Saturday, September 19, 2009

Tersenyumlah Bidadariku


Gadis itu tengah duduk dan membaca secarik kertas dalam kamarnya yang sedikit temaram. Sebuah undangan untuk orangtua mahasiswa yang akan diwisuda. Gadis itu Lina. Lima hari lagi ia akan meraih gelar Sarjana Komunikasi.
"Apa aku harus kembali ke rumah itu ya, sudah hampir empat tahun aku tak pernah lagi menginjakkan kakiku di sana." Lina bergumam
Memang telah empat tahun ia tak pernah lagi mengunjungi tempat ia dahulu merenda masa kanak-kanak dan remajanya. Sejak ia terlibat perang mulut dengan papanya. Masalah yang harusnya bisa diselesaikan dengan kepala dingin. Hanya karena papa Lina menginginkan anaknya untuk kuliah di Kedokteran sementara Lina lebih memilih Ilmu Komunikasi sebagai jalur pendidikannya. Secuil masalah yang mengakibatkan perang argumen panjang yang tak berkesudahan. Dalam keadaan emosi, Lina memutuskan untuk meninggalkan rumah. Walau memang dengan berat hati, ia harus meninggalkan adiknya Rani yang saat itu masih kelas 2 SMP. Lina meninggalkan rumah tanpa menengok lagi. Sesekali ia bertemu dengan adiknya di luar rumah namun pertemuan itu seperti pertemuan dua makhluk asing yang tak saling mengenal. Lina menyesali semuanya, andai saja Mamanya tidak terlalu cepat meninggalkann mereka pasti pertengkaran itu akan sedikit terhindari dan ia tak harus meninggalkan rumah.
Lina bangkit dari kursi dan meraih HPnya yang sudah cukup lama berdering. "Hai Bram, ada apa?" Tanya Lina.
"Lin, inget ya besok ada meeting, datang lebih pagi ya!" Sahut Bram. "Pasti." Jawab Lina singkat.
"Ya, kalau begitu 'met bobo ya sayang." Bram mengakhiri pembicaraan.
Bram adalah orang terdekat Lina saat ini. Dia yang sering memberikan semangat pada Lina untuk menjalani hari-harinya. Bram juga yang meberikan Lina kesempatan untuk bekerja di radionya sebagai Public Relation.
***
Pagi itu Lina berangkat ke kantor dengan banyak hal yang berkecamuk di kepalanya. Ia menjadi sulit berkosentrasi dalam pekerjaannya. Bram melihat perubahan dalam sikap Lina yang cenderung lebih pendiam dan murung.
Bram menghampiri Lina, "Ada apa sih ? Seharian ini kamu kusut banget." Tanya Bram.
Lina menyerahkan surat undangan wisuda itu pada Bram. Bram membacanya, kemudian berkata "So, what's wrong?"
"Kamu sendiri kan tahu, aku sudah lama tidak berhubungan lagi dengan Papa. Sekarang tiba-tiba aku harus bertemu lagi dengannya. Aku bingung, lebih tepatnya canggung dan gugup." Kata Lina.
"Kenapa kamu harus bingung, justru sekarang waktunya kamu menunjukkan pada Papamu, kalau kamu bisa berhasil walau tanpa bantuannya." Jawab Bram.
"Tapi..." Lina masih bimbang.
"Sudahlah, nanti sepulang kerja aku antar kamu ke rumah. Okey...." Kata-kata Bram disambut anggukan Lina.
***
Rumah itu tetap tidak berubah. Masih bercat putih, sama seperti saat Lina terakhir mengunjunginya. Dan masih terlihat angkuh. Sejenak Lina ragu untuk melangkah masuk, namun Bram meraih tangannya dan membimbingnya ke dalam.
Pintu terbuka dan nampak Bik Minah. "Non..." Perempuan tua itu terkejut. "Ada Papa Bi' ?" Tanya Lina. Bik Minah nampak gugup. Lina berjalan masuk dan melihat sekeliling, 'memang tidak ada yang berubah' pikir Lina.
"Bapak sudah 2 minggu tidak pulang, Non. Ehm...semenjak Non pergi dari rumah, banyak yang telah berubah Non. Bapak jadi jarang pulang, katanya urusan bisnis. Sedangkan mbak Rani sering pulang malam bahkan juga tidak pulang." Jelas Bik Minah panjang lebar. Lina tersentak kaget mendengar penjelasan Bik Minah.
"Sekarang Rani ada di kamar ?" tanyanya kemudian.
"Ada Non di kamar, sudah dua hari ini Mbak Rani tidak keluar kamar. Mbak Rani juga tidak memperbolehkan saya masuk ke kamarnya. Oh ya non, minum apa ?" Tanya Bik Minah.
"Buatkan untuk Bram saja, saya tidak usah." Kata Lina. Lina kemudian memandang Bram, "Bram aku naik dulu ya, perasaanku nggak enak." Kata Lina sambil menaiki tangga.
Lina sudah berada di depan kamar adik semata wayangnya. Ia membuka pintu itu perlahan. Ternyata...pemandangan di hadapannya membuat Lina benar-benar syok. Rani sedang menyuntikkan jarum ke tangannya.
"Rani !!!"Lina berteriak dan berlari ke arah Rina. Ia segera merampas alat suntik dari tangan Rina.
"Apa-apaan kamu !! Kamu make ?" Teriak Lina pada adiknya.
 "Bukan urusan kamu ! Ngapain kamu ke sini ? Urus aja diri kamu sendiri." Teriak Rani. Ia nampak kesakitan.
"Ran, ini aku Lina, kakakmu." Kata Lina sembari mendekati Rani. Rani menghindar dan berlari ke pojok ruangan. "Aku nggak punya siapa-siapa. Aku sendirian. Kamu tahu itu, aku sendirian." Rani berteriak , kemudian ia tertawa nyaring. Namun tawa itu getir. Dan berubah menjadi tangis yang menyayat. Lina berlari ke arah Rani dan mencoba meraih tubuhnya. Namun adiknya itu meronta. "Pergi kamu !! Di mana kamu saat aku kesepian, saat aku ada masalah. Aku sendirian di sini." Rani berkata dengan semakin terisak.
"Maafin aku ya, Ran. Aku sayang sama kamu. Aku janji nggak bakalan ninggalin kamu lagi." Jawab Lina. Lina perlahan-lahan mendekati adiknya dan mendekapnya. Rani semakin meronta namun dekapan Lina tak melemah.
"Tenang ya, Ran. Mulai saat ini aku akan terus di samping kamu. Kamu bisa andalkan aku. Maafkan mbak Ran, karena keegoisan mbak kamu jadi menderita seperti ini. Mbak akan bantu kamu lepas dari semua ini." Kata Lina sambil membelai rambut adiknya. Rina semakin tenang kemudian ia membimbingnya untuk berbaring di tempat tidur.
"Bik...." Lina berteriak. Bik Minah tak datang sendiri, ia bersama Bram. "Bik Tolong telepon dokter." Kata Lina. Bik Minah segera keluar. "Bram, tolong geledah kamar ini, mungkin masih ada yang tersiksa." Kata Lina sambil menyerahkan jarum suntik itu pada Bram. Rupanya Bram telah mengerti maksud Lina.
***
Keadaan di rumah sudah mulai terkendali. Rani sudah tenang. Dr. Soemitro menyarankan untuk membawa Rani ke rehabilitiasi. Namun Lina menolak. Ia ingin Rani disembuhkan di rumah. Lina juga telah menelepon papanya dan memintanya segera pulang. Ia juga meminta cuti pada Bram.
Saat Papa Lina datang, mereka berbicara di ruang kerja. Lina telah menceritakan semua yang tadi terjadi  termasuk maksud kedatangannya hari ini. Diserahkannya undangan wisuda itu pada sosok lelaki di hadapannya. Papa Lina menerima dan membacanya.
"Jadi..." Papa Lina menggantungkan kata-katanya.
"Saya harap Papa bisa hadir di wisuda saya." Jawab Lina.
Papa Lina berjalan ke arah jendela. Lalu ia berkata, "Mengapa saya harus datang ?" Pertanyaan itu sedikit menyulut emosi Lina, namun ia teringat Rani. "Karena bagaimanapun Papa adalah orang tua Lina. Lina ingin membuat Papa bahagia dan bangga pada Lina." Lina mencoba menahan emosinya. Papa Lina berbalik merentangkan tangannya. Lina nampak terkejut, namun segera ia menghampiri dan memeluk Papanya.
"Pasti Papa akan datang. Papa bangga sekali kamu telah berhasil walaupun tanpa biaya dari Papa. Papa bangga nak." Kata-kata itu meluncur dan menyirami hati Lina yang selama ini kering. Ia menangis terharu. "Kak...." Rani nampak membuka pintu.
"Rani...sini sayang." Kata Papa. Rani mendekat dan merekapun berpelukan. "Maafkan Papa ya, Papa janji akan selalu bersama dengan kalian." Janji Papa.
Senyum di bibir Rani mengembang. Senyum itu membuat Lina lega. Ia berjanji akan selalu menjaga senyum itu agar terus merekah. Semoga kini hanya ada kebahagiaan di hidup mereka.
Selesai 
       

Lantas Apa ?


Ketika rindu tak lagi membuncah
Ketika rasa tak lagi menggelora
Ketika hati menjadi terbelah
Lantas apa lagi yang tersisa dari sebuah kisah cinta
Bimbang...
Ketika panah lain menusuk hati yang satu dan membelahnya
Meninggalkan luka yang menyakitkan,
       namun nikmat
Aku tak dapat khianat dari rasa ini
Tapi...panah itu makin menarikku dalam pusaran yang tak berujung
Apakah aku berkhianat...
Lantas apa...
Cintakah juga yang kurasakan
Dalam diam aku kubur semua
Karena rasa memang selalu salah
Karena ini memang bukan cinta
       lantas apa ?

Friday, September 18, 2009

Kisah tentang Rintik Hujan dan Anak Payung

Pagi ini begitu dingin sepertinya aku tidak berada di kotaku saja. Kotaku yang identik dengan hawa panas dan kering kini berubah lebih dingin dan sejuk. Ya...sepertinya dewi hujan masih betah untuk mencurahkan airmatanya di kotaku ini. Hingga hampir setiap saat jalanan kota ini akan basah karena kucuran airmata dewi hujan. Dan begitupun pagi ini, rasanya malas sekali beranjak dari dalam kamar, di luar hujan masih turun. Tapi bagaimanapun kehidupan harus terus berjalan tidak mungkin hanya karena hujan laju kehidupan berhenti.
Dan begitupun aku, yang kemudian beranjak keluar menemui sejuknya udara pagi itu. Sepiring nasi goreng dan segelas jus jeruk di atas meja membantuku melewati pagi yang dingin ini. Aku segera menyelesaikan hidangan pagiku dan bergegas pergi ke tempatku mengadu nasib. Tempatku mendapatkan nafkah. setelah perutku cukup terisi, aku menghampiri motor bututku di lorong samping rumah. Dengan motor butut ini aku melewati hari-hariku di jalanan.
Jalanan kota ini telah basah, sepertinya hujan semalam masih meninggalkan sisa-sisa langkahnya di jalanan kotaku. Aku melajukan motorku lebih kencang meskipun angin dingin serasa menusuk kulitku. Aku menuju sebuah plaza di kotaku. Sebuah plaza yang bersandingan dengan monumen kebanggan kotaku. Aku pelayan  di sebuah restoran cepat saji di sana. Dengan pekerjaan itulah aku dapat bertahan untuk membiayai kuliahku.
Segera aku memasuki areal plaza, aku menuju tempat parkir motor untuk menitipkan motorku selama aku bekerja. Gerimis kecil menyambutku sesampainya aku di sana. Aku sedikit berlari menuju pelataran plaza agar seragam kerjaku tidak terlalu basah karena hujan. Di saat aku berlari-lari kecil pandangan mataku tertumbuk pada beberapa anak kecil yang berjalan menuju pelataran plaza. Anak-anak itu membawa payung tapi tidak untuk dipakainya. Hanya ditutup saja. Sementara tubuh mereka mulai basah karena airmata dewi hujan.
***

"Mbak...Mas...Om...Tante...Payung."
"Payungnya mbak...mas...daripada kehujanan. Saya antar sampai parkir."
"Jok entuk piro?" Tanya Dodik. Anak yang bertubuh paling besar diantara teman-temannya.
"Loro, Dik. Iku ae sik dienyang. Koen piro?" Tanya Joko balik.
"Siji...Wonge pelit-pelit. Wani kudanan timbang nyewo payung." Jawab Dodik.
"Yo wis lah...balik ta iki, moleh ae, wis sepi aku yo kademen." Sergah Tono, anak-anak laki-laki lainnya.
Kata-kata Tono disambut anggukan oleh teman-temannya yang lain. Mereka berjalan menjauh dari plaza itu. Mereka menuju terminal tua yang telah lama beralih fungsi sebagai rumah mereka.
Tanpa mereka ketahui di balik kaca-kaca plaza itu. Di dalam sebuah restaurant cepat saji, seorang gadis yang tengah membersihkan meja telah memperhatikan gerak-gerik mereka. Pandangan gadis itu lekat pada anak-anak itu hingga mereka meninggalkan plaza. Dan gadis itupun melanjutkan pekerjaannya.
***
Hujan hari ini turun terus dengan derasnya. Kendaraan di jalanan berjalan merambat berharap hujan akan berhenti berganti terang jauh di depan mereka. Orang-orang yang sedari tadi berada di dalam mall nampak berdiri di depan pintu masuknya. Sesekali melongok ke luar pintu kaca berharap hujan reda malam itu. Mungkin mereka ingin pulang ke rumah dan membuka belanjaan mereka sedari tadi.
Aku berdiri di antara belasan orang yang berdiri menunggu hujan sedikit reda. Sesekali aku melihat arloji di tanganku. Pukul 9 malam. 'Kalau aku nggak pulang sekarang bisa-bisa kemaleman sampai di rumah' pikirku.  Sementara itu satu persatu orang di kanan kiriku telah beranjak pergi dengan ojek payung di samping mereka.
"Mbak, payung mbak, 3000 ae mbak, yo mbak?" seorang anak laki-laki menghampiriku menawarkan jasanya.  Aku memandangnya dengan seksama dari bawah hingga atas. Sepertinya aku kenal anak ini.
Anak laki-laki itu masih saja memandangku, "Yok mbak, kemaleman loh nanti." Mendengar kata-kata itu sekali lagi aku melihat arloji di tangan. "Ya udah, sampai parkiran ya." Kataku singkat, disambut sunggingan senyum di wajahnya. Segera ia membuka payung yang sedari tadi ditentengnya. Diarahkannya payung itu ke arahku. Kami berjalan menuju tempat parkir.
"Dari siang aku lihat kamu ada di sini. Nggak sekolah?" Tanyaku.
"Nggak mbak, aku kerja." Jawabnya singkat. Jawabannya membuatku terpekur.
"Nama kamu siapa?" Tanyaku lagi. "Dodik, mbak." Jawabnya singkat. Aku memandangnya lagi dengan seksama sambil sesekali melihat jalan di depan.
"Nama mbak, Dina." Kataku padanya. Dodik tidak memberikan reaksi apa-apa ketika aku menyebutkan namaku.
Malam itu aku berpisah dengan bocah lelaki penyewa payung di tengah rintik hujan. Dan sejak itu bocah itu tak pernah hilang dari ingatanku. Bocah laki-laki kurus dengan payung di tangannya dan tubuh yang hampir semuanya basah.
***
Hari ini aku dapat shift sore, lumayan bisa mampir kampus dulu tadi mengerjakan beberapa tugas kuliah. Dari kampus aku harus memacu motorku lebih cepat karena langit mendung telah membayang di belakangku. Aku menyusuri jalan yang biasa kulewati. Di seberang traffic light terakhir sebelum mall tempatku bekerja terlihat penuh dengan orang berseragam. Satpol PP dengan segenap alat pentungan dan mesin buldozer. Sepertinya penggusuran lagi.
Aku berhenti di traffic light sambil terus memperhatikan para petugas Satpol PP mendesak warga yang tinggal di stren kali untuk meninggalkan daerah itu. Memang daerah yang tidak seharusnya menjadi tempat pemukiman itu kini dipenuhi rumah kardus.
Pandanganku sejenak terpaku pada seorang petugas yang mendorong anak laki-laki dengan tongkatnya. Sesekali petugas itu mengeluarkan kata-kata kasar kepada anak itu. Mataku kucoba fokus pada anak laki-laki yang sepertinya kukenal. Tapi lampu kemudian berubah menjadi hijau dan terpaksa aku harus melajukan motorku. Sesekali aku menolehkan kepala ke belakang melihat lagi adegan penggusuran itu. Bunyi klakson yang bersahutan membuatku harus bergegas.
***
Aku lelah sekali, hari ini pengunjung restoran cepat saji tempatku bekerja kebanjiran banyak sekali manusia. Banyak piring dan sampah yang harus diangkut dan dibersihkan. Di luar, rintik hujan datang lagi. Sambil membersihkan meja-meja mataku liar memandangi keadaan di luar sana.
Waktu rasanya begitu lambat berlau. Satu persatu manusia datang dan pergi di restoran ini. Sekelompak anak bergerombol di depan pintu masuk mall yang berada di samping restoran tempatku bekerja. Mereka membawa serta payung-payung di tangan. Hem...aku ingin sekali bertemu dengan anak laki-laki itu. Tapi sejak tadi aku mencari-cari Dodik, anak penyewa payung itu, tapi tak kutemukan di antara teman-temannya. Sementara hujan semakin deras di luar dan orang-orang semakin banyak yang berdatangan di restoran tempatku bekerja, mungkin menunggu hujan reda.
Aku menyelesaikan semua pekerjaanku ketika langit telah gelap. Namun hujan masih belum juga reda. Aku berjalan menuju anak-anak yang menyewakan payung.
"Kalian lihat Dodik, kok dia nggak datang?" Tanyaku pada anak-anak itu. Pertanyaanku disambut dengan pandangan bertanya.
"Dodik gak ikut mbak, dia di rumah sakit." Kata salah seorang dari mereka.
"Di rumah sakit ? Memang dia kenapa ?" tanyaku lagi. Namun kemudian aku teringat kejadian siang tadi. Sementara itu anak-anak di depanku itu nampak tertunduk.
"Gara-gara penggusuran tadi siang ya ?" Aku mencoba mencari pembenaran dari mereka. Salah satu dari mereka kemudian mengangguk dan berkata "Ya mbak, kepalanya bocor kena pentung petugas. Sekarang di Karang menjangan mbak." Mendengar semua itu tak terasa bulir air mata menetes di pipiku.
Betapa berat beban kehidupan yang harus ditanggung anak sekecil itu. Aku seakan berkaca dengan kehidupanku juga. Menjadi anak yatim piatu yang dirawat sebuah keluarga yang hangat membuatku terlalu berat menanggung beban itu sendiri. Tapi Dodik, mungkin ia masih memiliki orang tua lengkap. Tapi kehidupan menuntut ia untuk ikut menanggung bebannya. Aku segera mengajak salah satu dari anak-anak penyewa payung itu untuk menemui Dodik. Aku tidak ingin ia merasa sendirian. Seperti aku yang berhasil bangkit karena ada banyak orang yang mengukurkan tangannya padaku untuk bergandengan tangannya padaku untuk bergandengan tangan melewati kehidupan bersama. Pun demikian yang akan kulakukan dengan Dodik dan anak-anak jalanan lainnya.(*)
Kehidupan Akan Lebih Indah Jika Kita Dapat Bergandenga Bersama Melewatinya 

Lelah


bintang yang selalu memancarkan terangnya
mewarnai malam yang kelam
tiap malam kutengadahkan kepala
      demi untuk melihatnya
tiap malam aku terkagum-kagum akan ciptaan Tuhan itu
tiap malam...
tiap malam...
tapi kini aku lelah...
lelah sekali
kepalaku berat, pening tak keruan
kenapa bintang begitu egois
ia tak mau turun menemuiku
aku lelah
lelah sekali

Lelaki Itu

Manusia itu datang di dekatku
Menghadiahkan senyum peneuh arti
Yang tak ku tahu apa maksudnya
Lelaki itu...
Tiba-tiba memenuhi pikirku
Menyita perhatianku
Tapi...
Lelaki itu...
Hanya lelaki yang hanya manusia
Bukan dewa
yang harus aku puja
Lelaki itu...

Malam ini saja, bisa kan?

Senja itu terlau menyeramkan
meski tuk kesekian kalinya
Apalagi malam
Wajah-wajah dari neraka bangkit kembali

Bayangbayang malam tak pernah berhenti meneror ruang gerakku

Senja itu terlau menyeramkan
meski tuk kesekian kalinya
Apalagi malam
Mata-mata merah penuh amarah datang lagi

senja demi senja
malam demi malam
teror itu datang

Malam ini saja
biarkan senja dan malam berlalu
dengan apa adanya
tanpa teror
Malam ini saja, bisa kan ?

Mimpi

Kata orang mimpi begitu menyesatkan menerima yang nyata
Pun demikian aku
Ku selalu berada pada mimpi yang sama
Mimpi tentang pangeran dan kuda putih

Serta padang bintang tempat segala pengharapan terkabul
Mimpi tentang harapan, cita-cita, dan cinta
Mimpi di kala aku terpejam
Benar kata mereka,
Aku enggan membuka mata tuk mengakhiri ini semua
Tapi tiba-tiba sebuah tepukan halus di pipiku
Mencoba menyadarkanku dari mimpi
Aku tersadar dan pandanganku terkunci pada sebuah mata
Mata yang di sana aku melihat semua mimpiku dalam kejernihan matanya


Ruh

Ruh...
Aku terlahir dengan ruh dan raga
yang tak padu
Ruh...
Ruhku melayang
menari
Mencari tempat bersemayam
Ragaku tak dapat menariknya kembali
Ruhku tak ingin menetap
Ragaku tak ingin berpindah
Aku marah...
Aku bingung...
Ruhku...Ragaku...
Dengarlah teriakku
Bersatulah...
Bersatulah demiku...
Demi Tuanmu !!!

Lari--sebuah cerpen


Pemakaman itu nampak ramai. Wajah-wajah penuh duka dengan semburat kemuraman memenuhi sekeliling liang lahat. Namun perempuan itu nampak terdiam. Tak ada tangis. Tak ada pula suara. Airmatanya telah lama kering. Sudah terlalu lama ia menangis.
‘Mas, aku tidak tahu, aku harus sedih atau bahagia melihat kepergianmu. Tapi kalau saja kamu mau bijak, dan benar-benar memegang janji setia kita di depan altar waktu itu, mungkin sekarang kita dapat hidup bahagia dengan anak-anak kita. Tapi sudahlah mas, tenanglah di sisi Tuhan. Sekarang aku akan melanjutkan hidupku. Terima kasih telah memberiku pengalaman hidup yang membuatku bijaksana. Selamat Jalan Mas, kamu telah memilih berlari dari hidupmu. Sekarang, nikmati perjalananmu.’ Perempuan itu menaburkan bunga di atas pusara suaminya.
***
Entah sampai kapan laki-laki muda itu akan bertahan. Ia mencoba untuk terus terapung hanya dengan sebongkah kayu sebagai pegangan. Langit terus berubah warna kadang gelap kadang terang. Ombak terus memainkan tubuhnya. Tubuh yang selama ini ia banggakan rupanya tak ada artinya sekarang. Ketika ia berada di tengah lautan luas. Bersama lelaki itu ada beberapa orang lainnya yang juga berjuang untuk tetap berada di permukaan laut. Ada yang beruntung dengan memakai tambahan pelampung. Ada yang tidak.
Setiap muncul kecipak air dan deru air yang bertabrakan dengan benda logam, pengharapan mereka muncul kembali. Berharap itu adalah malaikat penyelamat mereka. Namun, ketika tak satupun malaikat yang mendekat dan mengangkat mereka dari pusaran ketidakpastian ini, harapan mereka pupus. Begitu terus dan entah sampai kapan.
Sebagian dari mereka menyerah, lapar, takut, dingin, dan rasa ketidakpastian membuat mereka lebih memilih lari ke dalam tidur. Bukankah tidur baik ketika tubuh begitu lelahnya. Bukankah mimpi dalam tidur dapat sedikit mengobati kekecewaan pada dunia nyata.
Seperti mereka tidak sadar dan tidak mengerti mengapa mereka dapat berada pada keadaan macam ini. Mereka juga tidak sadar sejak kapan, tubuh-tubuh mereka sudah berada pada tempat berbeda. Ada yang melihat tubuhnya terbujur kaku pada dek kapal, ada juga yang melihat tubuhnya terbungkus plastik kuning. Bagaimana dengan laki-laki muda kita. Ia tengah dibantu untuk menghangatkan badan oleh laki-laki lainnya. Sebuah kopi hangat menyentuh lambungnya yang berhari-hari tidak bekerja. Tubuh bagian belakangnya seperti mati rasa. Laki-laki muda itu hanya dapat terduduk tanpa reaksi.
***

Sepasang suami istri yang nampak kelelahan keluar dari ruang dokter.
“Bagaimana pak? Apa kita harus beritahukan hal ini kepadanya.” Tanya si Ibu.
“Tidak. Anggap saja kita tidak pernah mendengar kabar ini.” Jawab Si Bapak sambil berjalan tanpa emosi menuju kamar anaknya.
***
Lagu pujian nan syahdu itu begitu menyesak ke sanubari setiap orang yang hadir. Lantunan doa terus keluar dari bibir mereka. Dan di altar itu terdapat dua anak manusia tengah mengikat janji setia.
“Anakku bersediakah kamu menerima Samuel Danandjaya menjadi suamimu dan mendampinginya di saat bahagia ataupun sedih, saat sehat ataupun sakit, saat kaya ataupun miskin, hingga Tuhan memisahkan kalian.” Kata Bapa.
“Saya bersedia.” Jawab perempuan muda itu.
“Anakku bersediakah kamu menerima Kara Anabel Wijaya menjadi istrimu dan mendampinginya di saat bahagia ataupun sedih, saat sehat ataupun sakit, saat kaya ataupun miskin, hingga Tuhan memisahkan kalian.” Kata Bapa lagi.
“Saya bersedia.” Jawab laki-laki muda itu.
Aura cinta dan bahagia sangat terasa pada dua insan itu. Dan aura itu kini menyebar ke diri masing-masing yang hadir.
***
Kamar itu pecah dengan sebuah suara tamparan dan disusul dengan tangisan.
“Dasar perempuan sial!!!” Laki-laki itu menghardik perempuannya.
“Sial, aku salah apa Mas?” Tanya perempuan yang tengah terduduk di ranjang.
“Semua salah kamu. Lihat sudah berapa tahun kita menikah. Lima tahun. Tak satupun ada tanda-tanda kamu hamil. Dasar perempuan sial. Perempuan mandul. Atau aku ceraikan saja kamu. Untuk apa aku memelihara perempuan yang tidak bisa memberikan aku keturunan.” Laki-laki itu terus mengeluarkan kata-kata pedasnya.
“Maksud kamu apa? Aku mandul? Tidak bisa punya anak? Dari mana kamu tahu? Bukankah aku sudah mengajakmu untuk periksa ke dokter. Kamu tak mau.” Jawab perempuan itu sambil terisak.
“Aku tidak perlu periksa ke dokter. Aku baik-baik saja. Bukannya kamu yang harus periksa, untuk memastikan kalau benar kamu mandul?” jawab laki-laki itu sinis.
“Aku tidak mandul, mas. Aku sehat. Dokter yang menyatakannya, karena itu ku mengajak mas untuk periksa.” Jawab perempuan itu dan disambut dengan tamparan lagi yang lebih keras dan membuat telinganya nyeri.
“Apa maksud kamu? Aku mandul? Dokter keparatmu itu salah, bukan aku yang mandul tapi kamu. Dengar itu. Rasakan ini.” Kata-kata itu terus meluncur ditambah dengan tamparan. Kemudian laki-laki itu membuka baju perempuannya dengan paksa dan persetubuhan layaknya binatang terjadi di kamar itu. Tak ada cinta. Tak ada gairah kesenangan. Tak ada pujian dan doa. Tak ada. Hanya ada tangis.
Laki-laki itu meninggalkan perempuannya di kamar dan keluar rumah entah kemana.
***
Bulan-bulan dan tahun-tahun perjuangan mengharuskan si perempuan untuk tetap bertahan dalam kehidupan yang tak pasti. Bisa saja dia lari dari semua ini. Tapi dengan lari ia tidak bisa membuktikan kebenaran.
“Mas, aku hamil.” Kata perempuan itu suatu pagi. Laki-laki itu terperanjat mendengarnya.
“Benar kamu hamil?” Tanya laki-laki itu sambil meraih pundak perempuannya.
“Ya, mas aku sudah telat dan aku juga sudah periksa ke dokter. Aku hamil 5 minggu.” Jawab perempuan itu.
Begitu mendengar kabar itu, si laki-laki menggendong perempuannya dan berteriak-teriak gembira.
“Yiha…..haahaaahaaa Aku punya anak.”
“Terima kasih Ra, Aku saying kamu.” Kata laki-laki itu pada perempuannya. Dan sebuah ciuman mesra mendarat di bibir kecil perempuan itu.
***
Hari penentuan bagi perempuan itu telah datang. Orang tua si laki-laki pun gelisah. Apa lagi orang tua si perempuan. Ibu si perempuan ada di dalam ruang bersalin menemani anaknya yang sedang berjuang. Begitu suami perempuan itu. Ia menemani perempuannya yang berjuang melahirkan keturunannya. Kebanggannya. Penerus namanya.
“Berjuanglah sayang. Keluarkan anakku dari rahimmu. Berilah kehidupan pada keturunanku. Penerus nama keluarga kita. Ayo istriku teruslah berjuang.” Lelaki itu menyemangati.
Si perempuan menahan sakitnya dan tersenyum.
‘Tanpa disuruh pun aku pasti akan berjuang untuk mengeluarkan jabang bayi ini dari rahimku. Karena hanya dengan begitu aku akan menunjukkan kebenaran yang sebenarnya. Lagipula bukankah itu sudah kodratku sebagai perempuan. Aku lahir dan wajib berbakti pada orang tua, menaati apa yang dtitahkan oleh orang tuaku. Aku besar dan mengenal cinta. Menikah dan akupun berganti mengabdi pada suami. Hamil dan mempunyai anak. Mengurus suami, anak, dan rumah. Jika satu saja hal di atas tidak terjadi dalam fase hidupku. Maka aku disebut perempuan cacat. Tidak sempurna. Seperti tahun-tahun yang lalu. Dunia menudingku sebagai perempuan mandul, yang tidak bisa memberikan keturunan bagi suamiku. Tidak bisa memberikan anak yang akan meneruskan nama besar keluarga suamiku. Kini semua harapan ada pada jabang bayi yang sekarang akan keluar. Semua kebenaran. Semua pembuktian. Sebuah kewajiban dan wujud dari titah kodrat yang melekat padaku. Keluarlah nak. Ibu telah menanti kedatanganmu di dunia.’ Pikiran perempuan itu terus berkecamuk diantara rasa sakit, suara dokter dan suster yang mengarahkan proses persalinannya, dan juga tatapan mata penuh harap dari Ibu dan suaminya.
“AAAAAAAAAAAAA.....” Perempuan itu berteriak melepaskan rasa sakit yang dari tadi ia tahan. Dan sewujud bayi keluar dari selangkangannya. Si laki-laki berteriak gembira. Dan mendekati si jabang bayi yang masih merah.
“Ya Tuhan, apa-apaan ini. Brengsek.....Perempuan sialan. Pelacur.” Teriaknya sambil menghambur keluar kamar bersalin. Ibu si perempuan mendekati cucunya. Begitu melihat cucu yang selama ini ia tunggu. Ia terkejut dan menutup mulutnya dan turut keluar.
Perempuan itu bernafas lega. Ia menyambut anak yang telah ia nantikan. Melihat anaknya ia tersenyum. Senyum penuh kemenangan.
***
Perempuan itu tengah menggendong anaknya di hari kemudian. Di temani semua orang yang meminta penjelasan darinya. Yang pasti juga laki-laki yang juga suaminya itu.
“Katakan hai pelacur siapa ayah anak terkutuk itu? Akan kubunuh dia.” Tanya laki-laki itu.
“Mengapa, mas menanyakan siapa ayah anak ini. Bukankah, mas adalah suamiku, pastinya ini anak mas.” Jawab perempuan itu dengan tenang dan ia mengeluarkan senyum manisnya.
“Huh...Orang goblok juga tahu kalau anak itu bukan anakku.” Jawab laki-laki itu.
“Sudahlah Nak, katakan saja siapa sebenarnya ayah anakmu itu. Beres masalahnya.” Ibu si perempuan itu sambil menangis.
“Iya, lihatlah anakmu berkulit hitam dan berambut keriting. Riwayat keluarga kami tidak ada yang mempunyai ciri fisik macam itu. Semakin cepat kamu jujur, kita akan selesaikan masalah ini baik-baik.” Kata Ayah si laki-laki.
“Sudahlah...tidak perlu lagi kita mendengar omong kosong, pelacur murahan ini. Muak aku melihat wajahnya dan anak itu.” Kata laki-laki itu sembari beranjak pergi.
“Tunggu mas, jangan sampai mas pergi sebelum mas mendengarkan penjelasanku. Setelah nanti aku jelaskan semuanya, silahkan mas lakukan apa yang mas kehendaki.” Kata perempuan itu sambil tersenyum. Dan terus menyusui anaknya. Setelah ia melhat wajah anaknya, ia menarik napas panjang dan menghembusknnya.
“Akhirnya saat ini datang juga, sebelumnya saya ingin minta maaf pada Mama dan Papa, juga Ibu dan Ayah, maaf jika apa yang telah saya lakukan menyakiti hati dan juga mengecewakan semuanya.” Perempuan itu berhenti sejenak.
“Perihal tentang anak ini, ia adalah anakku. Selama ini Mas menuding aku sebagai perempuan sial dan tidak beguna hanya karena aku tidak dapat memberikan keturunan untuk mas. Itu kata mas. Berkali-kali kukatakan pada mas, kalau Aku tidak mandul. Aku punya dasar, mas. Punya bukti. Aku telah memeriksakan kesehatan dan kemungkinan aku punya anak. Dan hasilnya aku sehat dan dapat mempunyai anak kapanpun kumau. Tapi sekalipun mas tidak mau diajak untuk periksa. Aku tak pernah memaksa mas untuk ke dokter.” Ia berhenti dan menimang anaknya.
“Aku lelah mas, aku lelah terus-terusan kamu salahkan. Kamu tidak pernah berpikir yang paling menderita karena kita tidak mempunyai anak bukanlah kamu tapi aku. Semua orang menudingku dan memandang hina padaku. Pun termasuk kamu. Orang yang berjanji setia, susah dan senang hidup denganku. Aku kecewa mas. Kecewa atas perlakuanmu. Dan kecewa karena harusnya kamu memberiku semangat untuk menjalani ini semua tapi kamu makin menjatuhkanku ke jurang derita.” Ia berhenti untuk memandang sekelilingnya. Orang tuanya berdiri di sampingnya dengan linangan air mata. Mertuanya berdiri terpaku di ujung sana. Dan suaminya duduk di sofa bergeming dengan tatapan penuh kebencian.
“Di tengah pusaran rasa takut dan kecewa, Dokter Frans memberikan sebuah kabar padaku. Ia berkata, ada sebuah teknologi dalam ilmu kedokteran yang memungkinkan seseorang melakukan pembuahan di luar tubuh, atau istilahnya pembuahan in vitro, jadi sel telurku dapat dibuahi walaupun aku tidak melakukan hubungan seks. Dokter Frans, mengatakan jika aku bersedia, sepenuhnya pembiayaan ia yang menanggung. Karena ia sedang melakukan riset untuk hal ini. Aku pun setuju. Kami membuat kesepakatan, salah satu kesepakatannya adalah aku ingin sperma yang membuahi sel telurku adalah bukan sperma mas, suamiku. Aku ingin itu adalah milik orang lain yang secara fisik berbeda 180° dengan Mas.” Mata perempuan itu menatap tajam laki-lakinya.
“ Apa maksudmu, pelacur.” Sentak laki-laki itu.
“Hentikan menyebutku pelacur ataupun sebutan kotor lainnya mas. Karena aku bukan seperti apa yang mas katakan. Aku memang mempunyai anak bukan darimu. Aku memakai sperma orang yang bahkan tak kukenal. Bukan untuk apa-apa. Bukan untuk melacurkan diri. Apalagi menghinakanmu mas. Aku hanya ingin membuktikan kalau aku tidak mandul. Aku dapat memberimu keturunan. Ya, aku bisa. Anak ini buktinya.” Perempuan itu mengangkat anak dalam gendongannya. Laki-laki itu nampak sedikit bereaksi. Ia mulai gelisah.
“Ibu dan Ayah sekarang mengerti kan, anakmu ini masih tetap anakmu yang suci. Aku tidak pernah berbuat zina dengan siapapun. Anakku tersayang ini lahir atas kehendakku sendiri, pastinya juga atas kehendak Tuhan. Sekarang mungkin kalian mulai bingung dan bertanya-tanya. Jika aku ternyata dapat memberikan keturunan, lantas mengapa tahun-tahun berlalu tanpa ada anak yang meramaikan kehidupan kami. Untuk itu aku tidak bisa menjawabnya. Mungkin ada yang dapat menjelaskannya pada kita semua. Terutama padaku.” Kata perempuan itu pada akhirnya.
“Hem...Maksud kamu aku yang mandul, begitu. Tidak mungkin.” Jawab laki-laki itu tetap dengan nada sombongnya.
“Sekali lagi mas, aku tidak berniat menyalahkan siapa-siapa. Kapasitasku berbicara dalam hal ini adalah untuk membuka kebenaran yang sebenarnya. Bahwa aku bisa punya anak. Itu saja.” Perempuan itu berkata lagi.
Kamar rumah sakit itu hening sejenak, tak ada yang bersuara. Termasuk bayi mungil itu. Sejak tadi ia terus tertidur di dekapan Ibunya. Ia tidak tahu kalau keberadaannya telah perdebatan panjang di antara orang tuanya. “Ehmmm...Sebenarnya sejak kecelakaan waktu itu, kamu divonis tidak akan bisa mempunyai keturunan, nak.” Kata Ayah si laki-laki pelan pada anaknya. Laki-laki itu seketika beridiri dengan muka marah dan penuh kebencian.
“Apa-apan Papa ini, mengapa Papa membela perempuan itu. Aku tidak mandul, sekarang pun jika aku mau aku bisa memberikan Papa cucu.” Kata laki-laki itu dengan nada tinggi.
“Tapi itu benar, Nak. Mama pikir kamu sudah tahu, karena bukankah kamu pernah melakukan General Check Up di Singapura.” Jawab mamanya.
“Tidak....Itu tidak benar, aku bisa punya anak. Kalian semua bersekongkol untuk menjebakku, menjatuhkan harga diriku. Aku baik-baik saja. Aku sehat. 100 anak pun aku bisa berikan. Aku tidak mandul. AAAAAAAhhhhhhhh.....Kalian semua brengsek. Kamu juga perempuan sial. Juga anak setanmu itu. Haaaaaaaaaa” Laki-laki itu histeris dan berlari keluar dari kamar putih itu. Orang tuanya mengikuti setelah mencium anak menantunya.”
Perempuan itu tersenyum puas. Senyum penuh kemenangan. Akhinya ia dapat melihat kebenaran yang selama ini tersingkap dari hidupnya.
***
Laki-laki itu terus berlari menjauhi rumah sakit. Selama ini ia mencoba berlari dari kenyataan yang telah lama ia ketahui. Ia mandul. Ya ia tahu tentang hal itu. Tapi ia tidak pernah mengakuinya. Dan menjatuhkan semua kesalahan pada istrinya. Ia puas atas hal itu. Ia terus lari dari kenyataan yang ada. Dan ia mulai menikmati dan nyaman atas kebohongan yang ia ciptakan. Dan makin tenggelam di dalamnya. Dan kini ia dipaksa untuk bangun dari dunia kebohongan yang ia ciptakan.
Laki-laki itu nampak tidak rela kembali dalam nyatanya hidup. Ia terus berlari. Berlari bukan hanya dari hadapan istrinya yang melakukan hal gila hingga semua ini terbongkar. Tapi juga berlari dari kenyataan.
Kemudian laki-laki itu berhenti berlari dan tersenyum penuh kemenangan. Temannya telah datang padanya. Setelah sekian lama. Ia menerima uluran tangan itu.
***

Setitik Cahaya, dimana ?

Gelap...
Hitam...
Legam...
Langkah awal kaki ini terlau ragu
Tak dapat kulihat sesuatupun di depan
Apa langkah ini berkenan dilanjutkan
...atau henti
Tak dapat aku mundur
Di belakang gelap menanti
Jika tetap aku terdiam
Hingga kapan
Ku hanya ingin setitik cahaya
Setitik saja...
tak perlu melimpah
Setitik Cahaya
yang mampu menuntunku
Menuntun
ke tempat berlimpah cahaya
Tapi hingga kapan aku menanti
Atau...aku harus mencari
Tapi di mana
Sedangkan...
Kanan kiri atas bawah depan belakang semua kelam

Thursday, September 17, 2009

Nadir

Setiap dipa langkah adalah pengharapan
Setiap tarik nafas adalah doa
Setiap gumaman doa adalah derita

Tak perlu lagi harap dan asa
Tak perlu lantunan doa
Tak ada lagi derita

Kini semua ada dalam titik nadir
Semua berakhir kini
Yang ada hanya....
Tunduk dan diam
     dalam hening dan kelam

KETIKA HOMOSEKSUALITAS BERBICARA DALAM RAHASIA BULAN

Dunia sastra Indonesia terus saja dibanjiri karya-karya yang “tidak biasa”. Sejak kemunculan Ayu Utami dengan dwilogi Saman dan Larung yang mengumbar seksualitas secara apa adanya. Makin banyak saja penulis-penulis yang berani mengungkapkan hal yang selama ini selalu dianggap tabu, yaitu seksualitas. Seiring dengan hal itu, selain banyknya muncul karya yang mengeksploitasi tubuh dan seks, juga mulai terdapat beberapa karya yang mengusung wacana homoseksualitas.
Mungkin memang bukan menjadi hal yang baru jika terdapat wacana homoseksualitas dalam fiksi Indonesia. Karena pada sekitar taun 1970-an, tepatnya 1974, muncul sebuah karya yang juga mengusung wacana homoseksualitas. Yatu pada karya S.N. Ratmana yang berupa cerpen dengan judul Sang Profesor. Setelahnya terdapat karya-karya penulis sekelas Seno Gumira Ajidarma, Gus Tf Sakai, Agus Noor dll.
Lantas kemudan muncul sebuah antologi cerpen di tengah-tengah masyarakat dengan mengusng wacana homosesualitas secara total yang dihasilkan baik itu dari penulis yang telah mengaku bahwa dirinya gay/lesbi dengan yang “normal”. Antologi cerpen dengan tajuk Rahasia Bulan, secara apa adanya membeberkan kisah-kisah yang ada di sekitaran kaum homoseks. Salahkah, mereka yang selama ini “dibuang” oleh masyarakat berusaha kembali dalam karya? Selain itu apa dan bagaimana homoseksualitas itu sebenarnya?
Homoseksual biasanya diartikan sebagai kelainan seksual berupa disorientasi pasangan seksualnya. Disebut gay bila penderitanya laki-laki dan lesbi untuk penderita perempuan. Sementara pihak lain berpendapat hal tersebut adalah sesuatu yang alami atau wajar karena manusia sebenarnya mempunyai potensi untuk menjadi heteroseksual maupun homoseksual. Jadi, di sini homoseksual hanyalah salah satu dari preferensi atau orientasi seksual.
Lantas kemudian, apa sebenarnya penyebab seseorang disorientas seksualnya? Terdapat berbagai versi tantang penyebab seseorang kemudian mendefinisikn diri sebaga kaum homoseks. Menurut dr. Wimpie Pangkahila, dalam teori penyebab homoseksual, terdapat empat kemungkinan penyebab homoseksual. Antara lain, pertama Pertama, faktor biologis, yakni ada kelainan di otak atau genetik. Kedua, faktor psikodinamik, yaitu adanya gangguan perkembangan psikoseksual pada masa anak-anak. Ketiga, faktor sosiokultural, yakni adat-istiadat yang memberlakukan hubungan homoseks dengan alasan tertentu yang tidak benar. Keempat, faktor lingkungan, yaitu keadaan lingkungan yang memungkinkan dan mendorong pasangan sesama jenis menjadi erat.
Pada faktor yang pertama adanya ketidakseimbangan jumlah hormon pada diri seseorang sejak lahir. Jumlah hormon wanita cenderung lebih besar daripada laki-laki. Atau sebaliknya. Hal yang demikian ini akan berpengaruh terhadap sifat dan perilaku individu tersebut. Jika dia laki-laki yang memilik hormon wanita berlebih maka jati diri kewanitaan biasanya lebih kuat, sehingga mereka cenderung berperilaku feminin dan selalu tertarik terhadap aktivitas yang dilakukan wanita. Ataupun sebaliknya. Individu yang menjadi gay karena faktor tersebut biasanya tidak bisa kembali normal. Tapi, sifat gay/lesbi tersebut bisa berkurang frekuensinya. Tentunya, diperlukan usaha yang keras. Misalnya, tidak bergaul lagi dengan kaum homoseks, punya keyakinan yang kuat, dan harus tahan segala godaan.
Pada faktor yang kedua, berupa gangguan perkembangan psikoseksual pada masa kecil atau sebagai reaksi psikoseksual untuk mengatasi masalah dan kehidupan heteroseksual. Pada kasus ini, kemungkinan yang terjadi adalah pada masa kecilnya individu tersebut mengalami pelecehan seksual baik fisik maupun psikis. Sehingga menimbulkan trauma. Trauma inilah yang pada nantinya memicu perilaku homoseksual..
Pada faktor ketiga, ada beberapa adat dan budaya yang membenarkan adanya perilaku homoseks. Dalam kasus ini, para pelaku homoseks biasanya telah dapat diterima oleh masyarakat. Bahkan pada beberapa adat, pelaku homoseks merupakan dukun adat. Sedangkan pada faktor keempat, Kedua, faktor lingkungan, yaitu komunitasnya lebih sering bertemu dengan laki-laki dan amat jarang bertemu dengan wanita. Selain itu, ada juga dari mereka yang terlibat dalam kehidupan gay semata-mata karena gaya hidup dan materi. Biasanya mereka berawal dari coba-coba untuk berhubungan dengan sesama jenis dengan imbalan uang. Jenis gay ini bisa hilang bila mereka telah menemukan pasangan hidup wanita. Atau, mereka keluar akibat terkena penyakit kelamin. Dan juga, gay tersebut dapat kembali sebagai lelaki sepenuhnya bila punya komitmen kuat untuk menjauhi kehidupan gay.
Penjelasan singkat di atas kiranya dapat sedikit memberikan ruang untuk kita berpikir positif. Bahwa, kaum homoseksual it ada di sekitar kita. Dengan pola kehidupan dan perilaku yang mungkin berbeda dengan kaum heteroseksual. Sejenis ataupun lawan jenis, harusnya hal tersebut ditempatkan sebagai sebuah pilihan yang berhak digunakan oleh setiap individu. Tinggal bagaimana individu tersebut mempertanggungjawabkan pilihannya.
Terkait dalam hal itu, pada antologi cepen Rahasia Bulan, banyak ditampilkan kisah seputar kehidupan kaum homoseks. Ada individu lesbian yang dia “terperangkap” dalam kehidupan perkawinan normal. Atau dilematis seseorang yang pada ahirnya ia “sadar” bahwa ia seorang homo. Atau kisah tentang seorang yang terjebak dalam kehidupan “gay” yang mulai mencari pola ukuran dalam hubungan para gay. Ada yang berdasarkan size matter, power matter, dan love matter. Semua kisah-kisah itu terbuka dan seakan-akan sap untuk dibaca oleh siapapun.
Mungkin antologi ini dapat dijadikan sebuah alat “berbicara” bagi kaum homoseksual yang selama ini cenderung “dihilangkan” dari peta kehidupan. Mulai gencarnya LSM-LSM yang mencoba untuk memperjuangkan hak-hak kaum homoseks. Ataupun diskusi-diskusi terbuka yang membahas tentang homoseksual. Sedikit banyak telah menunjukkan bahwa sebagian masyarakat Indonesia telah mulai terbuka tentang keberadaan homoseks. Walaupun harus diakui masih banyak yang bersifat konservatif terhadapnya.
Sastra masih merupakan media yang efektif untuk upaya resistensi terhadap stigma yang telah berkembang dalam masyarakat untuk berbagai persoalan. Termasuk halnya mengenai homoseksualitas. Karena masih beredarnya anggapan bahwa sastra adalah sesuatu yang bebas nilai. Di luar hal itu, jika nantiya terdapat penilaian terhadap karya sastra tersebut hanyalah sebagai upaya apresiasi, resepsi, ataupun penelitian.
Perjuangan dan resistensi kaum homoseks masih berlangsung. Salah satu goal mereka adalah bangsa ini menerima secara wajar keberadaan mereka dan meminimalisir adanya diskriminasi. Hal ini mulai dilakukan dengan mulai terbukanya mereka dalam menunjukkan identitas mereka dan juga turut mengambil peranan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Sekarang banyak kita temui para gay/ lesbi yang berprofesi sebagai dosen, pengusaha, dokter, pengacara, atau profesi di dunia hiburan.
Peran masyarakat lainnya yang “mengaku” sebagai heteroseksual sebenarnya sangat mudah. Menempatkan secara proporsional keberadaan mereka sebagai individu yang sama dengan individu lainnya. Hal ini diperlukan pemikiran yang terbuka, moderat, dan positif. Dukungan dari masyarakat lainnya ini diperlukan karena perlawanan mereka pada dasarnya adalah perlawanan terhadap pola pikir masyarakat dan budaya umum yang berkembang. Kaum homoseks mulai terbuka dengan keberadaan mereka. Jika masyarakat umum juga mulai terbuka dengan keberadaan mereka. Tinggal nantinya bagaimana memberdayakan potensi setiap individu bangsa Indonesia untuk memajukan bangsa ini tanpa membedakan ras, etnis, gender, status,dll. Dan sastra, dapat dijadikan salah satu sarana untuk melakukan resistensi dan perjuangan tersebut.

Aku Kembali

Hem…Akhirnya. Akhir dari sebuah perjalanan panjang jika itu memang pantas disebut perjalanan. Tapi, jika sekarang kuputuskan untuk kembali pulang, bukan pula karena perjalananku telah usai. Tapi aku hanya terlalu lelah untuk berlari dan bersembunyi. Dan aku rasa sekarang waktu yang paling tempat untuk kembali. Kembali pada kehidupan yang sempat terlepas dari tanganku.
Setelah perjalanan yang melelahkan, akhirnya aku keluar juga dari Bandara. Aku kembali pulang diiringi dengan segala macam perasaan yang muncul di hati dan juga pikiran yang berkecamuk di otakku. Rasa rindu, bahagia, sedih, dan penyesalan bercampur menjadi satu. Rindu pada keluarga dan kehidupan yang dulu kutinggalkan. Bahagia karena masa penantian dan pelarianku yang panjang telah berakhir. Sedih dan penyesalan yang mengingat tahun-tahun yang terlewat setelah aku terpaksa harus pergi.
Tak ada iringan penyambutan sekembalinya aku di kota ini. Tak ada pelukan dari kerabat dan teman. Tapi memang itu yang kumau. Kubiarkan taksi biru ini meluncur di jalanan kota ini. Hanya kuberikan secarik kertas padanya tujuanku dan tanpa banyak bertanya ia pun membawaku pergi.
Tak ada yang banyak berubah pada jalanan ini. Tetap macet dan tidak teratur. Cuacanya pun masih didominasi sang surya. Oh ya, tapi ada juga hal yang berubah. Di kota ini semakin banyak saja dijumpai mall, aparteman dan bangunan pencakar langit di sepanjang jalan ini. Apa ini menandakan kotaku semakin makmur dan maju. O, rupanya tidak. Masih dapat kujumpai “manusia-manusia kardus” yang tinggal di sana-sini.
“Bapak tinggal di kota X ini berapa lama?” tanyaku pada supir taksi ini.
“Dari kecil, Mas.” Jawab Pak Supir itu.
“Makin makmur ya Pak, kelihatannya. Banyak Mall di mana-mana” Kataku.
“Ya…gak juga mas. Sing sugih ya sugih…sing mlarat seperti saya, ya tetap saja mlarat.” Jawab Bapak itu.
“Loh kok bisa…Pak” Tanyaku.
“Ya bisa toh Mas, wong sekarang ini hidup makin susah, banyak rumah yang di gusur alasannya tanah pemerintah eee kok lah malah di bangun mall, hotel, apartemen. Wis pokoknya hidup di kota X makin susah Mas.” Keluh Pak supir yang baru aku ketahui bernama Gatot. Lantas kami sama-sama diam. Dia sudah enggan berkeluh kesah lagi atas kehidupan. Dan aku…aku diam karena tak tahu harus berkata apa atas cerita yang baru saja kudengar.
Waktu berjalan begitu cepat. Akhirnya kini sampai juga pada sebuah titik kerinduan. Dua puluh tahun sudah aku pergi meninggalkan kehidupanku. Kehidupan normalku. Tapi, entahlah apa itu normal. Karena seingatku, aku dan teman-teman memilih untuk menjalani kehidupan yang berbeda dengan kehidupan mahasiswa normal lainnya. Jika teman-teman lainnya sibuk dengan diktat kuliah dan mengejar IP tertinggi. Tapi kami mengejar lebih dari itu. Aku mulai aktif di berbagai organisasi yang kebanyakan bergerak untuk memberikan suara kepada orang-orang yang tak dapat bersuara. Implikasi logis dari apa yang kami lakukan adalah kehidupan kami tak lagi normal. Setelah aksi demo terakhir kami, sepertinya aku semakin merasa dikuntit.
Tapi sudahlah itu semua 20 tahun yang lalu. Kini yang ada kerinduan yang sangat dan juga pastinya rasa bersalah. Terlebih lagi selama 20 tahun kepergianku tak sekalipun aku kembali ke tanah air. Ya, memang pernah aku mendapat kabar bahwa orang pelarian macam aku sudah dapat diterima di tanah air. Tapi semua yang telah aku alami membuatku trauma. Tapi sesekali aku menerima kabar melalui email.
Rupanya aku terlalu larut dalam lamunan hingga aku tak sadar Pak Gatot telah sampai membawaku ke kampung halamanku. Masih pantaskah kusebut tempat ini kampung. Anggap saja masih pantas, walaupun mulai banyak rumah-rumah besar dibangun di daerah ini. Jalanan ini masih sama. Perempatan jalan ini masih seluas dahulu. Aku ingat sering bermain bola di sini karena relatif jarang dilewati kendaraan.
Siiiingggg…!
Entah mengapa aku merasa ada yang mengawasi kedatanganku. Rumah di ujung perempatan itu menarik perhatianku. Rumah yang didominasi kayu itu. Aku coba mengembarakan ingatanku, tapi sepertinya semua baru bagiku.
Akhirnya…aku tiba di rumah yang sederhana. Aku bahagia tidak ada yang berubah. Rumahku tetap sederhana dan mempunyai halaman yang luas. Setelah menurunkan semua barangku yang tak banyak. Kubuka pagar dan melangkah di jalan kerikil.
“Assalamuallaikum.” Salamku. Kuulangi lagi hingga seorang Ibu tua keluar.
“Masyaallah, Den Raka. Den Raka pulang. Ibu…Den Raka datang!” Teriak Mbok Tum. Aku hanya tersenyum. Pandanganku berputar menjelajahi ruangan ini. Benar-benar tak ada yang berubah. Ibu memang pandai merawat dan menjaga rumah ini. Kemudian seseorang keluar dari kamar dengan tertatih-tatih. Ibu.
“Ibu…” Aku hanya dapat mengucapkan itu dan segera menghambur padanya.
“Raka…Akhirnya kamu pulang Nak.” Katanya lirih.
Aku bersimpuh pada Ibu dan mencium kakinya seketika Ibu membimbingku bangkit. Ia memelukku dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Kurasakan usia renta sedikit demi sedikit menggerogoti tubuhnya. Beliau tak lagi sekuat dahulu. Tapi Ibu adalah sosok yang tegar dan selalu jadi panutan atas kebijaksanaannya.
Kata-kata tak lagi berarti sekarang. Rasa rindu yang selama ini membuncah dalam dada telah meledak. Dan hanya bahasa seorang Ibu dan anak yang dapat mewakilinya. Mbok Tum segera menghubungi saudaraku yang lain. Sementara Ibu tak melepaskan tubuhku sedetikpun. Aku bersandar di pangkuan Ibu dan meletakkan kepala diatasnya dan memeluk tubuhnya dan Ia terus menciumi kepalaku dan membelai rambutku.


Sorenya satu persatu mereka datang bersama anak-anaknya. Bang Zith, Dik Lia, dan Dik Rayi. Segera kami saling berpelukan melepas rindu. Ada canda. Ada tawa. Ada tangis haru. Kami semua duduk di teras belakang dan saling berbagi cerita tentang kehidupan yang terlewat. Tentang kehidupan mereka selepas kepergianku. Bagaimana Abang dan Adikku menikah tanpa dapat kuhadiri.
“Dik, mengapa kamu tak pernah pulang, kami cemas akan keselamatanmu di sana. Mana tempat tinggalmu pindah-pindah.” Kata Bang Zith.
“Kan, aku sesekali mengirim kabar Bang.” Aku mencari pembenaran.
“Tauk nih Bang Raka, Kasihan Ibu, hampir tiap hari yang dibicarakan cuma Bang Raka. Bang Raka dulu beginilah. Begitulah.” Cerocos Dik Rayi. Aku tertawa mendengarnya.
“Tapi sekarang kan, Raka sudah di sini. Raka janji gak akan pergi jauh lagi dari Ibu.” Kataku sambil memeluk Ibu. Ibu hanya tersenyum.
“Raka, bukan kami saja yang rindu dan khawatir tentang kamu.” Kata Ibu kemudian. Semua lantas terdiam. Suasana yang tadinya riuh tiba-tiba hening.
“Siapa maksud Ibu?” Tanyaku heran.
“Raisha.” Jawab Ibu. Aku kemudian terhenyak.

***
“Kamu harus pergi secepatnya. Intelejen telah mencium keberadaan gerakan kita.” Kata Dimas.
“Raka, segera aku akan urus visa dan kepindahan kamu. Kamu harus pergi sementara.” Kata Pak Bayu.
Suasana semakin panas dan mencakam. Aku terpekur dan tertegun. Aku sama sekali tidak menyangka kepedulianku kepada masyarakat berbuntut panjang.
“Sudahlah Raka, tidak usah banyak berpikir. Teman-teman lainnya juga secepatnya berangkat.” Kata Nyong temanku lainnya.
“Iya…Tapi kemana?” Tanyaku.
“Belanda.” Jawab Pak Bayu.

***
“Apa Abang harus pergi?” Raisha terus menanyakan hal yang sama sambil memegang tanganku.
“Sepertinya begitu Sha. Abang tak punya pilihan lagi.” Jawabku.
“Tapi…baiklah…Aku berjanji akan menunggu Abang.” Kata Raisha. Ia pun menangis. Kusandarkan kepalanya di dadaku dan kupeluk tubuh kecilnya.
***
Segera setelah mendapat kepastian kabar dari Bang Zith tentang Raisha, esoknya aku segera menuju rumah Raisha. Rumah kayu di ujung perempatan jalan yang kemarin aku lewati. Ternyata rumah itu adalah milik Raisha. Kini aku ada di depan rumah itu. Kubuka perlahan pagar kayu itu. Desir angin aneh menerpa tubuhku. Kuketuk pintu itu dan tak berapa lama pintu dibuka oleh seorang Ibu.
“Raka!” Serunya. Terlihat mata tante Dien, Ibu Raisha, berkaca-kaca. “Akhirnya, kamu datang nak. Raisha telah lama menunggumu.” Katanya dan mempersilahkanku masuk.
“Bagaimana, Raisha tante?” Tanyaku.
“Di atas. Dia menunggu kamu. Hanya untuk melihat kamu saja ia berusaha bertahan hingga kini.” Kata Tante Dien.
“Saya sudah dengar tentang Raisha, Tante.” Kataku kemudian.
“Kanker otak…Dengan penyakit itu harusnya ia tak bisa bertahan hingga kini. Hingga pihak medis pun dibuat bingung dengan keadaan Raisha. Sepertinya ada yang menahan kepergiannya.” Jelas Tante Dien.
“Boleh saya ke atas Tante?” Tanyaku.
“Oh…tentu saja. Memang sejak kemarin sepertinya dia menunggu kamu. Dari pagi pandangannya tak lepas dari jendela.” Jawab Tante Dien.
“Maksud, Tante?” Aku bingung.
“Sebelum penyakit Raisha parah, ia meminta kami untuk pindah ke rumah ini. Dan ia meminta kamar yang di atas dan menghadap jalanan itu. Katanya agar suatu saat jika kamu datang, ia bisa langsung tahu. Dia menunggu kamu Raka.” Kata Tante Dien.
“Setiap hari pandangannya tak pernah lepas dari jendela. Ia selalu berharap seuatu hari kamu datang dan ia akan menyambutmu.” Tambah Tante Dien.
Raisha selalu berada di sisi jendela untuk mengawasi jalanan. Itu mengapa kemarin saat aku melewati jalan itu aku merasakan perasaan yang aneh. Rupanya sejak kemarin ia mengawasi kedatanganku. Raishaku, begitu besarnya pengorbanan yang kamu lakukan.
Aku dan Tante Dien naik ke lantai atas. Bagaimana rupanya gadis kecilku itu. Aku tak bisa membayangkan betapa ringkihnya ia sekarang. Dahulu saja, tubuh kecilnya begitu rapuh tapi jiwa dan semangatnya begitu kuat. Bagaimana dengan sekarang?
Kami sampai di kamar Raisha. Tante Dien menyilahkanku masuk. Kubuka pintu itu. Seketika aku terpana ketika melihat sosok tergeletak di tempat tidur itu. Dia Raishaku. Ia tergeletak tak berdaya. Dan apa itu, ada selang yang masuk ke hidungnya.
“Sha…Raka datang.” Hanya kata itu saja yang terlontar dari Tante Dien. Dan ia pun pergi sambil menangis.
“Raisha, abang datang.” Aku berkata dan duduk di sampingnya.
Mata kami saling bertautan. Sepertinya ada banyak kata yang ingin ia lontarkan tapi tak satupun yang terdengar. Matanya telah berbicara banyak dan nampak telah berkaca-kaca.
“Maafkan Abang ya…Sha. Abang baru bisa datang. Kamu pasti lama menunggu.” Kataku. Kugenggam tangan kakunya. Ada semacam kekuatan maha dahsyat yang selama ini ia keluarkan untuk bertahan hingga kini.
“Abang, akan selalu ada di samping kamu Sha.” Kataku. Perlahan ia menarik ujung bibirnya dan memberikan senyuman yang termanis.
Di sampingnya, kuceritakan semua yang telah kujalani. Kehidupanku dalam masa pelarian. Ia terus mendengarkan dan matanya tak pernah lepas dariku. Seakan ia tak melewatkan sedetikpun untuk berkedip.
Tak lama, Dokter Raisha pun datang. Dokter Bram memeriksa Raisha.
“Halo, cantik. Dokter periksa dulu ya…harusnya kamu bisa sehat karena sepertinya pangeranmu sudah datang.” Kata dokter itu sambil memandangku. Setelah memeriksa Raisha, dokter itu berbicara dengan Tante Dien di luar. Sebelumnya dokter Bram membisikkan sesuatu padaku, ‘Tolong jaga Raisha, tujuannya bertahan hingga kini adalah bertemu kamu.’
Malam ini aku menginap di rumah Raisha. Aku terus duduk di sampingnya. Kulihat berkeliling, ternyata masih ada gitarku yang dulu aku pinjamkan padanya. Aku mengambil dan mencoba memainkannya.
“Sha, Abang mainin lagu kesukaan kamu ya.” Kataku. Dan mata itu mulai berbinar. Aku memainkan lagu More Than Words milik Extreme. Senyumnya terus tersungging meskipun samar.
Tapi sejurus kemudian, belum selesai lagu ini aku mainkan. Raisha nampak tersengal-sengal kesulitan bernapas, padahal selang oksigen masih terpasang di hidungnya. Segera aku memanggil Tante Dien. Tante Dien keluar dengan segera dan menuju kamar Raisha.
“Sayang kamu kenapa?” Tante Dien membenarkan posisi selang oksigen. Tapi tetap saja tidak membantu.
“Sha…sabar ya Nak, Mama panggil dokter Bram. Raka jaga Raisha sebentar.” Kata Tante Dien.
Aku berusaha tenang dan duduk di sampingnya.
“Sha, aku tahu kamu telah lama berjuang untuk tetap hidup. Hanya untuk melihatku. Sekarang apa yang kamu inginkan telah tercapai, kan. Aku tahu selama ini kamu menahan sakit dan derita. Kalau sekarang kamu telah lelah dan ingin pergi Abang ikhlas Sha. Abang gak ingin kamu menderita seperti ini Sha.” Kataku. Tante Dien rupanya sudah ada di belakangku. Ia menyentuh pundakku.
“Mama, juga ikhlas Sha. Pergilah, nak. Bebaskan ragamu dari rasa sakit. Temukan kedamaian.” Kata Tante Dien sambil terisak. Tante Dien lantas memeluk Raisha. Tangankupun meraih tangannya. Kugenggam.
Kata-kata kami disambut senyuman samar Raisha. Perlahan nafasnya tak lagi tersengal. Dadanya tak lagi naik turun. Degup jantungnya tak lagi berirama. Mata indahnya telah terpejam. Dan Tante Dien menangis dalam pelukanku.
***
Aku tak pernah tahu apa rencana Tuhan atas ini semua. Seperti aku tak pernah tahu mengapa aku harus lari dari kehidupan normalku. Mengapa baru sekarang kuputuskan untuk pulang. Aku tak tahu pula siapa yang harus disalahkan.
Dan kini setelah aku kembali, giliran aku yang kehilangan. Kepulanganku dan kepergian Raisha adalah salah satu rencana Tuhan. Kutemukan secarik kertas dengan tulisan Raisha entah kapan ia menulisnya.
Aku tertawa dalam tangis
Aku menangis dalam diam
Aku diam dalam tawa
Semua begitu semu
Aku ada dalam tidak keberadaanku
Aku jadi aneh
Bahkan tak bisa mengerti diriku sendiri
Tapi baiklah aku mulai diajarkan untuk berkompromi
Berkompromi dalam segala hal
Berkompromi dalam ketidak terimaanku
Termasuk itu…
Berkompromi dengan takdir

***

Lara Lintang

/Yen ing tawang ana lintang/
/cah ayu/ aku ngenteni sliramu/
..................


Seorang perempuan tua tengah membelai rambut seorang gadis muda, yang nampak terlelap, di pangkuannya. Perempuan tua itu lirih-lirih melagukan tembang yang selalu ia lakukan di tiap-tiap malam menjelang si gadis tertidur. Rambut putih yang semakin banyak, rapi tergelung di atas kepalanya. Serta keriput-keriput tuanya tetap tak dapat menyembunyikan betapa besar cinta dan kasihnya kepada si gadis.
Sementara, si gadis terlihat nyaman terlelap di pangkuan perempuan itu. Wajahnya menyiratkan kedamaian dengan senyum samar yang menghiasi, hanya tangannya yang meremas-remas bola kecilnya.
“Nduk, kamu sudah tidur. Duh nduk, eyang ndak bisa terus-terusan njaga kamu. Kamu harus bisa jaga diri.” Perempuan tua itu berkata sambil terus membelai rambut si gadis. Mata perempuan tua itu menerawang jauh menembus kisi-kisi jendela. Dari kisi-kisi jendela itu si perempuan tua dapat melihat gemintang di langit di langit kelam malam itu. Ia selalu berharap gadisnya dapat memiliki sinar seterang para bintang. Tanpa harus berharap pantulan sinar dari manapun.
***
Aku Lintang, entah ku tak tahu asal-muasal nama itu. Tapi, cukuplah aku tahu kalau aku memiliki sebuah nama. Aku tinggal di sebuah rumah, besar sekali. Ada banyak kamar di sini. Juga ada banyak barang-barang yang berkilau. Lampu seribu cahaya ada di setiap ruang. Ah, tapi aku tidak suka semua itu. Karena itu semua itu tidak membuatku leluasa bergerak. Aku tidak bisa bebas bermain dan berlarian. Di rumah ini ada banyak sekali orang tapi tak satupun yang hirau padaku. Aku tidak suka pada mereka di dalam rumah, tidak boleh berteriak, tidak boleh ini, tidak boleh itu. Aku tidak suka semua itu.
Aku lebih suka dan nyaman berada di kamar. Berdiri berlama-lama di balik jendela dan memandang langit di malam hari. Yang aku nanti adalah kerlip gemintang yang akan selalu menyapaku. Hanya bintang yang mengerti aku. Karena aku bisa berbicara berlarat-larat cerita tentang keseharianku, perasaanku, apa yang aku lihat, dan apa yang aku rasakan tanpa takut akan dihentikan atau disela. Dia akan menyimak dan mendengarkan setiap kata-kata yang aku sampaikan hingga aku lelah untuk becerita dan beranjak dari jendela untuk kemudian tidur. Begitu saja selalu setiap malam.
Namun, suatu hari ada hal lain yang membuatku nyaman di rumah ini. Ada ibu-ibu tua yang selalu menggunakan kebaya dan kain setiap harinya. Ia datang dengan membawa kasih dan sayang yang melimpah untukku. Tak sedikitpun perhatiannya luput dari aku. Ia tak pernah membentakku, memarahiku, atau memukulku sekalipun. Ibu tua itu menemani aku di setiap saat. Jika aku mau makan dia ada untuk menyuapiku makan. Kalau aku sudah waktunya mandi maka dia akan membimbingku ke kamar mandi dan dengan sabar ia menggosok tubuhku. Atau jika malam menjelang dan sudah waktuku tuk terlelap maka pangkuannya adalah tempat paling nyaman untuk merebahkan segala kelelahan. Aku bahagia dan senang sekali semenjak ada dia rumah ini.
***
Di meja makan pagi itu, keluarga Wijaya berkumpul untuk sarapan. Di sela-sela acara makan, mereka nampak membincangkan sesuatu. Topik yang paling sering dibincangkan di setiap momen kumpul keluarga adalah tentang Lintang. Dan kini, terlebih dengan keberadaan eyang putri, ibu dari Wijaya, sudah pasti Lintang adalah topik utama pembicaraan kali itu.
“Bagaimana Pi, apa yang harus kita lakukan untuk Lintang ? Mami nggak tahu lagi harus menghadapi dia dengan cara apa.” Kata Diana istri Wijaya. Mendengar pertanyaan istrinya Wijaya mengerutkan kening.
“Tapi, bagaimanapun Lintang kan juga anggota keluarga kita. Tempat Lintang ya di tengah-tengah kita.” Sela Wijaya menjawab keluhan istrinya.
“Tapi Pa, coba Papi bayangin kemarin waktu Edo ke rumah, Kak Lintang keluar dan muter-muter di ruang tamu. Aya kan malu.”Cahaya anak bungsu Wijaya menambahkan. Wijaya menampakkan wajah bingung. Sesekali ia melirik Ibunya yang sedari tadi hanya diam dan mendengarkan percakapan mereka.
“Sudahlah Pi, tidak ada lagi yang bisa kita harapkan dari Lintang hanya bisa mempermalukan keluarga kita. Mana ada gadis berusia tujuh belas tahun yang berbicara saja tidak bisa. Di mana muka kita ini ditaruh kalau ternyata semua orang tahu ada orang idiot di rumah kita. Lagipula kita punya anak gadis yang belum menikah. Papa mau mereka tidak laku kalau orang lain tahu merek punya saudara cacat seperti Lintang.” Diana terus menggerutu.
“Sudahlah Wijaya, kalau memang keluargamu keberatan Lintang ada di rumah ini biar dia Ibu ajak pulang ke Yogyakarta. Ibu masih sanggup mengurus dia. Kalian tidak perlu takut nama baik kalian rusak karena keberadaan Lintang.” Eyang putri akhirnya berkata.
“Tapi Bu...Mas Wisnu sendiri yang menitipkan Lintang kepada saya sebelum ia meninggal. Memang mungkin pada awalnya saya tidak bisa menerima keberadaan Lintang yang idiot...eh...maksud saya...e.... Tapi sekarang saya sudah mulai terbiasa dengan dia.” Jawab Wijaya kemudian.
Terbiasa, itu karena Papi pergi pagi pulang malam. Jadi papi nggak pernah ngerasain sendiri bagaimana malunya kami yang ada di rumah ketika ada tamu atau teman aku datang.” Gema, anak sulung Wijaya, membalas kata-kata Wijaya.
“Sudahlah, Ibu akan membawa Lintang ke Yogyakarta. Ibu nggak mau keberadaan Lintang di sini akan memecah keluarga kalian.” Tukas Eyang putri dan segera meninggalkan meja makan dan menuju ke kamarnya.
Suasana sarapan itu menjadi dingin kemudian. Mereka yang masih ada di situ saling memandang satu sama lain. Dan senyum penuh kemenangan ada wajah masing-masing dari mereka. Rencana yang mereka susun terlaksana dengan berhasil.
***
Lintang sedang berdiri di balik jendela ketika eyang putrinya masuk ke kamar. Lintang hanya diam menatap dunia luar. Tangannya terus meremas-remas bola karet warna merah. Eyang putri duduk di kasur dan terus memandangi Lintang. Lintang terus memandangi langit dari balik jendela itu. Sambil terus bergumam entah apa maksudnya. Melihat itu semua eyang putri menitikkan air mata. Eyang putri mendekati Lintang dan meraih tubuhnya untuk dipeluk. Tubuh tua eyang putri bergetar karena menahan tangis. Ia tidak pernah menyangka memilki cucu yang istimewa dan berbeda seperti Lintang.
“Lintang...Lintang...” Eyang putri mencoba memanggil Lintang. Tapi yang dipanggil tak bereaksi sedikitpun. Eyang putri lantas menolehkan wajah Lintang ke arahnya. Lintang memandang kosong wajah eyang putri sambil terus menggumam.
“Lintang, besok kamu ikut eyang yah ke Yogyakarta. Nanti kamu bisa lihat langit dan bintang di malam hari. Mau kan ?” Tanya eyang putri mencoba mencari jawaban dari wajah Lintang. Tapi Lintang tak menjawab sepatah kata pun. Ia hanya tersenyum samar dan memalingkan wajah dari eyang putri. Eyang putri hanya dapat menarik nafas panjang. Dan kembali menginggalkan Lintang dengan dunianya sendiri.
Eyang putri mengeluarkan semua baju Lintang dari lemari dan kemudian mengepaknya dalam tas. Eyang putri semua barang-barang kesayangan Lintang. Ia telah berkeyakinan akan membawa Lintang besok ke Yogyakarta. Paling tidak di sana ia dapat memastikan Lintang mendapatkan kasih sayang yang cukup dari orang-orang di sekitarnya.
***
Aku pergi dari rumah ini. Aku dibawa pergi entah ke mana. Tapi aku senang bisa pergi dari sini karena itu ketika aku dibimbing keluar dari rumah oleh Yang Ti, aku tertawa-tawa dan melonjak-lonjak kegirangan. Oh ya, aku naik mobil tapi bisa terbang ke langit tinggi...tinggi sekali. Dari sini aku bisa lihat langit lebih dekat dan gumpalan awan. Aku mau terus di sini.
Tapi setelah aku kembali ke bumi, aku menemui tempat yang berbeda. Di sini lebih sejuk. Rumah yang aku datangi juga berbeda. Sama besarnya tapi lebih sederhana. Dan aku bisa berlarian di dalam rumahnya karena tidak banyak barang-barang di sana. Yang Ti menunjukkanku sebuah kamar. Pasti nanti aku bisa melihat langit di malam hari karena ada jendela yang cukup besar di dalamnya.
“Lintang...kamu senang di sini ? Sekarang ini rumahmu, kamu tinggal dengan eyang.” Berkata-kata padaku. Mendengarnya aku hanya memandangnya sekilas dan kembali memainkan bola karet yang sedari tadi aku pegang. Yang Ti kemudian meninggalkanku di kamar sendirian. Dan aku masih tetap di sini berdiri di balik jendela.
***
Eyang putri sangat bergembira melihat Lintang bisa menikmati hari-harinya di Yogyakarta. Lintang menjadi jarang sekali berteriak histeris. Lintang kini sibuk bermain-main di taman dan tidak ada satupun orang yang melarangnya. Lintang kemudian berlama-lama memandangi bunga-bunga di taman. Ia sebelumnya tak pernah melihat sesuatu yang penuh warna dan berbau harum seperti ini. Kalaupun ia pernah melihat sekilas, ia tak benar-benar memperhatikan dengan seksama. Dan kini ia bebas melihat dunia luar yang ternyata sangat menyenangkan dibanding di dalam kamar.
Ketika Lintang sedang sibuk bermain di taman. Awang, anak kepala desa, masuk ke halaman rumah dengan membawa beberapa map. Kedatangan Awang, tiba-tiba menarik perhatian Lintang, ia tak lagi memperhatikan bunga dan kumbang. Ekor matanya mengikuti langkah Awang yang memasuki rumah. Ia terus memandangi Awang yang telah menghilang dari pandangannya. Eyang putri yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Lintang merasa bingung. Karena selama ini tak ada satupun orang yang mampu membuat ketertarikan Lintang begitu besar. Eyang putri lantas masuk ke rumah.
Di dalam rumah, Awang telah duduk di kursi siap dengan berkas-berkas yang tadi ia bawa. “Bu, ini semua berkas yang Ibu minta ditandatangani oleh Bapak. Semoga dapat berguna.” Kata Awang sambil menyerahkan berkas-berkas.
“Terima kasih ya, Wang. Paling tidak, Ibu sudah tenang sekarang tentang masa depan Lintang.” Kata eyang putri. Awang menanggapi kata-kata eyang dengan tersenyum.
“Maaf Bu, tapi apa Lintang itu gadis muda yang ada di taman depan tadi ?” Tanya Awang.
“Iya...Lintang memang terlahir istimewa. Dia tidak dapat berkomunikasi dengan baik juga tidak tanggap dengan lingkungan. Ya meskipun usianya sudah tujuh belas tahun tapi tingkah lakunya masih seperti anak-anak.” Eyang berkata sambil matanya berkaca-kaca. Awang mengangguk-anggukkan kepala.
“Ya, kalau begitu semoga Lintang betah tinggal di sini. Saya pamit dulu, Bu.” Awang meninggalkan ruangan itu. Ia berjalan menuju halaman dan di sana ia menemukan Lintang tengah memandang ke arahnya. Lintang hanya diam tak bergerak di sana hanya memandangnya.
“Hai Lintang, apa kabar aku Awang ?” Awang mencoba menyapa Lintang. Tapi Lintang tetap dalam posisinya semula dan terus masih memandangi Awang. Awang agak sedikit rikuh kemudian tersenyum pada Lintang.
“Lintang tidak bisa membalas sapaanmu Wang. Tapi kamu beruntung kamu berhasil membuat dia memperhatikanmu.” Eyang Putri berkata dari belakang Awang. Awang terkejut dan kemudian tersenyum pada eyang. Kemudian sekali lagi ia berpamitan pada eyang dan benar-benar pergi dari halaman rumah itu. Eyang tersenyum pada Lintang yang masih memandangi gerbang rumah.
***
Malam ini banyak yang ingin aku ceritakan pada bintang. Aku kembali berdiri di balik jendela. Mataku liar mencari keberadaan teman-teman malamku. Malam ini langit berselimut awan sehingga bintang, sahabatku, tampak malu-malu menampakkan diri. Tapi aku terus menunggu di balik jendela. Lalu dari luar kamar terdengar Yang Ti nembang. Suara Yang Ti memang merdu, enak didengar.
Aku ingin segera bercerita kepada bintang tentang rumah baruku dan banyak hal menyenangkan yang aku lakukan sejak aku di sini. Termasuk kisahku tentang pangeran. Tadi pagi aku bertemu dengan pangeran. Dia tampan sekali hingga mataku tak sedetikpun enggan meninggalkan sosoknya. Jantungku berdebar kencang ketika pertama kali mata ini menyerubuk sosoknya. Aku seakan tiba-tiba kehilangan kemampuan untuk bernafas.
Tapi itulah pangeranku yang telah membuatku terpaku beberapa saat. Tapi kemudian dia pergi dan menghilang dari balik gerbang. Aku selalu berharap esok aku dapat melihat pangeranku lagi. Aku tak sabar menunggu hari esok. Tapi apa nanti yang aku lakukan jika ada dia. Sementara tadi saja, bibirku langsung kelu ketika melihatnya pertama kali. Ah...sudahlah yang pasti aku ingin bertemu dengannya. Ah...bintang kamu kemana malam ini... aku ingin banyak bercerita padamu. Tapi aku terlalu lelah untuk menunggumu. Aku ingin segera tidur dan bermimpi tentang pangeranku.
***
Esoknya aku bangun dengan hati gembira. Aku akan menunggu pangeranku di taman depan. Langkahku ringan keluar dari kamar. Ada yang aneh, di luar kamarku banyak sekali orang berkumpul dengan wajah sedih. Ada apa sih... ? Aku mau bertemu dengan pangeranku malah disambut dengan sedih dan tangis. Mana semua orang memakai baju hitam. Aku segera berlalu dari ruang tengah rumah itu. Sekilas aku melihat mereka yang ada di situ duduk mengelilingi sesuatu yang ditutupi kain putih dan kain batik. Tapi aku tak menghiraukannya dan terus menuju taman di depan rumah.
Tapi tiba-tiba ada sebuah tangan meraih tanganku. Aku diam terpaku.
“Mbak Lintang...Eyang Putri, mbak.” Yu Jum berkata padaku. Tapi aku hanya diam mendengarnya. Yu Jum menarikku untuk masuk ke dalam rumah. Aku tidak mau. Aku ingin tetap di taman menunggu pangeranku. Tapi Yu Jum terus menarikku. Aku pun berteriak meronta-ronta
“Aaaaaa....Aaaaa...”
“Aaaaaa....Aaaaa...”
“Aaaaaa....Aaaaa...”
Tapi kemudian semakin banyak orang yang menarikku masuk ke rumah. Aku tidak tahu apa maksud mereka. Kemudian aku didudukkan di depan gundukan yang ditutupi kain di tengah orang-orang yang ada di situ. Salah satu dari mereka membuka kain itu perlahan. Aku melihat di sana eyang putri tertidur di sana. Lalu mengapa semua orang sini ? Mereka akan menganggu tidur eyang putri. Aku terduduk diam saja di situ. Aku tidak mau mereka menarik-narikku lagi. Aku tidak mau membuat eyang putri terbangun.
Tapi kemudian, mereka membawa eyang putri dalam keranda besi dan menggotongnya pergi entah ke mana. Aku merasa mereka akan menjauhkanku dengan eyang putri. Aku nggak mau mereka merampas satu-satunya orang yang menyayangi aku. Aku berteriak-teriak pada mereka untuk berhenti tapi tak ada yang menghiraukan. Aku menarik-narik satu persatu dari mereka tapi mereka tetap berjalan terus.
“Ang...iii....Angg...iiiiii” Teriakanku memanggil eyang putri. Aku terjatuh dan air mataku bertetesan ke tanah. Lantas Yu Jum mengangkatku dan membimbingku untuk berjalan mengikuti rombongan.
***
Sepeninggal eyang putri, Lintang menjadi tak terkontrol. Kepala desa yang diberikan amanah oleh eyang putri untuk mengurusnya pun menyerah. Lintang sering berkeliaran di jalan. Jika sudah begitu ada saja orang yang akan mengantarkannya pulang ke rumah setelah menemukan Lintang jauh di luar desa. Yu Jum yang diberi tanggung jawab untuk mengurus rumah juga kewalahan dengan perilaku Lintang yang tak ia ketahui maksudnya apa. Eyang putri memang meninggalkan hartanya untuk Lintang. Tapi dia tidak meninggalkan orang yang benar-benar mengerti dan menyayangi Lintang. mereka yang sekarang berada di sekitar Lintang tak tahu harus mengartikan apa setiap hal yang dilakukan Lintang.
Kegemparan terjadi beberapa bulan setelah meninggalnya eyang putri, Lintang diketahui tengah hamil. Kontan satu desa gempar mengingat keadaan Lintang yang tidak biasa. Mereka mempertanyakan siapa anak dari janin yang ada dalam kandungannya. Mereka semakin mengucilkan Lintang. Perut lintang semakin membuncit tanpa ada yang tahu siapa ayah dari anaknya. Yu Jum sering melarang Lintang keluar rumah. Tapi ia sering kecolongan karena tiba-tiba Lintang tidak ditemukan di rumah.
Tapi Lintang belum sempat melahirkan anaknya dan merasakan menjadi seorang ibu. Karena pada suatu hari ketika Lintang pergi dari rumah dan berkeliaran di jalan. Kemudian di penghujung hari, ia kembali pulang hanya dengan jasadnya saja. Kata beberapa orang Lintang tertabrak truk sayur yang akan ke kota. Sopir itu berhasil ditangkap oleh massa. Tapi nyawa Lintang tak sempat tertolong termasuk bayi dalam kandungannya.
***
Lintang tak pernah minta untuk dilahirkan dengan keadaannya yang sekarang. Lintang tak pernah meminta semua orang menerima dan memahami keadaannya. Ia pun tak pernah mengeluh atas semua yang ditimpakan padanya. Tapi sejatinya, Lintang hanya gadis remaja yang juga dapat merasakan lara dan derita. Tapi Lintang hanya diam atas semua. Diam pada semua orang.
Hingga akhir hayatnya tak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Lintang. Tak ada yang benar-benar mengerti tentang kehidupannya dan apa maksud semua yang dia lakukan. Terutama siapa ayah dari bayi dalam kandungannya. Karena memang Lintang tak pernah berkata pada siapapun. Hanya kepada bintang di saat langit tengah beranjak kelamlah ia jujur tentang semua kisahnya. Tak ada pertanyaan dan percakapan tentang Lintang semenjak itu di desanya terutama dari keluarganya. Semuanya telah melupakan Lintang. Tapi rahasia Lintang tentang kisahnya tetap abadi. Kisah tentang lara dan deritanya. Seabadi bintang yang ada di langit kelam.

-----------------
Ketika semua makhluk telah terlelap dalam singgasananya. Dalam pelukan sunyi dan kelam bintang dan langit menyatu dalam peraduan. Mereka telah menyatukan keabadian hasrat dan cinta dalam diam. Rahasia mereka abadi selamanya. Janji seia dan sekata telah dikesumatkan. Janji yang tak tersuarakan. Janji yang selalu digenggam erat oleh bintang. Hingga akhirnya sinarannya telah redup dan menghilang dalam pelukan sunyi dan kelam.

Padang Bintang

Dunia dan kehidupan terus bergerak menuntut manusia-manusia turut bergerak seiringnya. Terkadang mereka, manusia-manusia yang menganggap dirinya penting bagi kehidupan ini, terjebak pada rutinitas kehidupan yang semu. Bahkan jika mereka mau sedikit lebih jujur, mereka pun tak tahu untuk apa dan mengapa mereka berkejaran dengan waktu dan kesibukan.
Dan aku telah penat dengan rutinitas konyol itu. Aku muak dengan orang-orang yang meneriakkan kekurangan waktu dalam satu hari untuk menjalankan semua aktivitasnya. Ha, taik kucing itu semua. Apakah mereka yakin tidak akan berbuat yang sama jika satu hari tak lagi 24 jam, 36 jam atau 72 jam misalnya. Toh nanti jika Tuhan mengubah putaran waktu sesuai kehendak mereka, aku yakin mereka juga akan berkoar-koar, ”Aku tak punya cukup waktu untuk melakukan ini, melakukan itu.” Bah, apa mereka pikir waktu itu dibuat hanya untuk memuaskan kepentingan mereka.

Padang Bintang :Sebuah Puisi

Mimpi mimpi masa kecil itu
Terus ada
membayang
tentang Pangeran berkuda putih
Putri
dan Bintang Harapan

Siangku ingin malam cepat datang
Malamku tak ingin segera usai

Hanya satu tanya
akankah seberkas cahaya terang itu melesat di langit malamku?
Akankah pangeranku datang dengan kuda putihnya?
Aku mulai nyaman bergumul dengan jendela
kebersamaan kami memakan segala waktu

tapi,
kemudian kau tuntun aku
kau tuntun aku masuk ke dunia
yang apa itu ku tak tahu
padang rumput yang kehijauannya tertutup kelam
merengkuh kemegahan cakrawala


tempat apa ini? padang rumput?
bukan, katamu
ini Padang Bintang
mengapa kau bawa aku ke tempat ini?
Agar kamu tak perlu terus berada di balik jendela dan menanti
kapan bintang harapan itu akan melesat
dan membawa serta pangeran impianmu
Di sini setiap detiknya akan kau temui bintang harapan
apa keinginan dan mimpiku akan terwujud?
Pasti
Jika bintangmu itu tak mewujudkan mimpimu
aku akan melakukannya untukmu

Padang bintang itu tetap ada dan akan selalu ada
Dia selalu menuntunku menjenguk padang bintang kami
dan terus akan terjadi
bukan untuk terus berimpi dan berharap
tapi untuk melihat seberapa banyak mimpi dan harapan
yang akan kami wujudkan
berdua

dua anak manusia dan seekor kuda putih
tenggelam pada kekelaman padang bintang

Mimpi mimpi masa kecil itu
Terus ada
membayang
tentang Pangeran berkuda putih
Putri
dan Bintang Harapan
tapi aku tak lagi terus bermimpi
Dia menyatakan mimpi-mimpi itu

Kepada Dia yang telah menjadikan mimpi-mimpiku bukan lagi sekedar angan
Kepada Dia yang telah menuntunku pada Padang Bintang
hanya kepada dia
jiwa kan terpaut
genggaman tak lagi kosong
langkah tak lagi sendiri

Cindy Cinta, Mati

Cindy seorang gadis belia berusia 17 tahun, dia bersekolah di salah satu SMU swasta di Surabaya. Dia sangat cantik tapi sayangnya Ia sangat tertutup diantara teman-temannya. Bagi teman-temannya Cindy adalah sosok gadis misterius dan sulit ditebak dasar hatinya. Tidak ada yang tahu apa isi hatinya. Tidak ada yang benar-benar tahu apa isi hatinya selain Cindy sendiri.
Cindy hanya jujur pada satu hal yaitu diarynya. Di dalamnya juga dia menumpahkan seluruh perasaannya. Termasuk rasa cinta yang mendalam kepada seorang laki-laki. Dia adalah Raka. Nama Raka selalu menghiasi lembar demi lembar diarynya. Selama 5 tahun ini hanya Raka yang mengisi hati Cindy. Walaupun apa yang selama ini ia rasakan tak pernah berbalas. Karena Raka tidak pernah tahu bahwa Cindy mencintainya.
Seperti biasa di hari-hari sebelumnya, Cindy selalu menulis diary, dimana saja ia berada, di tempat umum sekalipun. Hari itu saat istirahat sekolah ia tetap tinggal di kelas dan mulai menulis. Tiba-tiba……

Monday, September 14, 2009

Kisah Langit

burung gereja itu berkicau lirih
bergeromdol di ujung dahan angsana
mereka membawa sekelumit kisah yang tak tersampaikan
     langit pada bintangnya
yang terlanjur menghilang di tepi adzan
kisah yang bahkan tak diketahui
     mana pangkal awal dan akhirnya
karena langit tak ingat benar
     kapan ia mulai memeluk bintang dalam hangatnya kasih


di malam yang dingin
kisah yang tak pernah tersampaikan
     ketika bintang yang direngkuhnya menghilang di tepi adzan
dan dia hanya bisa menceritakannya pada burung gereja
kisah yang mungkin tak terceritakan
     bahkan oleh burung gereja
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...