Wednesday, April 20, 2016

Perempuan...


Perempuan...
Ia diajarkan untuk memiliki hati seluas samudera
Yang memiliki ribuan sediaan ruang untuk menyimpan kata maaf dari mereka yang menyakitinya
Yang memiliki jutaan senyum bagi mereka yang ia sayangi

Perempuan...
Ia diajarkan untuk menjadi rumah yang nyaman untuk pulang
Tempat yang teduh untuk kembali
Hingga ia dapat begitu saja memeluk hangat mereka dulu pergi dan jejakkan luka padanya

Perempuan...
Tapi ia juga serupa lilin
Ia memberi pijar dan terang pada kegelapan
Tapi, itu membuat dirinya luluh tak berbentuk
Ketulusannya membuat dirinya sirna dalam gelap

Perempuan...
Terkadang sekokoh pohon
Seberapapun luka yang dicabikkan pada dirinya
Ia tetap kokoh berdiri
Memberikan kehidupan pada makhluk di sekelilingnya
Memberikan keteduhan
Tapi coba lihat lebih dekat
Bekas cabikan itu masih ada di sana
Mungkin dia tidak menunjukkan rasa sakitnya
Namun bekas luka itu tetap berada di sana

Perempuan...
Dan sejauh ini aku masih perempuan....

Sunday, November 22, 2015

Ia Masih Menunggunya...

Perempuan itu masih menunggu lelakinya...
Menunggu lelakinya menunaikan janji untuk bertemu dengannya
Menunggu lelakinya menunaikan janji untuk membasuh air matanya
Menunggu lelakinya menunaikan janji untuk menghilangkan resah dan rindunya
Menunggu lelakinya menunaikan janji menghapus sedihnya...

Ia masih menunggunya
Bahkan di penghujung malam
Saat lelakinya datang tak sebahagia dahulu

Ia masih menunggunya
Bahkan dengan sebuncah harapan yang tak pernah surut
Bahkan dengan setia yang tak pernah susut
Bahkan dengan hati yang terus kalut

Ia masih menunggunya menawarkannya tawa yang tak terputus
Ia masih menunggunya dengan senyum yang sama, cinta yang sama, harapan yang sama

Tapi lelakinya tak pernah lagi datang dengan wajah yang sama
Ia tak lagi datang dengan rasa yang sama
Ia hanya datang...
Hanya datang begitu saja...

Mungkin lelakinya tak lagi memandangnya dengan cara yang sama lagi

Ia masih menunggunya
Bahkan dengan airmata tertahan dan senyum tersungging
Ia masih menunggunya menunaikan janji itu
Janji yang terucap kala binar matanya tak seperti saat ini

Mungkin lelaki itu lelah
Tapi ia tak pernah lelah menunggunya

Ia masih menunggunya
Bahkan hingga hari ini...
Saat harusnya lelakinya datang  memeluknya dengan erat
mencium keningnya dan membisikkan "selamat ulang tahun sayang..."

Perempuan itu masih menunggunya
Tapi kali ini dengan airmata yang tak lagi terbendung
Rasa rindu yang berubah menjadi sedig yang teramat pedih

Perempuan itu masih menunggu lelakinya
Menawarkan kebahagiaan yang sederhana
Sesederhana senyuman hangat, tatapan penuh cinta, pelukan erat, dan kecupan kening meskipun singkat...
Sesederhana itu...

Perempuan itu masih menunggu lelakinya dengan cinta yang masih sama
Tapi kini airmatanya tak lagi tertahan
Senyumnya tak lagi tersemat

She knew that she lost her man
The man that i loved the most
The man that love her before...

Tuesday, November 03, 2015

Hello Nove : Kulewatkan Hujan Pertamamu


Hello Nove... 
Kamu tahu jika aku selalu menantikan perjumpaan denganmu
Karena saat kita bertemu, 
sepahit apapun perjalananku 
semua luruh saat kita bertemu 
Kamu menggantinya dengan senyum dan debar dada yang berbeda

Hello Nove... 
Seperti aku merindukan hujan di bulan Juni
Aku selalu menantikan perjumpaan dengan hujan pertamamu
karna saat itulah kau membasuh air mataku 
dan menghilangkan jejak kesedihan di wajahku

Tapi Nove... 
Mengapa tak kau bangunkan aku dari lelapku
Malam kemarin kau datang bersamaan dengan hujan pertamamu
Kau tahu betapa rindunya aku berbincang denganmu
Betapa inginnya aku menari di bawah hujan pertamamu
Hingga terbasuh semua air mata dan kesedihan ini

Nove... 
Aku melewatkan perjumpaan dengan hujan pertamamu semalam
Hadirlah lagi 
Tak hanya di siang tapi malamku
Aku ingin menari bersamamu di bawah rintik hujan


Gambar diambil dari sini

Sunday, November 01, 2015

Hello November, Apa Kabarmu?

November....
Apa kabarmu?
Ratusan hari kita tak pernah bertemu
Masihkah kau sedingin dahulu?
Masihkah kau menawarkanku letup letup berbeda di dada?
Aku selalu merindukan saat saat bertemu denganmu
Hujan dan tanah basah
Aroma kebahagiaan yang semerbak di setiap ujung jalan
Selalu memberiku alasan untuk tersenyum
November...
Aku merindukanmu
Sama halnya merindukannya
Aku merindukan janjinya untuk pulang
Merindukan pelukannya dan kecup keningnya
Merindukannya membawa sebuket mawar dan berkata "Selamat Ulang Tahun Sayang...."
November...
Aku merindukanmu
Bawakan aku sepucuk harapan
Bawakan aku sebongkah bahagia

Saturday, October 24, 2015

Sabtu Malam yang Menyakitkan

Terbangun dengan tubuh dan mata memanas dan menyadari kau tak ada di sisiku, itu menyakitkan
Rasanya aku ingin terus terlelap dan bermimpi,
agar tubuh ini terus kau dekap dalam mimpi
Aah... Mengapa malam minggu  selalu menjadi kelabu
Berjalan dalam riuhnya lalu lalang manusia
Dan menyadari kau tak ada menggenggam tanganku, itu menyakitkan...
Rasanya aku ingin menarikmu dalam gelap
Dan berkata pada dunia
Kamu milikku
Tak satupun mereka bisa merenggutmu dariku
Dan saat kusadari semua kesakitan ini, selalu saat sabtu malam
Itu sangat menyakitkan
@perempuanlangit|Oktober2015

Wednesday, September 09, 2015

Karma ini Menyakitkan

Kata orang karma itu tak ada
Hanya...
Apa yang kau tabur itu yang kau tuai
Itu karma...

Dan melepasmu adalah dosa terbesarku
Bukan pada saat aku memilikimu
Sejenak ku pikir ini terbaik bagimu
Tapi mungkin saat itu aku terlalu pongah
Untuk bilang ini terbaik untukku

Dan, titik saat kini ku miliki semuanya
Semuanya... Tapi bukan kamu
Semuanya... Namun tak bisa memelukmu
Semuanya...
Mungkin semuanya... Mungkin juga semuanya hanya semu

Langitnya bunda...
Belahan hati yang terberai entah di mana
Jika ini karma atas dosaku
Karma ini begitu menyakitkan

Bunda merindukanmu nak...
Rindu yang tak pernah tersampaikan
Rindu... Karna entah kapan, rahim ini akan melahirkan anak anak langit sepertimu

Jika ini karma atas kekhilafanku melepasmu
Karma ini begitu menyesakkan

Begitu menyakitkan

Monday, August 31, 2015

Rumahmu

Dan aku akan selalu menjadi rumahmu untuk pulang
Akan selalu kujaga pintu ini terbuka dan menerangi setiap langkah jalan menujunya...
Hingga gelap sepekat apapun tak akan membuatmu tersesat
Untuk kembali padaku
Rumahmu...

Gambar diambil dari http://neslihans.deviantart.com/art/waiting-for-you-141006560

Tuesday, August 25, 2015

Apa Harus Sebegini Sakitnya?

Sayang....

Ingatkah kau pada kisah Sri Rama?
masih ingat bagaimana ia meragukan kesucian Dewi Shinta?
masih terekam jelas pada memorimu bagaimana Dewi Shinta rela tubuhnya dijilat api untuk membuktikan kesuciannya

Sayang....
kalau hingga detik ini kamu meragukanku
meragukan kesungguhanku
meragukan cintaku
perlukah aku berlaku layaknya Dewi Shinta?
perlukah aku menyediakan tubuhku pada jilatan api?

Sayang...
mungkin aku tak sesuci Shinta
tapi cintaku padamu sebesar cintanya pada Sri Rama
aku hanya bisa menyayat tubuhku untukmu
hingga setetes demi setetes darahku jatuh ke bumi untuk bersaksi padamu

aku mencintaimu dengan seluruh jiwaku...

tapi mengapa nyawaku tak jua tercerabut sayang?
padahal sakitnya sayatan ini menelusup hingga kalbuku
meneteskan air mata
apa harus sebegini sakit cara untuk membuktikan cintaku
apa harus sebegini sakit caraku agar membuatmu tetap tinggal
apa harus sebegini sakit untuk membuatmu merengkuh tubuhku yang lunglai

apa harus sebegini sakitnya mencintaimu...



Saturday, August 22, 2015

Bukan Aku yang Kau Rindukan?

Entah mengapa kemarau malam ini 
Begitu dingin
Bahkan hembusan ringan anginnya begitu menusukku
Makin kueratkan dekapan tanganku di dada
Berdiri di sisi jalan ini, malam ini
Sesekali kupandang persimpangan jalan itu
Dan masih tak kutemukan siluet tubuhmu 

Aku menunggumu...
Sama seperti malam kemarin
Aku menunggumu pulang
Dingin malam ini tak lagi terasa dilawan rasa rindu

Aku merindukanmu...
Di setiap pandangan yang kuhempaskan ada wajahmu
Di setiap hembusan nafas ada senyummu
Di setiap sujudku ada namamu
Di setiap langkahku ada kamu

Aku kehilanganmu...
Tak lagi aku temukan wajah damai yang selalu menyambutku di pagi hari
Tak lagi kudapatkan rengkuhan hangat dan manjamu di malam malamku
Tak lagi bisa kubaca diammu
Tak lagi ada kata kata yang membuatku yakin aku pemilik hatimu
Tak ada lagi.... 

Apakah aku telah benar kehilanganmu, kekasihku?
Apa masih namaku yang kau sebut dalam doamu?
Apa masih aku yang ada di saat kau menutup mata? 
Apa masih aku yang selalu kamu andalkan?
Apa masih aku yang memiliki hatimu?
Apa masih aku yang kau rindukan?

Aku masih menunggumu pulang sayang...
Berdiri di sini, masih merapatkan tanganku di dada
Dingin...
Tapi masih tak kutemukan siluetmu malam ini
Aku tak menemukanmu di bawah temaram lampu jalanan itu
Apa kau tak pulang malam ini?
Apa kau tak merindukanku?
atau
Bukan aku yang kau rindukan






Sunday, July 26, 2015

Dia yang Tak Pernah Mengucap Cinta Padaku

Dia...
Iya dia...
Dia yang menemaniku menari saat hujan senja kemarin
Dia yang memelukku dalam diam
Dia yang meraih tanganku dan mendekatkan ke dadanya

Dia...
Iya dia...
Dia yang selalu menyamakan langkahnya untuk sejajar denganku
Dia yang meraih tubuhku saat akan terjatuh
Dia yang menyediakan pundaknya untukku bersandar

Dia...
Iya dia...
Dia yang membuatku menggila karna rindu
Dia yang membuatku menangis karna terluka dan kecewa
Dia yang membuaktu muram karna kesepian

Dia...
Iya dia...
Dia yang tak pernah berucap cinta padaku
Tak pernah berkata rindu
Tak pernah mendesiskan kangen

Dia...
Iya dia...
Yang masih menjadi lekakiku

Friday, July 24, 2015

Yogya

Kamu...
Selalu menjadi rumah untuk pulang
Selalu menjadi obat membasuh luka
Selalu menjadi ceruk untuk mengubur kenangan buruk

Kamu...
Selalu punya cara menerimaku kembali
Selalu punya alasan untuk membuatku tersenyum
Selalu punya cerita indah untuk ku bawa pergi

Kamu...
Yogya.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...