
Tapi lelakinya tak pernah lagi datang dengan wajah yang sama
Ia tak lagi datang dengan rasa yang sama
Ia hanya datang...
Hanya datang begitu saja...
Mungkin lelakinya tak lagi memandangnya dengan cara yang sama lagi
Ia masih menunggunya
Bahkan dengan airmata tertahan dan senyum tersungging
Ia masih menunggunya menunaikan janji itu
Janji yang terucap kala binar matanya tak seperti saat ini
Mungkin lelaki itu lelah
Tapi ia tak pernah lelah menunggunya
Ia masih menunggunya
Bahkan hingga hari ini...
Saat harusnya lelakinya datang memeluknya dengan erat
mencium keningnya dan membisikkan "selamat ulang tahun sayang..."
Perempuan itu masih menunggunya
Tapi kali ini dengan airmata yang tak lagi terbendung
Rasa rindu yang berubah menjadi sedig yang teramat pedih
Perempuan itu masih menunggu lelakinya
Menawarkan kebahagiaan yang sederhana
Sesederhana senyuman hangat, tatapan penuh cinta, pelukan erat, dan kecupan kening meskipun singkat...
Sesederhana itu...
Perempuan itu masih menunggu lelakinya dengan cinta yang masih sama
Tapi kini airmatanya tak lagi tertahan
Senyumnya tak lagi tersemat
She knew that she lost her man
The man that i loved the most
The man that love her before...
Tuesday, November 03, 2015
Hello Nove : Kulewatkan Hujan Pertamamu
![]() |
| Gambar diambil dari sini |
Sunday, November 01, 2015
Hello November, Apa Kabarmu?
Ratusan hari kita tak pernah bertemu
Masihkah kau sedingin dahulu?
Masihkah kau menawarkanku letup letup berbeda di dada?
Hujan dan tanah basah
Aroma kebahagiaan yang semerbak di setiap ujung jalan
Selalu memberiku alasan untuk tersenyum
Aku merindukanmu
Sama halnya merindukannya
Aku merindukan janjinya untuk pulang
Merindukan pelukannya dan kecup keningnya
Merindukannya membawa sebuket mawar dan berkata "Selamat Ulang Tahun Sayang...."
Aku merindukanmu
Bawakan aku sepucuk harapan
Bawakan aku sebongkah bahagia
Saturday, October 24, 2015
Sabtu Malam yang Menyakitkan
agar tubuh ini terus kau dekap dalam mimpi
Dan menyadari kau tak ada menggenggam tanganku, itu menyakitkan...
Dan berkata pada dunia
Kamu milikku
Tak satupun mereka bisa merenggutmu dariku
Wednesday, September 09, 2015
Karma ini Menyakitkan
Kata orang karma itu tak ada
Hanya...
Apa yang kau tabur itu yang kau tuai
Itu karma...
Dan melepasmu adalah dosa terbesarku
Bukan pada saat aku memilikimu
Sejenak ku pikir ini terbaik bagimu
Tapi mungkin saat itu aku terlalu pongah
Untuk bilang ini terbaik untukku
Dan, titik saat kini ku miliki semuanya
Semuanya... Tapi bukan kamu
Semuanya... Namun tak bisa memelukmu
Semuanya...
Mungkin semuanya... Mungkin juga semuanya hanya semu
Langitnya bunda...
Belahan hati yang terberai entah di mana
Jika ini karma atas dosaku
Karma ini begitu menyakitkan
Bunda merindukanmu nak...
Rindu yang tak pernah tersampaikan
Rindu... Karna entah kapan, rahim ini akan melahirkan anak anak langit sepertimu
Jika ini karma atas kekhilafanku melepasmu
Karma ini begitu menyesakkan
Begitu menyakitkan
Monday, August 31, 2015
Rumahmu
Dan aku akan selalu menjadi rumahmu untuk pulang
Akan selalu kujaga pintu ini terbuka dan menerangi setiap langkah jalan menujunya...
Hingga gelap sepekat apapun tak akan membuatmu tersesat
Untuk kembali padaku
Rumahmu...
Gambar diambil dari http://neslihans.deviantart.com/art/waiting-for-you-141006560
Tuesday, August 25, 2015
Apa Harus Sebegini Sakitnya?
Ingatkah kau pada kisah Sri Rama?
masih ingat bagaimana ia meragukan kesucian Dewi Shinta?
masih terekam jelas pada memorimu bagaimana Dewi Shinta rela tubuhnya dijilat api untuk membuktikan kesuciannya
Sayang....
kalau hingga detik ini kamu meragukanku
meragukan kesungguhanku
meragukan cintaku
perlukah aku berlaku layaknya Dewi Shinta?
perlukah aku menyediakan tubuhku pada jilatan api?
Sayang...
mungkin aku tak sesuci Shinta
tapi cintaku padamu sebesar cintanya pada Sri Rama
aku hanya bisa menyayat tubuhku untukmu
hingga setetes demi setetes darahku jatuh ke bumi untuk bersaksi padamu
aku mencintaimu dengan seluruh jiwaku...
tapi mengapa nyawaku tak jua tercerabut sayang?
padahal sakitnya sayatan ini menelusup hingga kalbuku
meneteskan air mata
apa harus sebegini sakit cara untuk membuktikan cintaku
apa harus sebegini sakit caraku agar membuatmu tetap tinggal
apa harus sebegini sakit untuk membuatmu merengkuh tubuhku yang lunglai
apa harus sebegini sakitnya mencintaimu...
Saturday, August 22, 2015
Bukan Aku yang Kau Rindukan?
Begitu dingin
Bahkan hembusan ringan anginnya begitu menusukku
Makin kueratkan dekapan tanganku di dada
Berdiri di sisi jalan ini, malam ini
Sesekali kupandang persimpangan jalan itu
Dan masih tak kutemukan siluet tubuhmu
Aku menunggumu...
Sama seperti malam kemarin
Aku menunggumu pulang
Dingin malam ini tak lagi terasa dilawan rasa rindu
Aku merindukanmu...
Di setiap pandangan yang kuhempaskan ada wajahmu
Di setiap hembusan nafas ada senyummu
Di setiap sujudku ada namamu
Di setiap langkahku ada kamu
Aku kehilanganmu...
Tak lagi aku temukan wajah damai yang selalu menyambutku di pagi hari
Tak lagi kudapatkan rengkuhan hangat dan manjamu di malam malamku
Tak lagi bisa kubaca diammu
Tak lagi ada kata kata yang membuatku yakin aku pemilik hatimu
Tak ada lagi....
Apakah aku telah benar kehilanganmu, kekasihku?
Apa masih namaku yang kau sebut dalam doamu?
Apa masih aku yang ada di saat kau menutup mata?
Apa masih aku yang selalu kamu andalkan?
Apa masih aku yang memiliki hatimu?
Apa masih aku yang kau rindukan?
Aku masih menunggumu pulang sayang...
Berdiri di sini, masih merapatkan tanganku di dada
Dingin...
Tapi masih tak kutemukan siluetmu malam ini
Aku tak menemukanmu di bawah temaram lampu jalanan itu
Apa kau tak pulang malam ini?
Apa kau tak merindukanku?
atau
Bukan aku yang kau rindukan
Ketika Yang Tersisa Hanyalah Air Mata
Hey kamu... Iya kamu... Kamu yang dulu datang lagi dalam hidupku dengan janji tuk tak lagi menghadirkan air mata di wajahku dengan jan...
-
Awalnya aku nulis di blog tuh cuma ingin mencurahkan semua yang aku pikirkan, rasakan, dan alami. Aku membebaskan jariku untuk menari dan me...
-
Catatan ini hanya sekedar untuk mengingatkan tulisanku yang mana aja sih yang dimuat di media. Biar nanti nggak ketuker dan kekirim lagi ke ...



