Thursday, September 17, 2009

KETIKA HOMOSEKSUALITAS BERBICARA DALAM RAHASIA BULAN

Dunia sastra Indonesia terus saja dibanjiri karya-karya yang “tidak biasa”. Sejak kemunculan Ayu Utami dengan dwilogi Saman dan Larung yang mengumbar seksualitas secara apa adanya. Makin banyak saja penulis-penulis yang berani mengungkapkan hal yang selama ini selalu dianggap tabu, yaitu seksualitas. Seiring dengan hal itu, selain banyknya muncul karya yang mengeksploitasi tubuh dan seks, juga mulai terdapat beberapa karya yang mengusung wacana homoseksualitas.
Mungkin memang bukan menjadi hal yang baru jika terdapat wacana homoseksualitas dalam fiksi Indonesia. Karena pada sekitar taun 1970-an, tepatnya 1974, muncul sebuah karya yang juga mengusung wacana homoseksualitas. Yatu pada karya S.N. Ratmana yang berupa cerpen dengan judul Sang Profesor. Setelahnya terdapat karya-karya penulis sekelas Seno Gumira Ajidarma, Gus Tf Sakai, Agus Noor dll.
Lantas kemudan muncul sebuah antologi cerpen di tengah-tengah masyarakat dengan mengusng wacana homosesualitas secara total yang dihasilkan baik itu dari penulis yang telah mengaku bahwa dirinya gay/lesbi dengan yang “normal”. Antologi cerpen dengan tajuk Rahasia Bulan, secara apa adanya membeberkan kisah-kisah yang ada di sekitaran kaum homoseks. Salahkah, mereka yang selama ini “dibuang” oleh masyarakat berusaha kembali dalam karya? Selain itu apa dan bagaimana homoseksualitas itu sebenarnya?
Homoseksual biasanya diartikan sebagai kelainan seksual berupa disorientasi pasangan seksualnya. Disebut gay bila penderitanya laki-laki dan lesbi untuk penderita perempuan. Sementara pihak lain berpendapat hal tersebut adalah sesuatu yang alami atau wajar karena manusia sebenarnya mempunyai potensi untuk menjadi heteroseksual maupun homoseksual. Jadi, di sini homoseksual hanyalah salah satu dari preferensi atau orientasi seksual.
Lantas kemudian, apa sebenarnya penyebab seseorang disorientas seksualnya? Terdapat berbagai versi tantang penyebab seseorang kemudian mendefinisikn diri sebaga kaum homoseks. Menurut dr. Wimpie Pangkahila, dalam teori penyebab homoseksual, terdapat empat kemungkinan penyebab homoseksual. Antara lain, pertama Pertama, faktor biologis, yakni ada kelainan di otak atau genetik. Kedua, faktor psikodinamik, yaitu adanya gangguan perkembangan psikoseksual pada masa anak-anak. Ketiga, faktor sosiokultural, yakni adat-istiadat yang memberlakukan hubungan homoseks dengan alasan tertentu yang tidak benar. Keempat, faktor lingkungan, yaitu keadaan lingkungan yang memungkinkan dan mendorong pasangan sesama jenis menjadi erat.
Pada faktor yang pertama adanya ketidakseimbangan jumlah hormon pada diri seseorang sejak lahir. Jumlah hormon wanita cenderung lebih besar daripada laki-laki. Atau sebaliknya. Hal yang demikian ini akan berpengaruh terhadap sifat dan perilaku individu tersebut. Jika dia laki-laki yang memilik hormon wanita berlebih maka jati diri kewanitaan biasanya lebih kuat, sehingga mereka cenderung berperilaku feminin dan selalu tertarik terhadap aktivitas yang dilakukan wanita. Ataupun sebaliknya. Individu yang menjadi gay karena faktor tersebut biasanya tidak bisa kembali normal. Tapi, sifat gay/lesbi tersebut bisa berkurang frekuensinya. Tentunya, diperlukan usaha yang keras. Misalnya, tidak bergaul lagi dengan kaum homoseks, punya keyakinan yang kuat, dan harus tahan segala godaan.
Pada faktor yang kedua, berupa gangguan perkembangan psikoseksual pada masa kecil atau sebagai reaksi psikoseksual untuk mengatasi masalah dan kehidupan heteroseksual. Pada kasus ini, kemungkinan yang terjadi adalah pada masa kecilnya individu tersebut mengalami pelecehan seksual baik fisik maupun psikis. Sehingga menimbulkan trauma. Trauma inilah yang pada nantinya memicu perilaku homoseksual..
Pada faktor ketiga, ada beberapa adat dan budaya yang membenarkan adanya perilaku homoseks. Dalam kasus ini, para pelaku homoseks biasanya telah dapat diterima oleh masyarakat. Bahkan pada beberapa adat, pelaku homoseks merupakan dukun adat. Sedangkan pada faktor keempat, Kedua, faktor lingkungan, yaitu komunitasnya lebih sering bertemu dengan laki-laki dan amat jarang bertemu dengan wanita. Selain itu, ada juga dari mereka yang terlibat dalam kehidupan gay semata-mata karena gaya hidup dan materi. Biasanya mereka berawal dari coba-coba untuk berhubungan dengan sesama jenis dengan imbalan uang. Jenis gay ini bisa hilang bila mereka telah menemukan pasangan hidup wanita. Atau, mereka keluar akibat terkena penyakit kelamin. Dan juga, gay tersebut dapat kembali sebagai lelaki sepenuhnya bila punya komitmen kuat untuk menjauhi kehidupan gay.
Penjelasan singkat di atas kiranya dapat sedikit memberikan ruang untuk kita berpikir positif. Bahwa, kaum homoseksual it ada di sekitar kita. Dengan pola kehidupan dan perilaku yang mungkin berbeda dengan kaum heteroseksual. Sejenis ataupun lawan jenis, harusnya hal tersebut ditempatkan sebagai sebuah pilihan yang berhak digunakan oleh setiap individu. Tinggal bagaimana individu tersebut mempertanggungjawabkan pilihannya.
Terkait dalam hal itu, pada antologi cepen Rahasia Bulan, banyak ditampilkan kisah seputar kehidupan kaum homoseks. Ada individu lesbian yang dia “terperangkap” dalam kehidupan perkawinan normal. Atau dilematis seseorang yang pada ahirnya ia “sadar” bahwa ia seorang homo. Atau kisah tentang seorang yang terjebak dalam kehidupan “gay” yang mulai mencari pola ukuran dalam hubungan para gay. Ada yang berdasarkan size matter, power matter, dan love matter. Semua kisah-kisah itu terbuka dan seakan-akan sap untuk dibaca oleh siapapun.
Mungkin antologi ini dapat dijadikan sebuah alat “berbicara” bagi kaum homoseksual yang selama ini cenderung “dihilangkan” dari peta kehidupan. Mulai gencarnya LSM-LSM yang mencoba untuk memperjuangkan hak-hak kaum homoseks. Ataupun diskusi-diskusi terbuka yang membahas tentang homoseksual. Sedikit banyak telah menunjukkan bahwa sebagian masyarakat Indonesia telah mulai terbuka tentang keberadaan homoseks. Walaupun harus diakui masih banyak yang bersifat konservatif terhadapnya.
Sastra masih merupakan media yang efektif untuk upaya resistensi terhadap stigma yang telah berkembang dalam masyarakat untuk berbagai persoalan. Termasuk halnya mengenai homoseksualitas. Karena masih beredarnya anggapan bahwa sastra adalah sesuatu yang bebas nilai. Di luar hal itu, jika nantiya terdapat penilaian terhadap karya sastra tersebut hanyalah sebagai upaya apresiasi, resepsi, ataupun penelitian.
Perjuangan dan resistensi kaum homoseks masih berlangsung. Salah satu goal mereka adalah bangsa ini menerima secara wajar keberadaan mereka dan meminimalisir adanya diskriminasi. Hal ini mulai dilakukan dengan mulai terbukanya mereka dalam menunjukkan identitas mereka dan juga turut mengambil peranan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Sekarang banyak kita temui para gay/ lesbi yang berprofesi sebagai dosen, pengusaha, dokter, pengacara, atau profesi di dunia hiburan.
Peran masyarakat lainnya yang “mengaku” sebagai heteroseksual sebenarnya sangat mudah. Menempatkan secara proporsional keberadaan mereka sebagai individu yang sama dengan individu lainnya. Hal ini diperlukan pemikiran yang terbuka, moderat, dan positif. Dukungan dari masyarakat lainnya ini diperlukan karena perlawanan mereka pada dasarnya adalah perlawanan terhadap pola pikir masyarakat dan budaya umum yang berkembang. Kaum homoseks mulai terbuka dengan keberadaan mereka. Jika masyarakat umum juga mulai terbuka dengan keberadaan mereka. Tinggal nantinya bagaimana memberdayakan potensi setiap individu bangsa Indonesia untuk memajukan bangsa ini tanpa membedakan ras, etnis, gender, status,dll. Dan sastra, dapat dijadikan salah satu sarana untuk melakukan resistensi dan perjuangan tersebut.

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...