Skip to main content

Cindy Cinta, Mati

Cindy seorang gadis belia berusia 17 tahun, dia bersekolah di salah satu SMU swasta di Surabaya. Dia sangat cantik tapi sayangnya Ia sangat tertutup diantara teman-temannya. Bagi teman-temannya Cindy adalah sosok gadis misterius dan sulit ditebak dasar hatinya. Tidak ada yang tahu apa isi hatinya. Tidak ada yang benar-benar tahu apa isi hatinya selain Cindy sendiri.
Cindy hanya jujur pada satu hal yaitu diarynya. Di dalamnya juga dia menumpahkan seluruh perasaannya. Termasuk rasa cinta yang mendalam kepada seorang laki-laki. Dia adalah Raka. Nama Raka selalu menghiasi lembar demi lembar diarynya. Selama 5 tahun ini hanya Raka yang mengisi hati Cindy. Walaupun apa yang selama ini ia rasakan tak pernah berbalas. Karena Raka tidak pernah tahu bahwa Cindy mencintainya.
Seperti biasa di hari-hari sebelumnya, Cindy selalu menulis diary, dimana saja ia berada, di tempat umum sekalipun. Hari itu saat istirahat sekolah ia tetap tinggal di kelas dan mulai menulis. Tiba-tiba……

“Hai Cindy, lagi ngapain ?” Yuni menyapanya dengan ramah.
“Tidak ada, ada apa Yun ?” Cindy kembali bertanya.
“Ini loh , aku mau ngajak kamu masuk kelompokku untuk penelitian besok di Kawah Ijen. Bagaimana kamu mau?” tawar Yuni
“Ehm…… boleh. Lainnya siapa aja? Tanya Cindy.
“Kita bertujuh selain kamu dan aku ada Raka, Dewi, Herman, Soni dan Dita.” Kata yuni demikian. Kata-kata Yuni membuat jantung Cindy berdegup kencang.
“Baiklah kalau begitu.” Cindy memutuskan. Yuni pun meninggalkan Cindy sendirian.

Pendakian di Kawah Ijen membutuhkan waktu yang cukup lama. Cindy berjalan di belakang. Matanya selalu lekat di raga Raka. Kemanapun langkah kaki Raka selalu tak luput dari pandangannya. Termasuk saat Dewi bergelayut mesra pada tangan Raka. Selama perjalanan itu Cindy benar-benar terluka. Hatinya terkoyak-koyak, terlebih saat ia tahu bahwa Raka dan Dewi telah menjalin hubungan. Hubungan percintaan yng selalu Ia harapkan terjadi padanya.
Sepulang dari Kawah Ijen, keadaan Cindy sangat buruk terlebih lagi ketenangan pikirannya. Banyak pikiran berkecamuk dalam benaknya. Cindy berpikir bahwa ia telah mengenal Raka lebih dari siapapun dan harusnya dia yang menjadi kekasih Raka bukan Dewi atau siapapun.

Cindy berangkat sekolah seperti biasanya. Wajahnya sangat tenang dan tidak seperti beberapa hari yang lalu. Dia tersenyum pada semua orang yang berpapasan dengannya.
Saat pelajaran telah dimulai, ada beberapa petugas polisi yang datang ke kelasnya. Polisi-polisi itu segera menyergap Cindy dan memborgol tangannya. Cindy mengikutinya dengan tenang.
Setelah kepergiannya bersama para polisi, baru jelaslah duduk permasalahannya. Dewi ditemukan tewas, dadanya ditikam berkali-kali dengan senjata tajam dan setelah diusut ternyata pelakunya adalah Cindy. Mendengar kenyataan itu Raka sangat terkejut. Rasa marah itu menggelegak di dalam dadanya. Ia segera berlari keluar dan menunju kantor polisi.
Di sel tahanan Cindy duduk terdiam. Tiba-tiba seseorang datang dengan berteriak-teriak.
“Kamu gila Cindy, apa salah Dewi sampai kamu membunuhnya dengan kejam. Apa salah dia !!!!“ Raka berteriak. Teriakan Raka membuat kepala Cindy terangkat. Kemudian Cindy tertawa nyaring, tawa yang getir.
“Salah dia ? Salah dia …… adalah mencintai kamu dan menjadi pacar kamu. Dia gak pantas untuk kamu. Hanya aku yang mencintai kamu dengan tulus. Hanya aku Raka !! Hanya aku !! Ingat itu!!“ Suara Cindy bergema
“Kamu sakit Cindy …… gila …… persetan dengan cintamu itu !!!!! Kamu iblis … gila… gila…” Teriak Raka dan terus berlari keluar.
Cindy terduduk dan menangis.
“Aku cinta kamu… Raka… sangat…sangat mencintaimu. Tidak ada yang berhak mencintaimu selain aku. Aku mencintaimu………… Raka” Tangisan menyayat terdengar dari sel tahanan Cindy. Tangis yang menyayat. Cindy terus menangis dan menyebut nama Raka dengan bersimpuh di lantai.
Keesokan harinya Cindy ditemukan tergeletak mati di lantai selnya dengan bersimbah darah. Di dinding sel tahanan itu tertulis kata-kata
AKU MENCINTAIMU RAKA
Dengan tinta darah yang mulai mengering.

(batas antara cinta dan benci hanya seberkas sinar abu-abu)

Comments

Popular posts from this blog

Saya Benci Film SURGA YANG TAK DIRINDUKAN

Ya, Saya benci film SURGA YANG TAK DIRINDUKAN (SYTD). Kesimpulan ini semakin kuat setelah saya akhirnya menonton film ini semalam.

Sejak awal film SYTD dipromosikan secara gencar di berbagai media baik online maupun elektronik, saya sudah apatis. Begitu tahu tema yang diusung adalah POLIGAMI, saya semakin melangkah mundur.

Secara pribadi, saya membenci ide tentang POLIGAMI. Bukan karena saya membenci ketentuan Allah SWT yang memperbolehkan suami memiliki istri lebih dari satu. Hanya saja, sekarang ini jika dalih yang digunakan adalah ketentuan Allah SWT dan Sunnah Rasul hanya dijadikan sebagai "alat" saja. Dari semua istri Nabi Muhammad SAW, hanya satu yang berusia muda, yang lainnya berusia lebih tua dan janda. Sementara, pelaku poligami saat ini? Ahh... cukup saya membahas tentang mengapa saya tidak sepakat untuk yang satu ini.

Kembali saya akan bahas tentang film SURGA YANG TAK DIRINDUKAN (SYTD). Dengan alasan yang saya sebut di atas, saya cukup yakin bahwa film ini tida…

Surat untuk Mantan Kekasih

Dear a',
Semoga Allah SWT selalu melimpahkan kebaikan bagimu ^.^
Aku baik-baik saja, ah... seharusnya tak perlu kukatakan kabarku bagaimana, toh kamu tak pernah menanyakannya.
Eits, kamu jangan berpikiran aku tengah menangis saat surat ini ku tulis. Aku sedang tersenyum a'. Senyum yang dulu pernah kau kenal.
Aku bahagia, meskipun aku tak bisa mengelak masih tersisa luka, tapi luka ini tak lagi menyakitiku. Aku tak lagi menangis jika namamu disebut. Aku tak lagi merasa kosong saat melewati sudut-sudut penuh kenangan.
Jika ada satu atau dua bulir air mata membayang, itu hanya karna aku tidak benar-benar dapat membuang kenanganmu.
A'... ah apa masih pantas kusematkan panggilan itu padamu, sementara kita tak lagi menjadi 'kita'
^.^ Takdir tlah memisahkan jalan hidup kita sekarang...
Untuk esok entahlah...
Ah... Sungguhnya aku hanya ingin kau tahu, aku baik-baik saja dan bahagia dengan caraku...
Percayalah aku kan menjaga jejak yg kau tinggal...

n.b. karna …

Menarilah Bersamaku June (Dear June #2)

Menarilah Bersamaku June...
Senja kali ini begitu memerah June  Ia sepertinya memendam amarah entah mengapa Tapi tahukah kau June...  Aku begitu menikmati senja yang kini berselimut merah  Aku menikmati senja yang penuh amarah
Selama ini dia terlalu hening June Memelukku dalam sunyi  Mencumbuku dalam sepi
Aku rindu senja yang memerah seperti kali ini June Ia membuatku sadar bahwa ia ada untukku
Aku rindu berbincang denganmu June Serindu aku menari di ujung senja  Aku rindu lekuk lekuk tubuh yang temaram dihempas cahaya senja 
Masihkah kau ingat June  Saat aku, kamu, dan senja melebur dalam satu tarikan nafas Melebur dalam satu irama gerakan Melebur dalam satu amarah yang sama
Biarkan June... Biarkan senja ini memerah... Agar kita bisa terus menari Berpelukan Berbincang 
Menarilah bersamaku June  Biarkan senja yang memerah karna amarah semakin membara  Melihat lekuk tubuh kita Mendengar tawa riang kita...
Biarkan...