Wednesday, May 26, 2010

way back into love-- lagu tentangku, tentang jejakku

I've been living with a shadow overhead,
I've been sleeping with a cloud above my bed,
I've been lonely for so long,
Trapped in the past,
I just can't seem to move on!

I've been hiding all my hopes and dreams away,
Just in case I ever need them again someday,
I've been setting aside time,
To clear a little space in the corners of my mind!

[Chorus]
All I want to do is find a way back into love.
I can't make it true without a way back into love.
Oooooh.

I've been watching but the stars refuse to shine,
I've been searching but I just don't see the signs,
I know that it's out there,
There's got to be something for my soul somewhere!

I've been looking for someone to she'd some light,
Not somebody just to get me through the night,
I could use some direction,
And I'm open to your suggestions.

[Chorus]
All I want to do is find a way back into love.
I can't make it through without a way back into love.
And if I open my heart again,
I guess I'm hoping you'll be there for me in the end!
Oooooooh, Ooooooh, Ooooooh.

There are moments when I don't know if it's real
Or if anybody feels the way I feel
I need inspiration
Not just another negotiation

[Chorus]
All I want to do is find a way back into love,
I can't make it through without a way back into love,
And if I open my heart to you,
I'm hoping you'll show me what to do,
And if you help me to start again,
You know that I'll be there for you in the end!

Lagu ini yang akan terdengar saat blog ini dibuka. Lagu ini pula yang akan menemani kamu saat mulai membaca catatan-catatanku. Bukan tanpa sebab. Karena lagu ini yang paling mampu mewakili kisahku kini. Lagu ini tentangku, tentang jejakku. Sekedar ingin berbagi mungkin saja lagu ini juga mewakili kisahmu.
^_^

Tuesday, May 25, 2010

Apakah Catatan Saya Berguna??

Awalnya aku nulis di blog tuh cuma ingin mencurahkan semua yang aku pikirkan, rasakan, dan alami. Aku membebaskan jariku untuk menari dan melahirkan kata-kata. Tanpa beban apapun. Namun belakangan aku mulai tergelitik untuk bertanya-tanya, apakah ada seseorang di sana yang membaca catatan-catatanku ini? Bahkan lebih dari itu, aku bertanya apakah catatan ini memberikan arti pada kehidupan orang lain?
Memang blog ini hanya berisi catatan pribadi yang mampu aku jejakkan dalam hidup ini. Bukan blog motivasi yang penuh inspirasi. Aku murni hanya ingin berbagi kisah dan jejak-jejak dalam hidupku. Tapi, diam-diam aku juga berharap ada seseorang atau bahkan banyak orang di luar sana yang membaca catatanku dan menyukainya. Bahkan mungkin mampu memberikan nilai lebih dalam hidup mereka.
Saat satu persatu komentar muncul di blogku, sungguh ini memberikan semangatku untuk terus menulis. Meskipun blog ini masih sangat sederhana, tapi aku mulai percaya jauh di luar sana ada orang-orang yang membaca catatan-catatanku. Aku hanya ingin kata-kata yang terlahir dariku mampu terjejak dalam kehidupan mereka.
Ini memang hanya catatan Perempuan Langit, catatanKu, catatan Neng Nunung... Tapi ini tak hanya sekedar catatan-catatan melainkan jejak kehidupanku.

Kisah tentang Keabadian Cinta

Catatan ini lanjutan dari sekelumit kisah tentang Ibu Ainun yang telah dibahas di catatan sebelumnya. Begitu indahnya kisah tentang sebuah kesetiaan dan keabadian cinta beliau membuat saya tak kuasa membendung jemari saya untuk menulis lagi tentang kisah beliau. Secara pribadi saya selalu terkesima pada kisah-kisah serupa dengan ini, kisah yang menyuguhkan keindahan, keabadian, dan kesetiaan hubungan cinta. Cinta yang hanya akan terputus oleh terpisahnya ruh dari tubuh.
Jika banyak kisah itu terkesan tidak nyata dan hanya serupa dongeng pengantar tidur karena berada jauh dari kehidupan saya dan orang kebanyakan. Namun berbeda dengan kisah Ibunda Ainun Habibie, kisah beliau begitu menggetarkan saya, karena beliau ada di sekitar kita. Tidak seperti Layla Majnun, Romeo Juliet, atau Sampek Engtay. Kisah cinta Ibu Ainun dan Bapak Habibie adalah sebuah kisah nyata. Yang dapat kita rasakan keADAannya.
Saya tak menemukan padanan kata yang lebih agung bagi keabadian cinta yang terjalin antara Ibu Ainun dan suamianya Bapak Habibie. Beliau berdua saling ada satu sama lain di saat-saat bahagia ataupun masa-masa tersulit. Ketika Bapak terpilih menjadi Presiden RI ke 3, Ibu ada di sampingnya. Ketika banyak yang menuding Bapak dengan tuduhan-tuduhan menjadi seteru dari presiden Soeharto kala itu, Ibu setia mendukung. Saat Bapak dianggap gagal mengawal reformasi dan merupakan orang yang menyebabkan Timor Timur lepas dari Indonesia, Ibu senantiasa berada di samping Bapak untuk menguatkannya. Semua pengabdian Ibu pun bersambut hal yang serupa. Bapak selalu mendampingi Ibu bahkan di masa-masa beliau sakit.
Kisah yang beberapa hari ini menyentak saya adalah saat banyak televisi yang memberitakan betapa Bapak begitu mencintai Ibu dan tidak ingin berpisah dengannya meski sejenak. Menurut bapak J.E. Habibie, bahkan Bapak Habibie sempat berujar bahwa beliau hanya akan keluar rumah sakit bersama Ibu. Dan benar, Bapak keluar rumah sakit bersama Ibu, saat Ibu sudah berpulang ke hadirat Allah SWT.
Kisah cinta Ibu Ainun dan Bapak Habibie adalah kisah nyata. Kekuatan cintalah yang membuat keduanya selalu bersama saat duka maupun suka. Sebentuk kisah tentang cinta dan kasih, pengabdian, kesetiaan, saling menghargai, dan saling mendukung antara sepasang anak Adam. Kisah ini membuat saya kembali percaya bahwa keabadian cinta itu ada. Hanya saja harus diperjuangkan dan dipertahankan. Semua didapat melalui proses yang bukan sekejap.
Saya mengibaratkan keabadian cinta selayak tautan tangan yang enggan terlepas. Selalu saling melengkapi hingga takdir memisahkan mereka. Selamat jalan Ibunda. Akan selalu ada orang-orang yang menebarkan doa dan kebaikan atas nama Ibunda. Doa yang terapal sebagai bentuk cinta yang tulus dari saya, mereka, kami. Kisah itu akan selalu abadi dipeluk oleh waktu

Monday, May 24, 2010

Kesetiaan itu Langka tapi Ada

Kurang lebih satu bulan yang lalu saya menyaksikan ulasan sebuah film di Metro TV. Film itu Hachiko: A Dog's Story. Awalnya saya menyaksikannya sambil lalu, tapi kemudian ada satu komentar dari si presenter yang membuat saya duduk dengan tenang di depan televisi hingga ulasan film itu usai. Kurang lebih komentarnya bahwa film ini bukan hanya film tentang seekor anjing dengan tuannya melainkan kisah tentang kesetiaan abadi. Ulasan itu membuat saya terus bertanya-tanya kapan film itu akan diputar di Indonesia, lebih khusus lagi diputar di Surabaya atau Yogyakarta.
Kemudian, saya dapat kabar kalau Hachiko sudah diputar, tapi sayangnya saya tidak menemukan waktu yang pas untuk melihatnya. Baru hari ini itupun setelah meluang-luangkan waktu.
Hachiko: A Dog's Story, dibintangi oleh aktor yang memiliki ketampanan "abadi" (sampai tua gitu tetep aja keren) Richard Gere yang berperan sebagai Prof. Parker Wilson serta Joan Allen sebagai Cate Wilson, istri sang profesor. Kisah berawal ketika Ronnie berkisah tentang pahlawannya. Seekor anjing milik kakeknya.
Seekor anjing dikirim dalam sebuah perjalanan oleh seorang biksu di Jepang. Dalam perjalanannya, Hachiko akhirnya "lepas" di sebuah stasiun di kota Bedridge. Kemudian, si anjing yang tersesat bertemu dengan Parker. Prof. Parker bermaksud untuk menitipkan si anjing pada Carl, petugas stasiun, tapi Carl menolaknya dan menyarankan agar Parker membawa pulang anjing itu. Akhirnya Parker membawa pulang anjing itu. Meskipun di awal istrinya menolak kehadiran anjing itu, namun kemudian ia menerimanya karena melihat Parker dan anaknya Andy begitu bahagia dengan kehadiran anjing itu. Parker membawa si anjing kepada temannya Ken. Ken pun menjelaskan tentang anjing yang berjenis Akita dan ia pun membaca kalung yang melingkari leher anjing itu. Di liontin itu ada huruf kanji yang berarti Hachi atau delapan. Ia menjelaskan bahwa Hachi adalah lambang keberuntungan. Dan anjing jenis Akita adalah anjing yang begitu setia dengan majikannya. Biasanya dimiliki oleh keluarga kerajaan dan menjadi teman untuk berburu.  Sejak saat itu, anjing itu dipanggil dengan nama Hachi. Hachi mewarnai kehidupan keluarga Parker dan telah menjadi bagian dari keluarga, 
Hachi, adalah anjing yang spesial, ia begitu setia pada Parker. Saat pagi ia mengantarkan Parker ke stasiun kemudian ia pulang dan kembali ke stasiun tepat pukul 5 kurang 5 untuk menjemput Parker. Begitu seterusnya, Hachi selalu melakukan "ritual" yang sama setiap harinya. Apa yang dilakukan Hachi menarik perhatian banyak orang di sekitar stasiun, Jasjeet, si penjual hot dog, Mary Ann penjual buku, Carl petugas stasiun, dan pasangan suami istri penjual daging. Hachi setia menunggu kedatangan Parker di depan pintu stasiun dari hari ke hari. Hingga Parker kemudian meninggal di kampusnya dan tidak pernah keluar dari pintu stasiun untuk pulang. Tapi Hachi terus menunggunya hingga malam, hingga Andy, anak Parker, menjemput Hachi pulang.
Setelah Parker meninggal dunia, Hachi tinggal bersama Andy. Namun, Hachi sepertinya ikut merasakan kehilangan, ia tidak banyak beraktifitas. Hingga suatu hari Hachi kabur dari rumah dan pergi ke stasiun di kota Bedridge. Sejak itu ia terus menunggu "kedatangan" Parker, tuannya, di depan pintu stasiun. Di tempat yang sama setiap harinya. Hingga musim berganti dan Hachi pun menjadi pembicaraan setiap orang di kota itu hingga menarik seorang wartawan untuk meliputnya. Selepas itu kisah tentang Hachi, anjing yang setia menunggu kedatangan tuannya yang sudah meninggal menjadi legenda di kita itu. Hachi telah menjadi bagian dari hidup semua orang di Bedridge. Hachi terus menunggu di stasiun hingga 10 tahun kemudian. Cate yang sedang berziarah di makam Parker, terkejut karena melihat Hachi masih setia menunggu. Hachi terus setia menunggu hingga dia meninggal di depan stasiun itu.
Film ini terinspirasi dari kisah yang sama tentang Hachiko, anjing yang setia pada tuannya Prof. Hidesaburo Ueno, profesor departemen agricultur di Universitas Tokyo, Jepang. Hachi di dunia nyata meninggal di tahun 1935. Hachi menjadi legenda di kota Shibuya, Jepang. Bahkan di depan stasiun Shibuya terdapat monumen Hachiko.
Hachiko mengajarkan saya akan banyak hal. Terutama adalah tentang kesetiaan. Kesetiaan yang hanya patah oleh usia. Kesetiaan tanpa pamrih. Kesetiaan yang hanya dapat terjadi, jika tidak hanya rasa cinta kasih yang mendasari sebuah hubungan melainkan juga bentuk penghormatan, menghargai, pengabdian, dan mendasarkan semua pada kepercayaan.
Berharap sebuah kesetiaan ataupun bersetia pada satu diri mungkin merupakan barang langka sekarang ini. Banyak sekali alasan yang dijadikan pembenaran saat sebuah perselingkuhan atau ketidaksetiaan terjadi. Namun bukan berarti kesetiaan abadi itu tidak ada. Beberapa kisah bertebar di sekitar kita. Salah satunya adalah kisah seorang wanita yang memegang kesetiaannya hingga ruh terpisah dari raganya. Ainun Habibie, wanita berusia 72 tahun, istri dari presiden ketiga Indonesia BJ Habibie. Kisah Ibu Ainun menjadi istimewa bagi saya, karena beliau dengan setianya mendampingi sang suami dalam keadaan apapun dan dimanapun Pak Habibie berada. Di Jerman maupun Indonesia. Kesetiaan dan kebaikan Ibu Ainun yang selalu ada di sisi suaminya membuat beliau pun mendapat perlakuan yang sama dari suami dan anak-anaknya. Pak Habibie tak sesaat pun beranjak dari isi Ibu Ainun. Hingga beliau menghembuskan nafas terakhirnya di Jerman.
Dua kisah ini benar-benar membuat saya tersadarkan. Kesetiaan tidak dapat diraih dalam waktu sekejap. Kesetiaan adalah sebuah proses panjang sebuah hubungan. Apakah itu hubungan antar manusia pun manusia dengan makhluk lain.
Mungkin saya bukan Hachiko yang begitu setia dengan tuannya atau Ibu Ainun yang memegang teguh kesetiaannya hingga ruh itu terlepas. Saya hanya perempuan yang cukup tahu apa itu mencintai, pengorbanan, dan kesetiaan. Saya perempuan yang tahu menempatkan kesetiaan saya sampai sejauh apa. Saya perempuan yang tahu kepada siapa saya harus setia dan menunggu kehadirannya.
Kesetiaan itu langka tapi ada.

A True Story of Faith, Devotion and Undying Love 

Wednesday, May 19, 2010

Pengingat Karya

Catatan ini hanya sekedar untuk mengingatkan tulisanku yang mana aja sih yang dimuat di media. Biar nanti nggak ketuker dan kekirim lagi ke media yang lain. Baru dikit ternyata, tapi lumayanlah.

1. Teriakan Kreatifitas Melly, resensi novel dimuat di Surabaya Post 3 April 2005
2. Miss Hape, Selalu Hilang, cerpen dimuat di Jawa Pos 2 Juni 2008
3. Padang Bintang, cerpen dimuat di Radar Surabaya 13 Juli 2008
4. Tersenyumlah Bidadariku yang Terluka, cerpen dimuat di Jawa Pos 29 Desember 2008
5. Kisah tentang Rintik Hujan dan Anak Payung, cerpen dimuat di Radar Surabaya 24 Mei 2009
6. Perjanjian dengan Imah, cerpen dimuat di Jawa Pos 14 September 2009
7. Surat dari Lokalisasi, cerpen dimuat di Jawa Pos 14 Desember 2009
8. Dalam Hati Saja, cerpen dimuat di Jawa Pos 10 Mei 2010

Ayo nulis lagi dan kirim ke media lainnya masa cuma jago kandang doang. Kapan ya cerpen aku dimuat di media nasional. Pasti bisa. Target tahun ini paling nggak kudu ada dua cerpen aku yang nyempol (kalau nyempil kan kelihatan dikit, kalo nyempol kelihatan banyak) di majalah-majalah dan media lain skala nasional.

Tuesday, May 18, 2010

Sang Pembaca Masa Depan itu Pergi

HEBOH !!! Satu kata yang mungkin bisa mewakili pemberitaan hari ini. Bukan karena teroris yang tertangkap, peristiwa kerusuhan di Thailand, kedatangan Obama, atau gonjang ganjing politik. Kehebohan itu karena berita telah berpulangnya Mama Laurent. Wanita berusia senja yang dikenal karena kemahirannya membaca  masa depan. Bukan bermaksud berlebihan, karena memang kehebohan yang terjadi hari ini. Berita meninggalnya Mama Laurent mampu menghipnotis masyarakat, bahkan menyingkirkan berita heboh lainnya.

Dari pagi hari televisi yang menayangkan infotainment penuh dengan berita duka ini. Tidak hanya infotainment, TV One yang mengusung jargon News and Sport TV pun menayangkan ulasan berita ini dan menghadirkan beberapa narasumber di acara Apa Kabar Indonesia Pagi. Bahkan, Metro TV pun turut meramaikan pemberitaan ini dengan menghadirkan ulasan dan review tayangan Mama Laurent yang sempat jadi tamu di acara Kick Andy.

Kehadiran Mama Laurent memang lengkap dengan segala kontroversinya. Banyak yang kontra tapi tetap ada yang mendukung apa yang ia lakukan. Mama Laurent memang telah menjadi fenomena. Dia yang selalu menjadi rujukan di akhir tahun untuk menanyakan perihal yang akan terjadi di tahun depannya. Memang sih banyak ramalannya yang benar, itu pun baru disadari saat sudah terjadi, tapi ada juga ramalannya yang meleset.

Dan, ketika sang pembaca masa depan itu telah pergi. Masihkah akan ada orang yang akan meramalkan kapan kiamat itu tiba, artis mana yang akan meninggal, cerai, nikah dll, peristiwa bencana alam di Indonesia, peristiwa politik, dll... Semua memang harusnya terkubur dalam misteri. Karena itulah indahnya kehidupan. Jika semua masa depan dan kejadian yang akan datang terungkap, kehidupan akan menjadi tidak berarti.

Semoga tenang di sana Mama... Karena esok takkan ada lagi yang mengganggumu dengan pertanyaan-pertanyaan penuh selidik perihal masa depan...^_^

Membaca Kamu

Membaca tentang cinta adalah membaca kamu
Membaca perihal benci adalah membaca kamu
Membaca luka adalah membaca kamu

Kamu membuatku menulis berlembar-lembar kisah
Kisah yang dulu telah kita jejakkan
dan
Kamu mampu pula membuatku mengakhiri kisah kita
dengan kisah yang membuatku enggan membuka lembar-lembar itu

Membaca kamu adalah perjalanan tiada henti
karena
Membaca kamu adalah membaca kisah kita
Membaca kenangan kita

Sungguh aku telah enggan membacamu, sayang
Membacamu hanya menorehkan air mata yang menggarami lukaku
Membacamu, sayang...
Membuatku terjerat kisah yang tak berkesudahan

Maka, maafkanlah aku sayang
Maafkanlah aku yang enggan membacamu lagi
Aku lelah
dan ku tahu kau pun pasti lelah

Membacamu, Membaca kita, Membaca kenangan
dan semua itu telah usai

Sunday, May 16, 2010

Kisah-kisah Perempuan oleh Perempuan

Gairah penulisan karya sastra kembali bangkit pada di Indonesia dekade ini. Terlebih karya sastra yang berbau perempuan dan feminis. Entah yang memang mempunyai muatan cerita mengenai dunia perempuan atau karya sastra yang dilahirkan dari “rahim” perempuan. Dari negeri sendiri terdapat beberapa nama misalnya Djenar Maesa Ayu dengan karya terbarunya Nayla, Herlinatiens dengan beberapa karya terdahulunya Garis Tepi Seorang Lesbian dan Dejavu, Ayu Utami dengan Saman dan Larung juga beberapa sastrawan lainnya yang semakin hari semakin banyak yang suka membongkar-bongkar dunia perempuan dalam karya-karyanya. 
Rupanya fenomena ini dapat dibidik dengan baik oleh Penerbit Jalasutra, yang beberapa terbitannya adalah karya-karya terjemahan, untuk ikut serta menghadirkan dunia perempuan dari sisi dunia yang berbeda, pada buku terbitannya kali ini. Dengan mengusung tematis tentang cerpen perempuan, antologi ini berisikan cerita-cerita mengenai kehidupan perempuan yang ditulis oleh 11 pengarang terkemuka dunia yang pernah mendapat penghargaan di dunia kepenulisan atau Nobel Sastra. Antara lain terdapat nama-nama seperti Virginia Woolf asal Inggris, Uyen Leowald asal Vietnam, Angeles Mastretta asal Meksiko, serta beberapa nama lainnya.
Para pengarang perempuan ini menyuguhkan cerita yang cukup apik mengenai kehidupan perempuan sesuai dengan kultur budaya mereka masing-masing. Hanya saja, pada cerita-cerita yang mereka usung kurang menunjukkan adanya “girl power”. Hanya ada beberapa cerpen yang menyiratkan adanya ketangguhan seorang perempuan yaitu pada cerpen Seorang Perempuan yang Jatuh Cinta Pada Laut karya Angeles Mastretta. Perempuan pada cerpen ini digambarkan sebagai seorang perempuan yang teguh pada pendiriannya dan rela meninggalkan keluarganya demi terwujudnya keinginannya yaitu melihat laut.
Cerita lainnya pada antologi ini lebih banyak memperlihatkan kehidupan perempuan, dengan beragam karakter yang dimiliki oleh masing-masing tokoh, yang “gak neko-neko”. Mereka seakan-akan hanya tunduk saja pada apa yang telah digariskan padanya dan menerimanya tanpa perlawanan yang berarti. Hal ini terlihat pada beberapa cerpen seperti Putri dari Polis karya Irena Adamidou, yang memperlihatkan ketundukkan seorang anak pada ibunya yang mengakibatkan masa depannya hancur. Atau pada cerpen lainnya yaitu Sprei Linen karya Dacia Maraini, cerpen ini menceritakan tentang seorang istri yang “tenang-tenang” saja ketika suaminya pulang dengan membawa perempuan lain. Ia juga tak bereaksi apa-apa ketika ia diperlakukan seperti pembantu di rumahnya sendiri. Namun, ia bereaksi keras ketika istri baru suaminya merusak sprei linennya. Serta beberapa cerita lainnya yang memiliki kekhasan pada setiap karakter tokoh perempuan yang dimiliki.
Meskipun pada antologi ini, kurang menunjukkan adanya kesetaraan hak antara perempuan dan laki-laki. Namun, kehadiran antologi yang “cukup ringan” ini memberikan sentuhan baru pada dunia sastra perempuan di Indonesia. Dengan berbagai warna dan karakter yang dibawa oleh masing-masing pengarang, sedikit banyak mungkin akan dapat memberikan inspirasi bagi sastrawan Indonesia untuk menampilkan karya yang lebih beragam.
Antologi ini cukup ringan untuk dibaca. Bagi perempuan Indonesia baiknya buku ini dijadikan sebagai pandangan baru untuk tidak lagi hanya pasrah pada apa yang telah digariskan untuknya. Berusaha dalam hidup untuk mendapatkan apa kita kehendaki itu sah-sah saja. Pada dasarnya perempuan mempunyai kesamaan hak dan kewajiban dalam hidup ini setara dengan laki-laki. 
Be a strong woman, why not?

Sebuah Fantasi atas Kepedihan Realita

:: Ulasan Potongan Cerita di Kartu Pos karya Agus Noor

Di lembar ini saya mencoba sedikit memberikan komentar atau ulasan atas  kumpulan cerpen terbaru dari Agus Noor—Potongan Cerita di Kartu Pos—yang jujur saja karya-karya Agus Noor terdahulu pun belum saya baca. Dengan begitu pengalaman pembacaan saya atas karya-karya Agus Noor sangat kurang. Saya hanya mengandalkan pengalaman pembacaan saya atas karya sastra lain atau pembacaan saya atas hidup. 

Satu hal yang pasti saya perhatikan dari sebuah buku adalah sampulnya. Saya tertarik dengan sampul atau cover buku ini. Konsep desain sampul itu sangat menarik. Sederhana namun penuh makna. Itu yang saya tangkap. Mengambil konsep sesuai dengan judulnya, berhubungan dengan kartu pos. Desain sampulnya pun mengadopsi konsep tersebut.

Satu daya tarik yang kuat adalah gambar lain di sampul tersebut. Yaitu gambar perempuan “peri” dengan busana hitam yang menengadah menuju cahaya. Saya lantas bertambah penasaran untuk membaca. Karena menurut asumsi saya, desain sampul pasti terkait dengan isi di dalamnya. Peri berbusana hitam entah mengapa saya identikkan dengan sesuatu yang buruk. Entah apakah, cerpen-cerpen di dalamnya berisikan tragedi atau apa.

Sayapun beranjak dari hanya sekedar melihat desain sampul kemudian mulai membaca cerpen-cerpen di dalamnya. Saya mengalami beberapa kali keterkejutan ketika membaca kumpulan cerpen ini. Betapa tidak, pengarang menawarkan cerita-cerita yang dengan khayalan tingkat tinggi  atau fantasi pengarang yang luar biasa di setiap cerpen. Pun ketika Agus Noor mencoba memotret realitas sosial kehidupan masyarakat yang berkembang dewasa ini.

Saat bercerita tentang penderitaan rakyat karena semua kebutuhan pokoknya tak dapat terpenuhi. Kelaparan dan bau kematian ada di mana-mana. Ketika mereka kaum-kaum yang terlupakan itu sudah tak tahu kemana mereka harus mengadu dan meminta pertolongan. Mereka pun mulai terbiasa menyimpan sendiri penderitaan dan tangis mereka. Dan tanpa mereka sadari bulir-bulir airmata mereka mengkristal (Potongan-Potongan Cerita di Kartu Pos hal 112).

Cerita yang menurut saya mencengangkan. Agus Noor berani menyulap dongeng tentang butiran air mata kristal dan disandngkan dengan dua cerita sekaligus yang menurut saya hasil pembacaannya pada dunia nyata. Bagaimana tidak, gosip perselingkuhan Ahmad Dhani dan Mulan terhadao Maiya  juga turut ditempelkan belum lagi cerita tragis masyarakat marginal dengan segala kekurangannya.

Atau kita bisa lihat kegilaan dan keliaran fantasi pengarang pada cerpen yang berjudul Komposisi untuk Sebuah Ilusi. Begitu liarnya Agus Noor menggambarkan dua sosok yang berlainan 180° yang sama-sama mengalami stagnansi dalam hidup, mereka adalah penjual obat dan sebuah boneka maneken. Digambarkan pula bagaimana mereka berdua sama-sama mengkhayalkan melakukan persetubuhan.

Kadang ia juga berkhayal, -betapa suatu malam- ketika hypermarket ini tutup dan semua pertokoan menjadi lengang- laki-laki itu muncul begitu saja dari balik gelap, dan dengan tergesa dan bernafsu mencopoti pakaiannya, menngelus pahanya yang licin berkilat, meremas payudaranya yang kencang, hingga ia menggelinjang...(hal 4).

Sepertinya maneken itu ingin menyerahkan seluruh tubuhnya. Agar ia gagahi. Agar ia setubuhi. Ini tubuhku penuh berahi, nikmati. Maneken itu mendengus minta dijamah. Minta disesah. Bahkan maneken itu seperti menginginkan tubuhnya ia cacah-cacah! Ia merasakan kelaminnya mengeras. Dan ia pun mulai meremas...
(hal 8).

Kedua  kutipan di atas menunjukkan bagaimana hebat dan liarnya fantasi pengarang untuk membentuk sebuah cerita yang GILA. Paling tidak pengarang ingin menyampaikan ya...kalau tidak dapat memperoleh kebahagiaan di dunia nyata, apa salahnya ciptakan kebahagiaan di dunia khayal. Hanya saja ending yang tragis rupanya lebih dipilih pengarang. Mungkin sekali, ia ingin menunjukkan bahwa bermain-main dengan dunia khayal bukanlah solusi untuk menyelesaikan masalah kehidupan.

Namun saya melihat keGANJILan di kumpulan cerpen ini. Tentu saja saya tidak menyukai sesuatu yang ganjil, jadi jelas ini MENGGANGGU saya. Seorang pengarang akan sangat dihargai akan orisinalitasnya, baik itu dalam hal ide cerita ataupun gaya penulisan. Ya, walaupun hal itu tak sepenuhnya dapat dilakukan, karena akan selalu ada keterkaitan antara karya sastra satu dengan lainnya.

Tetapi ketika membaca cerpen ini saya sangat terkejut (lagi), bagaimana tidak saya menemukan bagian-bagian yang telah saya baca pada karya sastra lain. Pada cerpen Sirkus (hal 16), banyak saya menemukan karakter hasil comotan dari karya lain. Mulai dari hobbit hingga aragog dan sapu nimbus yang telah dahulu ada pada karya Tolkien dan JK. Rowling.

Pengarang mungkin berkeinginan untuk membuat cerita fantasi layaknya Tolkien dan Rowling hanya saja mengapa ia tidak membuat karakter sendiri. Mengapa harus mencomot karakter yang sudah “jadi”? Ketika saya membaca cerpen Sirkus dan menemukan karakter-karakter tersebut spontan saya berucap “halah...njiplak” Untungnya karakter-karakter itu bukanlah pusat dari cerpen ini. Melainkan pada “tubuh-tubuh melayang” yang tubuh dan kepalanya kosong karena riwayat kehidupan mereka yang serba kekurangan. Mereka diambil dari sebuah bangsa yang hilang dari peradaban. Jadi walaupun sebentar saya telah dikecewakan karena penyomotan karakter itu sedikit terkikis dengan muatan cerita secara keseluruhan yang coba diangkat oleh pengarang.

Di lembar lain saya lagi-lagi dibuat terkejut. Cerpen Puzzle Kematian Girindra mengingatkan saya pernah ada sebuah karya yang menggunakan teknik penceritaan yang demikian. Meloncat-loncat dari bagian satu ke bagian lain, halaman satu ke halaman lain dan pembaca dapat menentukan sendiri alur mana yang ia kehendaki plus jalan cerita yang berbeda juga di tiap pilihannya. Yup, dan ingatan saya tertumbuk pada GOOSEBUMPS karya RL STINE, kebetulan dulu saya penikmat Goosebumps jadi saya hafal betul bagaimana alur yang menjadi ciri di setiap serinya.

Tapi ternyata bagaimanapun karya yang orisinal biasanya tetap lebih baik. Bukan bermaksud untuk membandingkan tapi bagaimana lagi saya harus membandingkan. Goosebumps dengan formula yang dibuat RL. Stine, lebih terstruktur dan jelas, tidak membingungkan. Di bagian bawah halaman terdapat petunjuk yang dapat kita pilih. Dan akan ditemukan berbagai jalan cerita dan berbagai akhir penceritaan yang sama-sama menegangkan dan jelas. Tapi untuk cerpen karya Agus Noor, jujur saja saya kebingungan membacanya. Niatnya untuk mengadopsi gaya penceritaan RL. Stine, namun ia terhambat dengan platform cerita yang hanya cerpen. Sehinggga ia tidak bisa bermain-main ending, hanya bermain-main dengan alur yang bukannya menyenangkan dan menegangkan tapi pembaca dibuat kesulitaan dan kebingungan.

Di luar itu semua , ya...patut dihargai usaha pengarang untuk mencoba menghadirkan cerita-cerita fantasi yang tidak hanya mengandalkan keliaran fantasi. Tapi cerita-cerita fantasi itu digunakan untuk memotret realita kehidupan masyarakat yang kian hari semakin semrawut. Harga-harga yang semakin melambung, pengangguran, anak-anak yang kurang gizi, flu burung, hingga masa-masa maraknya demo mahasiswa. Semua peristiwa-peristiwa aktual dengan sempalan kritik-kritik terhadap pemerintah itu menjadi tidak lagi tragis untuk dibaca karena diwarnai dengan kisah-kisah fantasi yang mengkamuflasekan semua itu.

Ya, memang karya Agus Noor ini memang layak dapat acungan jempol, satu saja tapi. Karena betapapun gaya penceritaan dan cerita yang diusung memang menarik dan layak baca, tapi saya agak kurang respek dengan penyomotan karakter dan juga teknik penceritaan yang ada pada kumpulan cerpen ini.

But, over all that’s not bad. So, read this book and watch out your imagination.       
         

Saturday, May 15, 2010

senjaku

kembali memeluk senja
senja yang memanduku datang ke pantai ini
pantai yang pernah kita tinggalkan dalam diam
perempuan ini masih sama
pantai ini tak berubah
senja pun masih setia dengan semburatnya

senja dengan sihirnya kembali menelusupkan rasa hangat
kehangatan rindu yang senantiasa membiusku
membiusku tuk kembali mengingatmu
kamu, langit yang memberikanku kasih Langit,
mengenangmu tidak dengan airmata
mengenangmu tidak dengan luka
tapi senja yang hadirkan CINTA

jejak

ada jejak yang tertingggal
pada setiap langkah

jejak yang menguarkan kerinduan
jejak yang isyaratkan luka
jejak yang menghadirkan kenangan

langkahku tak hanya berpijak pada pasir tepi pantai
tapi juga bebatuan di tebing
jejak itu tak dapat lagi kuhapus semua
layaknya jejak pasir yang seketika hilang disapu ombak
sebagian, jejakku terpatri begitu dalam

hah, jejak tetap akan menjadi jejak
membuatku terjaga tuk melihat kembali
sejauh mana langkahku

jejak...

Saturday, May 08, 2010

Sesederhana Kamu

Kini semua berjalan dengan sederhana
Begitu sederhana
Layaknya setiap hela nafas yang sealir dalam darahku

Bahagiaku sederhana
Mimpiku sederhana
Asaku sederhana

Kesederhanaan itu bernama tawamu, senyummu, bahagiamu...

Aku akan Diam

seribu telunjuk pun mengarah padaku dan mengatakan
aku pembohong
aku tak jujur
aku memfitnah
aku akan diam

sekuat apapun paksaan menghujamku tuk
jujur
memberitahukan kebenaran
memberikan bukti
aku akan diam

sehina
serendah
sekejam
semurah
apapun kalian menilaiku
aku akan diam

aku akan diam
karena aku tak perlu berbicara apapun
melakukan apapun
untuk membuktikan apapun
kepadamu
kepada kalian
kepada dunia

karena hidup ini milikku
karena ini adalah tubuhku
karena dia adalah anakku
karena kalian bukan Tuhan
dan aku bukan malaikat

maka aku akan diam

Menjejakkan Kata

::Kumpulan jejak-jejak kata di Facebook::

membisikkan jejak-jejak kata pada angin yang malam ini memaksaku lepas dari ritual senja tadi... jejak-jejak kata yang berharap kan tersampaikan pada dia di tempat hembusan angin ini bermuara...

berada di nadir kerinduan yang begitu menyiksa, senja kali ini lagi-lagi memilih airmata sebagai ritual penyambutannya... wajah malaikat itu terus membayang dalam langkahku, bukan maksud tuk menepiskannya jauh dari hidupku, tapi ia begitu suci tuk berkubang dalam lumpur hidupku

senja kali ini langit begitu memerah mencabik-cabik kesadaranku tuk tak lagi larut dalam ritual senja yang menyesakkan dengan air mata

aku hanya berusaha menyusun perca-perca kisah yang sempat terserak dan kembali merajut dan menyatukannya menjadi lembaran-lembaran jejak kehidupan

ayolah... aku bukan monumen yang tak punya rasa kecewa dan dendam, juga bukan toko grosir yang punya stok maaf yang melimpah, aku hanya perempuan yang mencoba berdamai dengan skenario hidup ini...

senja tadi aku berusaha mencari seberkas kenangan indah di kota ini, tapi sayangnya yang ketemukan adalah jejak-jejak luka yang hanya membawa airmata... ini yang membuatku jengah berada di kota ini...

jemariku kehilangan alur tariannya... kata-kata terlahir tak selancar malam-malam sebelumnya... apa harus kupaksakan mereka menari malam ini ataukah kubiarkan saja malam memeluk mereka dalam kedamaian

alasan dari semua skenario kehidupan dan perjalanan ini adalah karena aku mencintaimu, tak ada setitik pun keraguan dan penyesalan karenanya

perjalananku akan selalu menjadi koma, menunggu untuk terus dijejaki oleh kisah-kisah, akan selalu menjadi koma, koma, karena aku takkan pernah berhenti, mungkin sedikit memberi jeda, tapi bukan titik, hanya koma

Rindu, amat sangat rindu, ingin selalu berada di sisimu... setiap detiknya begitu menyiksa... satu-satunya cara menepis kerinduan ini hanya dengan menarikan jemari, menjejakkan kata, menyibukkan diri dengan merampungkan semua yang tertunda... Bukan bermaksud tuk menepiskanmu dari langkahku, hanya menunggu waktu yang t...epat, agar ku bisa memilikimu selamanya, tanpa segan, malu, takut, dan airmata


Cinta Melemahkanku???

Benar aku mencintainya
Sangat mencintainya
Tapi, kini aku harus mengenyahkan rasa cinta itu
Karena cinta telah membuatku lemah...

Benarkah itu?

Cinta membuatku rela menderita
Cinta pula lah yang membuatku rela berkorban apapun termasuk mimpiku
Cinta yang membuatku terjebak dalam dilema berkepanjangan...
Apa memang semua itu karena cinta?

Bukankah cinta seharusnya menguatkan
Bukankah cinta seharusnya menyembuhkan
Bukankah cinta seharusnya menghadirkan bahagia...

Jika ini bukan cinta, lantas apa?
Apa yang membuatku lemah?

Aku sungguh mencintainya...
Sungguh-sungguh cinta
Tapi semua menjadi tidak benar jika cinta ini membunuhku
Membunuhku perlahan

Aku dan Film -Yang Terampas dan Yang Putus

Yang Terampas dan Yang Putus, sebuah film pendek yang digagas oleh kawan-kawan, adik-adik, dan sahabat-sahabat saya di Sastra Indonesia Unair yang menyematkan nama Ksatria Pena sebagai identitas mereka. Mereka mempersembahkan film ini pada acara penghormatan dan mengenang kembali Chairil Anwar di bulan April mendatang. Saya tentu saja tidak akan membahas apa dan bagaimana isi dan jalan cerita film ini karena saya sedikit pun belum menyaksikannya. Saya sedikit banyak mengikuti perjalanan mereka dalam pembuatan film ini, itupun secara tidak langsung. Mengingat keberadaan saya yang tidak intens di kampus. Tapi di atas semua itu, saya sangat yakin bahwa film ini merupakan tonggak dimulainya masa-masa pembuktian bahwa Sastra Indonesia Unair memiliki generasi-generasi kreatif. Tidak hanya di dunia literasi tapi juga industri kreatif lainnya.

Lepas dari semua itu, saya, secara pribadi merasa perlu berkaca dan merenung kembali ketika membaca judul |Yang Terampas dan Yang Putus|...

Ya... Aku merasa menjadi sosok itu. Yang Terampas dan Yang Putus. Banyak hal yang telah terampas dalam hidupku. Banyak ikatan yang kuputuskan untuk langkah yang kemudian ku ambil. Menyesalkah aku? Sepertinya tidak. Paling tidak hingga detik ini aku masih tegak berdiri. Jika kemudiannya aku nampak menghilang dari semua rutinitas kehidupanku sebelumnya. Itu semata-mata merupakan konsekuensi dari keputusan yang telah ku ambil. Banyak hal yang terampas dariku. Mungkin juga bahagia dan senyum. Tapi tidak dengan HARAPAN.

Chairil, Aku, dan mungkin masih banyak orang-orang di luar sana pasti juga pernah merasakan menjadi seseorang Yang Terampas dan Yang Putus. Apapun dan bagaimanapun mereka dan kami. Ada satu hal yang pasti tak akan mampu dirampas oleh siapapun dari diri kami adalah HARAPAN dan MIMPI. Karena dengan dua hal itulah langkah-langkah kecil kami dapat kami tapaki. Meninggalkan segenap lara yang tersisa. Untuk setitik asa dan bahagia.



|in the middle of the night @ my little room|

Perempuanmu yang Kucinta

dia sinari langkahku layaknya mentari di kala pagi
dia damaikan jiwaku serupa senja di penghujung hari
dialah malaikat terindah yang tercipta untukku

ingin ku merengkuhnya tuk jadi milikku
takkan lepaskannya meski sejenak

tahukah kau betapa ku mencintanya
tahukah kau betapa ku memujanya

jika saja kau bukan sahabatku
jika saja dia bukan yang kau cinta

ku relakan malaikatku terbang bersamamu
cintamu kan bahagiakannya untukku
rengkuhanmu kan lindunginya atas namaku

malaikatku adalah perempuanmu
perempuanmu yang kucinta
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...