Skip to main content

Posts

Showing posts from October, 2009

Tentang Sebuah Pilihan

Pilihan dan memilih bagiku adalah sebuah perkara rumit. Karena hal tersebut tidak hanya berhenti pada "proses menentukan pilihan" tapi sampai pada pertanggungajawaban yang menyertai pengambilan keputusan. Terkadang aku bertanya-tanya sendiri jika memang takdir kita telah tersurat sejak kita terlahir, lantas mengapa kita masih dirumitkan dengan pilihan-pilihan dalam hidup. Tapi, lantas aku tersadar bahwa hidup takkan terlepas pada sebuah pilihan-pilhan.
Dan aku tersudut dalam keheningan di sini, sedang menimbang berbagai pilihan yang berkecamuk dalam otakku. Setiap subjek permasalahan yang mempunyai pilihan-pilihan untuk dipilih. Aku dihadapkan pada pilihan-pilhan yang sungguh membuatku penat. Coba kalian pikir aku harus memilih antara menyelesaikan skripsi yang deadlinenya makin dekat, usaha yang mulai jalan dan butuh konsentrasi, dan gelitik kreatifitas yang terus menggodaku untuk terus menulis dan berkarya. Semua pilihan yang penting buatku dan sulit buatku membuat priori…

Sepucuk Surat dari Lokalisasi

Malam itu dengan lampu seadanya, Aning terlihat sedang menulis. Ia menulis sambil meneteskan airmata.
Dari Aning di Surabaya buat Bapak-bapak Polisi Pak Polisi, Aning mau minta tolong. Tolong bebasin ibu Aning yang bapak tangkap dua minggu yang lalu. Aning tahu Ibu sudah salah, udah bunuh orang. Tapi itu juga salah Mami, Ibu waktu itu lagi sakit tapi Mami maksa Ibu kerja. Trus Om itu juga mukulin Ibu Aning. Aning mau jenguk Ibu tapi nggak boleh keluar ama Mami. Mami takut kalo Aning kabur. Pak Polisi selama ini Ibu kerja cuma buat nyekolahin Aning. Trus kalo Ibu dipenjara, siapa yang bayarin sekolah Aning ? Sebentar lagi Aning masuk SMP, Aning tetap mau sekolah. Tolong ya Pak, bebasin Ibu Aning. Aning nggak pengen jauh dari Ibu. Kalau nggak ada Ibu, orang-orang di sini jahat ama Aning. Aning  juga ga punya temen lagi. Orang-orang bilang Aning anak pembunuh. Tolong Aning Pak Polisi, bebasin Ibu. 
Ia mengakhiri tulisannya. Ia masukkan secarik kertas itu ke dalam amplop. Aning mengendap ke…

Tlah kudapatkan kembali Langitku

Pernah dengar kata-kata kebahagiaan akan hadir di saat yang tepat dan cara yang indah... Tanyakan padaku apakah kata-kata itu berhasil padaku!!! Kalau sekarang aku pasti akan menjawab YA... Empat bulan yang lalu, aku berada pada titik nadir... Dia, yang kupanggil langit, yang selama ini kujadikan sandaran, padanya kurajut mimpi-mimpi masa depan, dengannya kucoba tuk lalui semua kegetiran meskpiun tertatih, dia memilih tuk menjauh. Aku yang selama lebih dari empat tahun dibawanya terbang ke langit ke tujuh seakan dijatuhkan begitu saja ke bumi. Aku terjatuh dan hancur. Aku marah, sakit hati, kecewa, terluka, dan hancur. Semua mimpi yang kubangun seketika hancur tak berpuing dan lenyap bagai debu yang dihembus angin. Sempat aku menggugat Tuhan atas semua ketidakadilan ini, mempertanyakan apa salahku. Dan terus saja menyalahkan orang lain, diri sendiri, bahkan Tuhan. Api kehidupan dalam ragaku seketika padam. Tak lagi berarti semua di luar diriku. Tapi, kemudian aku disadarkan. Terus me…

Nge-Blog ampe Mati

Tanggal 27 Oktober ini katanya sih hari nge blog nasional...Weeeww, aku baru tahu sih heheheheh
Nothing special about this day, aku bangun jam 11 siang setelah tidur mulai jam 4 pagi... Cuma sih emang bedanya apa yang aku lakukan sebelum dan sesudah tidur...Yupiii Nge-Blog...Aktifitas yang baru-baru aja aku temuin keasyikannya (kemana aja aku nih selama ini)
Pengen buat tanggal 27 Oktober nih hari spesial sih...Setelah menimbang dan berpikir...Akhirnya kuputuskan
drendengdengdengdengdeng
Komitmen Ngeblog Ampe Mati

Susah nih bikin komitmen ini, tapi ya... harus ada yang spesial kan. Kalau ditanya kenapa aku bikin komitmen nggak penting kayak gitu. Weits itu penting ya, at least buat aku. Karena sebelumnya juga telah berkomitmen untuk menjadi seorang penulis. Penulis yang menulis bukan untuk alasan apapun di luar karena dia ingin menulis (termasuk uang dan popularitas hahahahah).
Dan perkara sampai kapan aku bakal menulis dan ngBlog...Mungkin sampai jari-jariku tak bisa lagi menekan tus…

Bunyi dan Sunyi

burung berkicau
anjing menggonggong
laki-laki menjerit
berteriak...berteriak
kendaraan beradu gas
pesawat menggeram di langit
srigala melolong
melengking...melengking
lengkingan memekakkan telinga
aku bertanya akankah sunyi datang

Beku

aku duduk terdiam tanpa kata-kata tulangku gemetar lututku mengkerut kerongkonganku kering bukan tanpa sebab aku beku...jiwaku...ragaku... aku beku karna mata itu mata elang itu mata itu bukan milikku aku ingin mata itu untuk hangatku jiwaku ragaku yang beku

Aku...Mengapa?

ketika tuturan tak lagi didengar
ketika tawa tak lagi berarti
ketika tangis tak lagi mengobati
lantas mengapa...
mengapa rintik hujan masih membasahi tanah
mengapa nafas masih menderu di dada
mengapa ruh masih melekat
toh...
hidup matiku tak berarti bagimu
ah ya... aku tahu
aku juga tak lebih berarti berada di dekatMu

Aku Perlu Lebih dari Sekedar Kata

aku perlu lebih dari sekedar kata 'tuk sampaikan apa yang ku ingin aku perlu lebih dari sekedar cinta 'tuk pahami yang aku cinta tapi... tak lagi kupahami apa makna kata dan arti cinta mungkin juga... tak penting lagi bagiku apa sebuah kata dan sebentuk cinta itu berarti karna sekarang kata dan cinta telah tunduk tunduk pada sesuatu yang kini perlahan menyergapku maut.... cuihhhh... hanya pada maut saja mereka tunduk hahahahahahahaah tapi... memang pada mautlah aku tak mampu berkutik

Badai

Semilir angin untuk membasuh peluhku tak juga mengalir
Melainkan badai yang menghempas ragaku
Bukan badai yang kuinginkan
     tapi badailah yang menemaniku dalam kesendirian
Jika itu telah tersurat
Badai sebesar apapun akan kuterima
    dengan senyum
Krna hanya badai yang memelukku dalam kehangatan
   tanpa rasa rikuh...bersamaku
Badai...datanglah padaku

Cinta Platonik : sekedar cinta atau simbol ikhlas

Beberapa waktu lalu aku terjebak dalam percakapan tentang cinta dengan seorang kawan. Tiba-tiba ia mencetuskan kata-kata, "Cinta yang tak harus memiliki itu platonik. Sakit jeh..." Kata-kata yang membuatku lantas berpikir, apakah memang "Cinta yang tak memiliki" atau cinta platonik itu memang hanya menyisakan kegetiran??? Benar jika cinta akan membawa kebahagiaan bagi dua insan yang merasakannya. Cinta akan meninggalkan bunga-bunga indah dalam kehidupan ketika cinta itu bersemi dan tumbuh. Namun bagaimana jika di perjalanan sebuah hubungan rasa cinta itu menghilang. Muncul ketidaknyamanan satu sama lain atau salah satu diantaranya. Pun ketika ternyata kita harus menerima kenyataan pasangan kita menemukan kembali kenyamanan dan cinta itu pada diri yang lain. Kalau sudah demikian apa kita masih tetap berkeras mempertahankan hubungan itu. Cinta memang harus diperjuangkan tapi juga tidak bisa dipaksakan, kan? JIka sudah demikian, satu-satunya cara melepas dia meraih ke…

Aku Sebuah Daun

aku sebuah daun daun... aku baru saja jatuh gugur baru saja aku menikmati hembusan angin sinar matahari yang memasuki pori-pori hijauku


tapi... kini aku berada di bawah di tanah... terinjak-injak dipermainkan oleh angin terombang-ambing tubuhku terkoyak-koyak hancur perih ku ingin kembali-kembali tubuhku... aku ingin tumbuhku kembali aku tak mau terkoyak-koyak aku ingin kembali di pucuk sana aku sebuah daun sebuah daun

Jika Saja

Jika saja aku dapat mengartikan setiap tetes air matamu Jika saja aku dapat membaca setiap tarikan senyum di bibirmu Jika saja aku dapat menafsirkan setiap hela nafas di dadamu Jika saja itu terjadi.... Mungkin kamu masih ada di sisiku dan saling mempererat tautan genggaman kita Jika saja kamu tak terlarut dalam kebekuan diammu dan Aku terlalu bodoh untuk memaknakan semua

Tubuh yang Salah

Ruh...Aku terlahir dengan ruh dan raga yang tak padu Ruh...Ruhku melayang menari, mencari tempat bersemayam Ragaku tak dapat menariknya kembali Ruhku tak ingin menetap, ragaku tak ingin berpindah Aku marah... Aku bingung...Ruhku...Ragaku... Dengarlah teriakku...Bersatulah... Bersatulah demiku... Demi Tuanmu !!!

Ketika siang beranjak senja dan malam pun datang, aku selalu menjadi resah. Keresahan yang datang tak terduga dan mengendap terus pada diriku sepanjang malam. Keresahan yang begitu menyiksaku, sehingga dada ini begitu sesak dan kepalaku begitu berat juga oleh beban yang tak tahu pula apa sebabnya. Yang aku tahu, aku hanya tak suka sendiri dalam sepi ketika malam tiba. Kesendirian membuatku berpikir banyak hal dan itu tidak baik buatku. Karena dengan begitu aku akan sibuk mempertanyakan ini dan itu. Pertanyaan-pertanyaan yang kelewat pintar untuk mempertanyakan sesuatu yang tak mudah untuk dicari jawabannya. Pertanyaan yang begitu sederhana tentang kedirianku. Tapi pertanyaan y…