Skip to main content

Apa yang Hendak Kukatakan tentang Kemerdekaan ??

Bulan Agustus di setiap tahunnya selalu dinanti secara gegap gempita oleh setiap anak negeri ini. Semua bermula karena pada 17 Agustus, 65 tahun silam Indonesia dideklarasikan oleh The Founding Father sebagai sebuah negeri yang merdeka, lepas dari segala bentuk penjajahan. Proklamasi kemerdekaan saat itu disambut dengan penuh suka cita oleh semua anak bangsa, dari desa sampai kota. Proklamasi saat itu tidak membuat Indonesia seketika terbebas dari penjajahan dan aral yang merintangi perjalanan Indonesia sebagai sebuah bangsa yang merdeka. Masih aja pertempuran di sana sini. Masih ada darah yang menetes dari putra-putra terbaik bangsa. Semua itu karena Proklamasi Kemerdekaan tak lantas menghentikan perjuangan.
Bagaimana dengan sekarang?
65 tahun sudah aku, kamu, kita, dan bangsa ini melangkah sebagai sebuah bangsa yang merdeka. Benarkah kita telah merdeka?
Jika dengan asumsi Proklmasi Kemerdekaan tidak lantas menghentikan perjuangan kita sebagai sebuah bangsa juga sebagai seorang individu anak bangsa.
Maka jawabannya, KITA BELUM MERDEKA...
Jika menurut kita, kemerdekaan hanyalah sebuah teks/naskah yang dibacakan pada saat proklamasi. Jika menurut kita, kemerdekaan adalah sebuah "alat" agar kita terbebas dari segala macam bentuk penjajahan. Jika menurut kita, kemerdekaan adalah alasan untuk kita berhenti berjuang. Mungkin apa yang kita maknai tentang kemerdekaan selama ini telah salah.
Lihatlah sekitar kita...
Apa menurut kalian kita telah merdeka?
Di saat masih ada saudara kita yang harus berjuang tertatih hanya untuk makan sekali sehari.
Di saat masih ada saudara kita yang hidup di bawah jembatan, bantaran sungai, atau bahkan tidur di emperan toko.
Di saat masih ada saudara kita yang terlunta-lunta nasibnya karena tidak memiliki pekerjaan.
Di saat masing-masing kita masih tersenyum sinis saat melihat mereka yang papa, miskin, dan kotor, atau bahkan kita malah melengos memilih untuk tidak melihat mereka.
Di saat masih ada pejabat-pejabat kita yang masih bisa tertawa, membuang-buang uang negara, dan meminta fasilitas ini itu padahal masih banyak rakyatnya, kita, yang tak tahu besok masih bisa makan atau tidak.
Di saat pemerintah rela menggusur rumah-rumah rakyat untuk membangun mall.
Di saat tangisan saudara-saudara kita tak lagi menggugah hati kita.
Di saat kita masih bisa tutup mata dan tidak peduli dengan keadaan di sekitar kita.

Jika melihat semua itu, masihkah dengan bangga aku, kamu, kalian, kita, dan bangsa ini memekik
KITA TELAH MERDEKA     
Maaf...
Tapi aku pikir, kita belum merdeka kawan! Kita belum apa-apa! Perjuangan kita belum selesai!
Aku belum merasakan kemerdekaan di negeriku ini. Jika dengan semua fasilitas yang sekarang kita miliki ini, kita masih diam saja. Tidak melakukan apa-apa. Tidak memberikan arti bagi kehidupan, arti bagi bangsa ini. Apakah kita tidak merasa malu kawan?
SEKALI BERARTI SETELAH ITU MATI
Tugas kita sebagai anak bangsa ini belum selesai. Kita belum merdeka. Perjuangkan yang layak diperjuangkan. Lakukan yang harus dilakukan. Kita semua bisa melakukannya, aku, kamu, kalian, kita, setiap anak bangsa ini. Kita bisa berjuang. Kita bisa berarti. Lakukan apa yang bisa kita lakukan untuk negeri ini. Dengan cara kita masing-masing.
Kemerdekaan adalah kebebasan memilih cara berbakti pada Negeri

K ita belum merdeka kawan. Maka bergeraklah. Berjuanglah dengan cara kalian. Dengan caraku pula. Kita mencintai Negeri ini bukan? Apakah kita tidak malu mewariskan sebuah negeri yang porak poranda kepada anak cucu kita?
Kemerdekaan adalah sebuah proses panjang kehidupan. Tidak akan berhenti pada satu titik kenyamanan. Karena ketika kita terjebak dalam kenyamanan semu, itu berarti kita belum merdeka.

Surabaya, 23 Agustus 2010
*) Sebuah cermin bagi aku, kamu, kalian, kita, dan semua anak bangsa...

Comments

Popular posts from this blog

Saya Benci Film SURGA YANG TAK DIRINDUKAN

Ya, Saya benci film SURGA YANG TAK DIRINDUKAN (SYTD). Kesimpulan ini semakin kuat setelah saya akhirnya menonton film ini semalam.

Sejak awal film SYTD dipromosikan secara gencar di berbagai media baik online maupun elektronik, saya sudah apatis. Begitu tahu tema yang diusung adalah POLIGAMI, saya semakin melangkah mundur.

Secara pribadi, saya membenci ide tentang POLIGAMI. Bukan karena saya membenci ketentuan Allah SWT yang memperbolehkan suami memiliki istri lebih dari satu. Hanya saja, sekarang ini jika dalih yang digunakan adalah ketentuan Allah SWT dan Sunnah Rasul hanya dijadikan sebagai "alat" saja. Dari semua istri Nabi Muhammad SAW, hanya satu yang berusia muda, yang lainnya berusia lebih tua dan janda. Sementara, pelaku poligami saat ini? Ahh... cukup saya membahas tentang mengapa saya tidak sepakat untuk yang satu ini.

Kembali saya akan bahas tentang film SURGA YANG TAK DIRINDUKAN (SYTD). Dengan alasan yang saya sebut di atas, saya cukup yakin bahwa film ini tida…

Surat untuk Mantan Kekasih

Dear a',
Semoga Allah SWT selalu melimpahkan kebaikan bagimu ^.^
Aku baik-baik saja, ah... seharusnya tak perlu kukatakan kabarku bagaimana, toh kamu tak pernah menanyakannya.
Eits, kamu jangan berpikiran aku tengah menangis saat surat ini ku tulis. Aku sedang tersenyum a'. Senyum yang dulu pernah kau kenal.
Aku bahagia, meskipun aku tak bisa mengelak masih tersisa luka, tapi luka ini tak lagi menyakitiku. Aku tak lagi menangis jika namamu disebut. Aku tak lagi merasa kosong saat melewati sudut-sudut penuh kenangan.
Jika ada satu atau dua bulir air mata membayang, itu hanya karna aku tidak benar-benar dapat membuang kenanganmu.
A'... ah apa masih pantas kusematkan panggilan itu padamu, sementara kita tak lagi menjadi 'kita'
^.^ Takdir tlah memisahkan jalan hidup kita sekarang...
Untuk esok entahlah...
Ah... Sungguhnya aku hanya ingin kau tahu, aku baik-baik saja dan bahagia dengan caraku...
Percayalah aku kan menjaga jejak yg kau tinggal...

n.b. karna …

Menarilah Bersamaku June (Dear June #2)

Menarilah Bersamaku June...
Senja kali ini begitu memerah June  Ia sepertinya memendam amarah entah mengapa Tapi tahukah kau June...  Aku begitu menikmati senja yang kini berselimut merah  Aku menikmati senja yang penuh amarah
Selama ini dia terlalu hening June Memelukku dalam sunyi  Mencumbuku dalam sepi
Aku rindu senja yang memerah seperti kali ini June Ia membuatku sadar bahwa ia ada untukku
Aku rindu berbincang denganmu June Serindu aku menari di ujung senja  Aku rindu lekuk lekuk tubuh yang temaram dihempas cahaya senja 
Masihkah kau ingat June  Saat aku, kamu, dan senja melebur dalam satu tarikan nafas Melebur dalam satu irama gerakan Melebur dalam satu amarah yang sama
Biarkan June... Biarkan senja ini memerah... Agar kita bisa terus menari Berpelukan Berbincang 
Menarilah bersamaku June  Biarkan senja yang memerah karna amarah semakin membara  Melihat lekuk tubuh kita Mendengar tawa riang kita...
Biarkan...