Thursday, September 17, 2009

Aku Kembali

Hem…Akhirnya. Akhir dari sebuah perjalanan panjang jika itu memang pantas disebut perjalanan. Tapi, jika sekarang kuputuskan untuk kembali pulang, bukan pula karena perjalananku telah usai. Tapi aku hanya terlalu lelah untuk berlari dan bersembunyi. Dan aku rasa sekarang waktu yang paling tempat untuk kembali. Kembali pada kehidupan yang sempat terlepas dari tanganku.
Setelah perjalanan yang melelahkan, akhirnya aku keluar juga dari Bandara. Aku kembali pulang diiringi dengan segala macam perasaan yang muncul di hati dan juga pikiran yang berkecamuk di otakku. Rasa rindu, bahagia, sedih, dan penyesalan bercampur menjadi satu. Rindu pada keluarga dan kehidupan yang dulu kutinggalkan. Bahagia karena masa penantian dan pelarianku yang panjang telah berakhir. Sedih dan penyesalan yang mengingat tahun-tahun yang terlewat setelah aku terpaksa harus pergi.
Tak ada iringan penyambutan sekembalinya aku di kota ini. Tak ada pelukan dari kerabat dan teman. Tapi memang itu yang kumau. Kubiarkan taksi biru ini meluncur di jalanan kota ini. Hanya kuberikan secarik kertas padanya tujuanku dan tanpa banyak bertanya ia pun membawaku pergi.
Tak ada yang banyak berubah pada jalanan ini. Tetap macet dan tidak teratur. Cuacanya pun masih didominasi sang surya. Oh ya, tapi ada juga hal yang berubah. Di kota ini semakin banyak saja dijumpai mall, aparteman dan bangunan pencakar langit di sepanjang jalan ini. Apa ini menandakan kotaku semakin makmur dan maju. O, rupanya tidak. Masih dapat kujumpai “manusia-manusia kardus” yang tinggal di sana-sini.
“Bapak tinggal di kota X ini berapa lama?” tanyaku pada supir taksi ini.
“Dari kecil, Mas.” Jawab Pak Supir itu.
“Makin makmur ya Pak, kelihatannya. Banyak Mall di mana-mana” Kataku.
“Ya…gak juga mas. Sing sugih ya sugih…sing mlarat seperti saya, ya tetap saja mlarat.” Jawab Bapak itu.
“Loh kok bisa…Pak” Tanyaku.
“Ya bisa toh Mas, wong sekarang ini hidup makin susah, banyak rumah yang di gusur alasannya tanah pemerintah eee kok lah malah di bangun mall, hotel, apartemen. Wis pokoknya hidup di kota X makin susah Mas.” Keluh Pak supir yang baru aku ketahui bernama Gatot. Lantas kami sama-sama diam. Dia sudah enggan berkeluh kesah lagi atas kehidupan. Dan aku…aku diam karena tak tahu harus berkata apa atas cerita yang baru saja kudengar.
Waktu berjalan begitu cepat. Akhirnya kini sampai juga pada sebuah titik kerinduan. Dua puluh tahun sudah aku pergi meninggalkan kehidupanku. Kehidupan normalku. Tapi, entahlah apa itu normal. Karena seingatku, aku dan teman-teman memilih untuk menjalani kehidupan yang berbeda dengan kehidupan mahasiswa normal lainnya. Jika teman-teman lainnya sibuk dengan diktat kuliah dan mengejar IP tertinggi. Tapi kami mengejar lebih dari itu. Aku mulai aktif di berbagai organisasi yang kebanyakan bergerak untuk memberikan suara kepada orang-orang yang tak dapat bersuara. Implikasi logis dari apa yang kami lakukan adalah kehidupan kami tak lagi normal. Setelah aksi demo terakhir kami, sepertinya aku semakin merasa dikuntit.
Tapi sudahlah itu semua 20 tahun yang lalu. Kini yang ada kerinduan yang sangat dan juga pastinya rasa bersalah. Terlebih lagi selama 20 tahun kepergianku tak sekalipun aku kembali ke tanah air. Ya, memang pernah aku mendapat kabar bahwa orang pelarian macam aku sudah dapat diterima di tanah air. Tapi semua yang telah aku alami membuatku trauma. Tapi sesekali aku menerima kabar melalui email.
Rupanya aku terlalu larut dalam lamunan hingga aku tak sadar Pak Gatot telah sampai membawaku ke kampung halamanku. Masih pantaskah kusebut tempat ini kampung. Anggap saja masih pantas, walaupun mulai banyak rumah-rumah besar dibangun di daerah ini. Jalanan ini masih sama. Perempatan jalan ini masih seluas dahulu. Aku ingat sering bermain bola di sini karena relatif jarang dilewati kendaraan.
Siiiingggg…!
Entah mengapa aku merasa ada yang mengawasi kedatanganku. Rumah di ujung perempatan itu menarik perhatianku. Rumah yang didominasi kayu itu. Aku coba mengembarakan ingatanku, tapi sepertinya semua baru bagiku.
Akhirnya…aku tiba di rumah yang sederhana. Aku bahagia tidak ada yang berubah. Rumahku tetap sederhana dan mempunyai halaman yang luas. Setelah menurunkan semua barangku yang tak banyak. Kubuka pagar dan melangkah di jalan kerikil.
“Assalamuallaikum.” Salamku. Kuulangi lagi hingga seorang Ibu tua keluar.
“Masyaallah, Den Raka. Den Raka pulang. Ibu…Den Raka datang!” Teriak Mbok Tum. Aku hanya tersenyum. Pandanganku berputar menjelajahi ruangan ini. Benar-benar tak ada yang berubah. Ibu memang pandai merawat dan menjaga rumah ini. Kemudian seseorang keluar dari kamar dengan tertatih-tatih. Ibu.
“Ibu…” Aku hanya dapat mengucapkan itu dan segera menghambur padanya.
“Raka…Akhirnya kamu pulang Nak.” Katanya lirih.
Aku bersimpuh pada Ibu dan mencium kakinya seketika Ibu membimbingku bangkit. Ia memelukku dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Kurasakan usia renta sedikit demi sedikit menggerogoti tubuhnya. Beliau tak lagi sekuat dahulu. Tapi Ibu adalah sosok yang tegar dan selalu jadi panutan atas kebijaksanaannya.
Kata-kata tak lagi berarti sekarang. Rasa rindu yang selama ini membuncah dalam dada telah meledak. Dan hanya bahasa seorang Ibu dan anak yang dapat mewakilinya. Mbok Tum segera menghubungi saudaraku yang lain. Sementara Ibu tak melepaskan tubuhku sedetikpun. Aku bersandar di pangkuan Ibu dan meletakkan kepala diatasnya dan memeluk tubuhnya dan Ia terus menciumi kepalaku dan membelai rambutku.


Sorenya satu persatu mereka datang bersama anak-anaknya. Bang Zith, Dik Lia, dan Dik Rayi. Segera kami saling berpelukan melepas rindu. Ada canda. Ada tawa. Ada tangis haru. Kami semua duduk di teras belakang dan saling berbagi cerita tentang kehidupan yang terlewat. Tentang kehidupan mereka selepas kepergianku. Bagaimana Abang dan Adikku menikah tanpa dapat kuhadiri.
“Dik, mengapa kamu tak pernah pulang, kami cemas akan keselamatanmu di sana. Mana tempat tinggalmu pindah-pindah.” Kata Bang Zith.
“Kan, aku sesekali mengirim kabar Bang.” Aku mencari pembenaran.
“Tauk nih Bang Raka, Kasihan Ibu, hampir tiap hari yang dibicarakan cuma Bang Raka. Bang Raka dulu beginilah. Begitulah.” Cerocos Dik Rayi. Aku tertawa mendengarnya.
“Tapi sekarang kan, Raka sudah di sini. Raka janji gak akan pergi jauh lagi dari Ibu.” Kataku sambil memeluk Ibu. Ibu hanya tersenyum.
“Raka, bukan kami saja yang rindu dan khawatir tentang kamu.” Kata Ibu kemudian. Semua lantas terdiam. Suasana yang tadinya riuh tiba-tiba hening.
“Siapa maksud Ibu?” Tanyaku heran.
“Raisha.” Jawab Ibu. Aku kemudian terhenyak.

***
“Kamu harus pergi secepatnya. Intelejen telah mencium keberadaan gerakan kita.” Kata Dimas.
“Raka, segera aku akan urus visa dan kepindahan kamu. Kamu harus pergi sementara.” Kata Pak Bayu.
Suasana semakin panas dan mencakam. Aku terpekur dan tertegun. Aku sama sekali tidak menyangka kepedulianku kepada masyarakat berbuntut panjang.
“Sudahlah Raka, tidak usah banyak berpikir. Teman-teman lainnya juga secepatnya berangkat.” Kata Nyong temanku lainnya.
“Iya…Tapi kemana?” Tanyaku.
“Belanda.” Jawab Pak Bayu.

***
“Apa Abang harus pergi?” Raisha terus menanyakan hal yang sama sambil memegang tanganku.
“Sepertinya begitu Sha. Abang tak punya pilihan lagi.” Jawabku.
“Tapi…baiklah…Aku berjanji akan menunggu Abang.” Kata Raisha. Ia pun menangis. Kusandarkan kepalanya di dadaku dan kupeluk tubuh kecilnya.
***
Segera setelah mendapat kepastian kabar dari Bang Zith tentang Raisha, esoknya aku segera menuju rumah Raisha. Rumah kayu di ujung perempatan jalan yang kemarin aku lewati. Ternyata rumah itu adalah milik Raisha. Kini aku ada di depan rumah itu. Kubuka perlahan pagar kayu itu. Desir angin aneh menerpa tubuhku. Kuketuk pintu itu dan tak berapa lama pintu dibuka oleh seorang Ibu.
“Raka!” Serunya. Terlihat mata tante Dien, Ibu Raisha, berkaca-kaca. “Akhirnya, kamu datang nak. Raisha telah lama menunggumu.” Katanya dan mempersilahkanku masuk.
“Bagaimana, Raisha tante?” Tanyaku.
“Di atas. Dia menunggu kamu. Hanya untuk melihat kamu saja ia berusaha bertahan hingga kini.” Kata Tante Dien.
“Saya sudah dengar tentang Raisha, Tante.” Kataku kemudian.
“Kanker otak…Dengan penyakit itu harusnya ia tak bisa bertahan hingga kini. Hingga pihak medis pun dibuat bingung dengan keadaan Raisha. Sepertinya ada yang menahan kepergiannya.” Jelas Tante Dien.
“Boleh saya ke atas Tante?” Tanyaku.
“Oh…tentu saja. Memang sejak kemarin sepertinya dia menunggu kamu. Dari pagi pandangannya tak lepas dari jendela.” Jawab Tante Dien.
“Maksud, Tante?” Aku bingung.
“Sebelum penyakit Raisha parah, ia meminta kami untuk pindah ke rumah ini. Dan ia meminta kamar yang di atas dan menghadap jalanan itu. Katanya agar suatu saat jika kamu datang, ia bisa langsung tahu. Dia menunggu kamu Raka.” Kata Tante Dien.
“Setiap hari pandangannya tak pernah lepas dari jendela. Ia selalu berharap seuatu hari kamu datang dan ia akan menyambutmu.” Tambah Tante Dien.
Raisha selalu berada di sisi jendela untuk mengawasi jalanan. Itu mengapa kemarin saat aku melewati jalan itu aku merasakan perasaan yang aneh. Rupanya sejak kemarin ia mengawasi kedatanganku. Raishaku, begitu besarnya pengorbanan yang kamu lakukan.
Aku dan Tante Dien naik ke lantai atas. Bagaimana rupanya gadis kecilku itu. Aku tak bisa membayangkan betapa ringkihnya ia sekarang. Dahulu saja, tubuh kecilnya begitu rapuh tapi jiwa dan semangatnya begitu kuat. Bagaimana dengan sekarang?
Kami sampai di kamar Raisha. Tante Dien menyilahkanku masuk. Kubuka pintu itu. Seketika aku terpana ketika melihat sosok tergeletak di tempat tidur itu. Dia Raishaku. Ia tergeletak tak berdaya. Dan apa itu, ada selang yang masuk ke hidungnya.
“Sha…Raka datang.” Hanya kata itu saja yang terlontar dari Tante Dien. Dan ia pun pergi sambil menangis.
“Raisha, abang datang.” Aku berkata dan duduk di sampingnya.
Mata kami saling bertautan. Sepertinya ada banyak kata yang ingin ia lontarkan tapi tak satupun yang terdengar. Matanya telah berbicara banyak dan nampak telah berkaca-kaca.
“Maafkan Abang ya…Sha. Abang baru bisa datang. Kamu pasti lama menunggu.” Kataku. Kugenggam tangan kakunya. Ada semacam kekuatan maha dahsyat yang selama ini ia keluarkan untuk bertahan hingga kini.
“Abang, akan selalu ada di samping kamu Sha.” Kataku. Perlahan ia menarik ujung bibirnya dan memberikan senyuman yang termanis.
Di sampingnya, kuceritakan semua yang telah kujalani. Kehidupanku dalam masa pelarian. Ia terus mendengarkan dan matanya tak pernah lepas dariku. Seakan ia tak melewatkan sedetikpun untuk berkedip.
Tak lama, Dokter Raisha pun datang. Dokter Bram memeriksa Raisha.
“Halo, cantik. Dokter periksa dulu ya…harusnya kamu bisa sehat karena sepertinya pangeranmu sudah datang.” Kata dokter itu sambil memandangku. Setelah memeriksa Raisha, dokter itu berbicara dengan Tante Dien di luar. Sebelumnya dokter Bram membisikkan sesuatu padaku, ‘Tolong jaga Raisha, tujuannya bertahan hingga kini adalah bertemu kamu.’
Malam ini aku menginap di rumah Raisha. Aku terus duduk di sampingnya. Kulihat berkeliling, ternyata masih ada gitarku yang dulu aku pinjamkan padanya. Aku mengambil dan mencoba memainkannya.
“Sha, Abang mainin lagu kesukaan kamu ya.” Kataku. Dan mata itu mulai berbinar. Aku memainkan lagu More Than Words milik Extreme. Senyumnya terus tersungging meskipun samar.
Tapi sejurus kemudian, belum selesai lagu ini aku mainkan. Raisha nampak tersengal-sengal kesulitan bernapas, padahal selang oksigen masih terpasang di hidungnya. Segera aku memanggil Tante Dien. Tante Dien keluar dengan segera dan menuju kamar Raisha.
“Sayang kamu kenapa?” Tante Dien membenarkan posisi selang oksigen. Tapi tetap saja tidak membantu.
“Sha…sabar ya Nak, Mama panggil dokter Bram. Raka jaga Raisha sebentar.” Kata Tante Dien.
Aku berusaha tenang dan duduk di sampingnya.
“Sha, aku tahu kamu telah lama berjuang untuk tetap hidup. Hanya untuk melihatku. Sekarang apa yang kamu inginkan telah tercapai, kan. Aku tahu selama ini kamu menahan sakit dan derita. Kalau sekarang kamu telah lelah dan ingin pergi Abang ikhlas Sha. Abang gak ingin kamu menderita seperti ini Sha.” Kataku. Tante Dien rupanya sudah ada di belakangku. Ia menyentuh pundakku.
“Mama, juga ikhlas Sha. Pergilah, nak. Bebaskan ragamu dari rasa sakit. Temukan kedamaian.” Kata Tante Dien sambil terisak. Tante Dien lantas memeluk Raisha. Tangankupun meraih tangannya. Kugenggam.
Kata-kata kami disambut senyuman samar Raisha. Perlahan nafasnya tak lagi tersengal. Dadanya tak lagi naik turun. Degup jantungnya tak lagi berirama. Mata indahnya telah terpejam. Dan Tante Dien menangis dalam pelukanku.
***
Aku tak pernah tahu apa rencana Tuhan atas ini semua. Seperti aku tak pernah tahu mengapa aku harus lari dari kehidupan normalku. Mengapa baru sekarang kuputuskan untuk pulang. Aku tak tahu pula siapa yang harus disalahkan.
Dan kini setelah aku kembali, giliran aku yang kehilangan. Kepulanganku dan kepergian Raisha adalah salah satu rencana Tuhan. Kutemukan secarik kertas dengan tulisan Raisha entah kapan ia menulisnya.
Aku tertawa dalam tangis
Aku menangis dalam diam
Aku diam dalam tawa
Semua begitu semu
Aku ada dalam tidak keberadaanku
Aku jadi aneh
Bahkan tak bisa mengerti diriku sendiri
Tapi baiklah aku mulai diajarkan untuk berkompromi
Berkompromi dalam segala hal
Berkompromi dalam ketidak terimaanku
Termasuk itu…
Berkompromi dengan takdir

***

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...