Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2009

Tersenyumlah Bidadariku

Gadis itu tengah duduk dan membaca secarik kertas dalam kamarnya yang sedikit temaram. Sebuah undangan untuk orangtua mahasiswa yang akan diwisuda. Gadis itu Lina. Lima hari lagi ia akan meraih gelar Sarjana Komunikasi. "Apa aku harus kembali ke rumah itu ya, sudah hampir empat tahun aku tak pernah lagi menginjakkan kakiku di sana." Lina bergumam Memang telah empat tahun ia tak pernah lagi mengunjungi tempat ia dahulu merenda masa kanak-kanak dan remajanya. Sejak ia terlibat perang mulut dengan papanya. Masalah yang harusnya bisa diselesaikan dengan kepala dingin. Hanya karena papa Lina menginginkan anaknya untuk kuliah di Kedokteran sementara Lina lebih memilih Ilmu Komunikasi sebagai jalur pendidikannya. Secuil masalah yang mengakibatkan perang argumen panjang yang tak berkesudahan. Dalam keadaan emosi, Lina memutuskan untuk meninggalkan rumah. Walau memang dengan berat hati, ia harus meninggalkan adiknya Rani yang saat itu masih kelas 2 SMP. Lina meninggalkan rumah tanpa…

Lantas Apa ?

Ketika rindu tak lagi membuncah
Ketika rasa tak lagi menggelora
Ketika hati menjadi terbelah
Lantas apa lagi yang tersisa dari sebuah kisah cinta
Bimbang...
Ketika panah lain menusuk hati yang satu dan membelahnya
Meninggalkan luka yang menyakitkan,
       namun nikmat
Aku tak dapat khianat dari rasa ini
Tapi...panah itu makin menarikku dalam pusaran yang tak berujung
Apakah aku berkhianat...
Lantas apa...
Cintakah juga yang kurasakan
Dalam diam aku kubur semua
Karena rasa memang selalu salah
Karena ini memang bukan cinta
       lantas apa ?

Kisah tentang Rintik Hujan dan Anak Payung

Pagi ini begitu dingin sepertinya aku tidak berada di kotaku saja. Kotaku yang identik dengan hawa panas dan kering kini berubah lebih dingin dan sejuk. Ya...sepertinya dewi hujan masih betah untuk mencurahkan airmatanya di kotaku ini. Hingga hampir setiap saat jalanan kota ini akan basah karena kucuran airmata dewi hujan. Dan begitupun pagi ini, rasanya malas sekali beranjak dari dalam kamar, di luar hujan masih turun. Tapi bagaimanapun kehidupan harus terus berjalan tidak mungkin hanya karena hujan laju kehidupan berhenti. Dan begitupun aku, yang kemudian beranjak keluar menemui sejuknya udara pagi itu. Sepiring nasi goreng dan segelas jus jeruk di atas meja membantuku melewati pagi yang dingin ini. Aku segera menyelesaikan hidangan pagiku dan bergegas pergi ke tempatku mengadu nasib. Tempatku mendapatkan nafkah. setelah perutku cukup terisi, aku menghampiri motor bututku di lorong samping rumah. Dengan motor butut ini aku melewati hari-hariku di jalanan. Jalanan kota ini telah ba…

Lelah

bintang yang selalu memancarkan terangnya
mewarnai malam yang kelam
tiap malam kutengadahkan kepala
      demi untuk melihatnya
tiap malam aku terkagum-kagum akan ciptaan Tuhan itu
tiap malam...
tiap malam...
tapi kini aku lelah...
lelah sekali
kepalaku berat, pening tak keruan
kenapa bintang begitu egois
ia tak mau turun menemuiku
aku lelah
lelah sekali

Lelaki Itu

Manusia itu datang di dekatku
Menghadiahkan senyum peneuh arti
Yang tak ku tahu apa maksudnya
Lelaki itu...
Tiba-tiba memenuhi pikirku
Menyita perhatianku
Tapi...
Lelaki itu...
Hanya lelaki yang hanya manusia
Bukan dewa
yang harus aku puja
Lelaki itu...

Malam ini saja, bisa kan?

Senja itu terlau menyeramkan
meski tuk kesekian kalinya
Apalagi malam
Wajah-wajah dari neraka bangkit kembali

Bayangbayang malam tak pernah berhenti meneror ruang gerakku

Senja itu terlau menyeramkan
meski tuk kesekian kalinya
Apalagi malam
Mata-mata merah penuh amarah datang lagi

senja demi senja
malam demi malam
teror itu datang

Malam ini saja
biarkan senja dan malam berlalu
dengan apa adanya
tanpa teror
Malam ini saja, bisa kan ?

Mimpi

Kata orang mimpi begitu menyesatkan menerima yang nyata
Pun demikian aku
Ku selalu berada pada mimpi yang sama
Mimpi tentang pangeran dan kuda putih

Serta padang bintang tempat segala pengharapan terkabul
Mimpi tentang harapan, cita-cita, dan cinta
Mimpi di kala aku terpejam
Benar kata mereka,
Aku enggan membuka mata tuk mengakhiri ini semua
Tapi tiba-tiba sebuah tepukan halus di pipiku
Mencoba menyadarkanku dari mimpi
Aku tersadar dan pandanganku terkunci pada sebuah mata
Mata yang di sana aku melihat semua mimpiku dalam kejernihan matanya


Ruh

Ruh... Aku terlahir dengan ruh dan raga yang tak padu Ruh... Ruhku melayang menari Mencari tempat bersemayam Ragaku tak dapat menariknya kembali Ruhku tak ingin menetap Ragaku tak ingin berpindah Aku marah... Aku bingung... Ruhku...Ragaku... Dengarlah teriakku Bersatulah... Bersatulah demiku... Demi Tuanmu !!!

Lari--sebuah cerpen

Pemakaman itu nampak ramai. Wajah-wajah penuh duka dengan semburat kemuraman memenuhi sekeliling liang lahat. Namun perempuan itu nampak terdiam. Tak ada tangis. Tak ada pula suara. Airmatanya telah lama kering. Sudah terlalu lama ia menangis.
‘Mas, aku tidak tahu, aku harus sedih atau bahagia melihat kepergianmu. Tapi kalau saja kamu mau bijak, dan benar-benar memegang janji setia kita di depan altar waktu itu, mungkin sekarang kita dapat hidup bahagia dengan anak-anak kita. Tapi sudahlah mas, tenanglah di sisi Tuhan. Sekarang aku akan melanjutkan hidupku. Terima kasih telah memberiku pengalaman hidup yang membuatku bijaksana. Selamat Jalan Mas, kamu telah memilih berlari dari hidupmu. Sekarang, nikmati perjalananmu.’ Perempuan itu menaburkan bunga di atas pusara suaminya.
***
Entah sampai kapan laki-laki muda itu akan bertahan. Ia mencoba untuk terus terapung hanya dengan sebongkah kayu sebagai pegangan. Langit terus berubah warna kadang gelap kadang terang. Ombak terus memainkan t…

Setitik Cahaya, dimana ?

Gelap... Hitam... Legam... Langkah awal kaki ini terlau ragu Tak dapat kulihat sesuatupun di depan
Apa langkah ini berkenan dilanjutkan ...atau henti Tak dapat aku mundur Di belakang gelap menanti Jika tetap aku terdiam Hingga kapan Ku hanya ingin setitik cahaya Setitik saja... tak perlu melimpah Setitik Cahaya yang mampu menuntunku Menuntun ke tempat berlimpah cahaya Tapi hingga kapan aku menanti Atau...aku harus mencari Tapi di mana Sedangkan... Kanan kiri atas bawah depan belakang semua kelam

Nadir

Setiap dipa langkah adalah pengharapan
Setiap tarik nafas adalah doa
Setiap gumaman doa adalah derita

Tak perlu lagi harap dan asa
Tak perlu lantunan doa
Tak ada lagi derita

Kini semua ada dalam titik nadir
Semua berakhir kini
Yang ada hanya....
Tunduk dan diam
     dalam hening dan kelam

KETIKA HOMOSEKSUALITAS BERBICARA DALAM RAHASIA BULAN

Dunia sastra Indonesia terus saja dibanjiri karya-karya yang “tidak biasa”. Sejak kemunculan Ayu Utami dengan dwilogi Saman dan Larung yang mengumbar seksualitas secara apa adanya. Makin banyak saja penulis-penulis yang berani mengungkapkan hal yang selama ini selalu dianggap tabu, yaitu seksualitas. Seiring dengan hal itu, selain banyknya muncul karya yang mengeksploitasi tubuh dan seks, juga mulai terdapat beberapa karya yang mengusung wacana homoseksualitas.
Mungkin memang bukan menjadi hal yang baru jika terdapat wacana homoseksualitas dalam fiksi Indonesia. Karena pada sekitar taun 1970-an, tepatnya 1974, muncul sebuah karya yang juga mengusung wacana homoseksualitas. Yatu pada karya S.N. Ratmana yang berupa cerpen dengan judul Sang Profesor. Setelahnya terdapat karya-karya penulis sekelas Seno Gumira Ajidarma, Gus Tf Sakai, Agus Noor dll.
Lantas kemudan muncul sebuah antologi cerpen di tengah-tengah masyarakat dengan mengusng wacana homosesualitas secara total yang dihasilkan …

Aku Kembali

Hem…Akhirnya. Akhir dari sebuah perjalanan panjang jika itu memang pantas disebut perjalanan. Tapi, jika sekarang kuputuskan untuk kembali pulang, bukan pula karena perjalananku telah usai. Tapi aku hanya terlalu lelah untuk berlari dan bersembunyi. Dan aku rasa sekarang waktu yang paling tempat untuk kembali. Kembali pada kehidupan yang sempat terlepas dari tanganku.
Setelah perjalanan yang melelahkan, akhirnya aku keluar juga dari Bandara. Aku kembali pulang diiringi dengan segala macam perasaan yang muncul di hati dan juga pikiran yang berkecamuk di otakku. Rasa rindu, bahagia, sedih, dan penyesalan bercampur menjadi satu. Rindu pada keluarga dan kehidupan yang dulu kutinggalkan. Bahagia karena masa penantian dan pelarianku yang panjang telah berakhir. Sedih dan penyesalan yang mengingat tahun-tahun yang terlewat setelah aku terpaksa harus pergi.
Tak ada iringan penyambutan sekembalinya aku di kota ini. Tak ada pelukan dari kerabat dan teman. Tapi memang itu yang kumau. Kubiarkan tak…

Lara Lintang

/Yen ing tawang ana lintang/
/cah ayu/ aku ngenteni sliramu/
..................


Seorang perempuan tua tengah membelai rambut seorang gadis muda, yang nampak terlelap, di pangkuannya. Perempuan tua itu lirih-lirih melagukan tembang yang selalu ia lakukan di tiap-tiap malam menjelang si gadis tertidur. Rambut putih yang semakin banyak, rapi tergelung di atas kepalanya. Serta keriput-keriput tuanya tetap tak dapat menyembunyikan betapa besar cinta dan kasihnya kepada si gadis.
Sementara, si gadis terlihat nyaman terlelap di pangkuan perempuan itu. Wajahnya menyiratkan kedamaian dengan senyum samar yang menghiasi, hanya tangannya yang meremas-remas bola kecilnya.
“Nduk, kamu sudah tidur. Duh nduk, eyang ndak bisa terus-terusan njaga kamu. Kamu harus bisa jaga diri.” Perempuan tua itu berkata sambil terus membelai rambut si gadis. Mata perempuan tua itu menerawang jauh menembus kisi-kisi jendela. Dari kisi-kisi jendela itu si perempuan tua dapat melihat gemintang di langit di langit kelam malam…

Padang Bintang

Dunia dan kehidupan terus bergerak menuntut manusia-manusia turut bergerak seiringnya. Terkadang mereka, manusia-manusia yang menganggap dirinya penting bagi kehidupan ini, terjebak pada rutinitas kehidupan yang semu. Bahkan jika mereka mau sedikit lebih jujur, mereka pun tak tahu untuk apa dan mengapa mereka berkejaran dengan waktu dan kesibukan.
Dan aku telah penat dengan rutinitas konyol itu. Aku muak dengan orang-orang yang meneriakkan kekurangan waktu dalam satu hari untuk menjalankan semua aktivitasnya. Ha, taik kucing itu semua. Apakah mereka yakin tidak akan berbuat yang sama jika satu hari tak lagi 24 jam, 36 jam atau 72 jam misalnya. Toh nanti jika Tuhan mengubah putaran waktu sesuai kehendak mereka, aku yakin mereka juga akan berkoar-koar, ”Aku tak punya cukup waktu untuk melakukan ini, melakukan itu.” Bah, apa mereka pikir waktu itu dibuat hanya untuk memuaskan kepentingan mereka.

Padang Bintang :Sebuah Puisi

Mimpi mimpi masa kecil itu Terus ada membayang tentang Pangeran berkuda putih Putri dan Bintang Harapan
Siangku ingin malam cepat datang Malamku tak ingin segera usai
Hanya satu tanya akankah seberkas cahaya terang itu melesat di langit malamku? Akankah pangeranku datang dengan kuda putihnya? Aku mulai nyaman bergumul dengan jendela kebersamaan kami memakan segala waktu
tapi, kemudian kau tuntun aku kau tuntun aku masuk ke dunia yang apa itu ku tak tahu padang rumput yang kehijauannya tertutup kelam merengkuh kemegahan cakrawala


tempat apa ini? padang rumput? bukan, katamu ini Padang Bintang mengapa kau bawa aku ke tempat ini? Agar kamu tak perlu terus berada di balik jendela dan menanti kapan bintang harapan itu akan melesat dan membawa serta pangeran impianmu Di sini setiap detiknya akan kau temui bintang harapan apa keinginan dan mimpiku akan terwujud? Pasti Jika bintangmu itu tak mewujudkan mimpimu aku akan melakukannya untukmu
Padang bintang itu tetap ada dan akan selalu ada Di…

Cindy Cinta, Mati

Cindy seorang gadis belia berusia 17 tahun, dia bersekolah di salah satu SMU swasta di Surabaya. Dia sangat cantik tapi sayangnya Ia sangat tertutup diantara teman-temannya. Bagi teman-temannya Cindy adalah sosok gadis misterius dan sulit ditebak dasar hatinya. Tidak ada yang tahu apa isi hatinya. Tidak ada yang benar-benar tahu apa isi hatinya selain Cindy sendiri.
Cindy hanya jujur pada satu hal yaitu diarynya. Di dalamnya juga dia menumpahkan seluruh perasaannya. Termasuk rasa cinta yang mendalam kepada seorang laki-laki. Dia adalah Raka. Nama Raka selalu menghiasi lembar demi lembar diarynya. Selama 5 tahun ini hanya Raka yang mengisi hati Cindy. Walaupun apa yang selama ini ia rasakan tak pernah berbalas. Karena Raka tidak pernah tahu bahwa Cindy mencintainya.
Seperti biasa di hari-hari sebelumnya, Cindy selalu menulis diary, dimana saja ia berada, di tempat umum sekalipun. Hari itu saat istirahat sekolah ia tetap tinggal di kelas dan mulai menulis. Tiba-tiba……

Kisah Langit

burung gereja itu berkicau lirih
bergeromdol di ujung dahan angsana
mereka membawa sekelumit kisah yang tak tersampaikan
     langit pada bintangnya
yang terlanjur menghilang di tepi adzan
kisah yang bahkan tak diketahui
     mana pangkal awal dan akhirnya
karena langit tak ingat benar
     kapan ia mulai memeluk bintang dalam hangatnya kasih


di malam yang dingin
kisah yang tak pernah tersampaikan
     ketika bintang yang direngkuhnya menghilang di tepi adzan
dan dia hanya bisa menceritakannya pada burung gereja
kisah yang mungkin tak terceritakan
     bahkan oleh burung gereja