Skip to main content

Aku Mulai Takut Pada Diriku

Entah mengapa aku mulai takut pada diriku sendiri. Ketakutan yang dulu pernah hilang, namun entah mengapa beberapa waktu terakhir muncul kembali. Dan semakin membuatku resah. Entah ini sebuah gift atau ternyata sebuah kutukan. Sejak dulu sekali, aku menyadari bahwa apa yang kupikirkan akan terjadi, benar terjadi. Meskipun tak selalu tepat benar. Tapi itu terjadi. Tapi yang membuatku takut bukan itu, tapi pada sebuah rangkaian peristiwa yang membuatku berkesimpulan, ketika aku benar-benar membenci seseorang, entah mengapa akan terjadi hal buruk padanya. Atau paling tidak tak ada kebahagiaan yang menjamah hidupnya.
Jujur saja, sejak pertama kali aku tahu dan menyadari apa yang terjadi padaku. Aku sangat takut. Aku pernah dan mungkin masih sangat membenci seseorang. Dia yang telah memporak-porandakan masa kecilku yang bahagia. Sejauh yang aku tahu, sekarang dia adalah manusia tanpa jiwa. Ia kehilangan ingatannya, gila, entah karena sebab apa. Itu pun informasi yang aku dapat tanpa sengaja. Jika kalian bertanya apakah aku masih membencinya saat aku mendengar berita tentangnya, jawabannya ya. Mengingat semua yang telah ia lakukan padaku dan keluargaku, pastinya aku tak semudah itu memaafkan dia.
Aku menyadari apa yang terjadi padaku ini bertahun-tahun silam, setelah ada beberapa "korban" yang entah mengapa kebencianku pada mereka memberikan andil pada apa yang mereka alami. Lalu pada saat itu, aku berusaha semampu yang aku bisa untuk tak mengisyaratkan rasa benci pada siapapun. Sesekali rasa tidak suka pada seseorang itu muncul, tapi segera aku tepis kebencian itu jauh-jauh. Mencoba selalu mencari sisi baik dari setiap orang. Berusaha dekat dengan mereka yang aku benci meskipun awalnya tak nyaman. Aku berusaha untuk tidak memelihara kebencian itu pada diriku.
Sejak aku mulai menyadari apa yang aku alami. Aku tidak pernah benar-benar membenci seseorang dengan sangat. Jika ada 1-2 orang yang aku tak suka secara personal, aku tak benar-benar membencinya dan aku mulai mampu berdamai dengan rasa tidak suka itu.
Tapi setahun yang lalu, malapetaka itu muncul. Aku merasakan kebencian yang memuncak. Aku teramat sangat membenci beberapa nama. Aku bersumpah sekuat tenaga berusaha untuk tidak membenci mereka. Tapi luka yang mereka torehkan sudah bernanah dan membusuk. Aku sama sekali tidak dapat menepis kebencian itu. Hingga kini. Pada satu nama, kebencian itu lebur juga dalam cinta. Membuatku memohon bahkan pada diriku sendiri untuk tidak membencinya. Karena aku sangat mencintainya, hingga kini. Benci dan cinta itu luruh saling menyatu pada setiap helaan nafasku. Dan terus membuatku bimbang. Pada nama yang lain, yang tersisa hanyalah kebencian yang teramat dalam. Kebencian yang telah aku lemparkan ke dasar palung hatiku. Hingga detik ini pun tak sedikitpun niatku hapuskan benci itu.
pada setiap diri kita terdapat dua sisi, malaikat dan iblis, kuasa kita lah yang mampu memunculkan keduanya
Mungkin bagi kalian yang membaca catatan ini bertanya-tanya, iblis macam apa yang tersimpan pada diriku ini. Sungguh aku tak tahu bagaimana harus menjawabnya.Aku mungkin bukan malaikat, tapi aku pun tak hendak menjadi iblis. Aku hanya mengikuti naluri manusiaku yang akan terluka jika disakiti. Dan merasakan kebencian pada mereka yang menyakiti.
Aku tak tahu pasti apa yang terjadi pada dua nama terakhir yang aku benci itu. Yang aku tahu kehidupan mereka tak berjalan sebagaimana mestinya. Aku tak ingin jumawa dengan mengatakan itu semua akibat kebencianku pada mereka. Tapi hingga detik saat aku menuliskan semua ini, aku masih teramat sangat membenci mereka. Aku tak tahu apa yang mampu menghilangkan kebencian ini. Mungkin waktu yang mungkin akan mengobati semua luka ini.
Jika pada detik ini aku masih terus merasakan kebencian yang sangat pada mereka dan di saat yang sama tak satu kebahagiaanpun yang mereka dapat hanya malapetaka, apakah aku sudah sepatutnya mulai takut pada diriku sendiri??? 
Ini kutukan, aku sadar itu. Tapi haruskah aku tak merasakan kebencian pada mereka yang jelas-jelas mencabik-cabik kebahagiaanku? Aku benci pada diriku yang seperti ini.
Sungguh aku takut...
Tapi aku pun tak mungkin memaksa diriku untuk menghapus kebencian itu. Jika sampai saat ini pun luka itu masih menganga. Jujur, sisi iblisku merasa puas jika mereka yang telah membuatku menderita, terluka, dan terhina mengalami malapetaka atau mungkin ketidak bahagiaan dalam hidup mereka. Tapi, aku bukan iblis... ingin sekali aku membunuh iblis dalam diriku. Tapi hingga kini, aku masih kalah. Aku tak bisa membunuh kebencianku. Dan sungguh aku tak dapat membayangkan apa yang mungkin akan terjadi pada mereka...

Hanya sebuah monolog tentang diri sendiri 

Comments

Popular posts from this blog

Saya Benci Film SURGA YANG TAK DIRINDUKAN

Ya, Saya benci film SURGA YANG TAK DIRINDUKAN (SYTD). Kesimpulan ini semakin kuat setelah saya akhirnya menonton film ini semalam.

Sejak awal film SYTD dipromosikan secara gencar di berbagai media baik online maupun elektronik, saya sudah apatis. Begitu tahu tema yang diusung adalah POLIGAMI, saya semakin melangkah mundur.

Secara pribadi, saya membenci ide tentang POLIGAMI. Bukan karena saya membenci ketentuan Allah SWT yang memperbolehkan suami memiliki istri lebih dari satu. Hanya saja, sekarang ini jika dalih yang digunakan adalah ketentuan Allah SWT dan Sunnah Rasul hanya dijadikan sebagai "alat" saja. Dari semua istri Nabi Muhammad SAW, hanya satu yang berusia muda, yang lainnya berusia lebih tua dan janda. Sementara, pelaku poligami saat ini? Ahh... cukup saya membahas tentang mengapa saya tidak sepakat untuk yang satu ini.

Kembali saya akan bahas tentang film SURGA YANG TAK DIRINDUKAN (SYTD). Dengan alasan yang saya sebut di atas, saya cukup yakin bahwa film ini tida…

Surat untuk Mantan Kekasih

Dear a',
Semoga Allah SWT selalu melimpahkan kebaikan bagimu ^.^
Aku baik-baik saja, ah... seharusnya tak perlu kukatakan kabarku bagaimana, toh kamu tak pernah menanyakannya.
Eits, kamu jangan berpikiran aku tengah menangis saat surat ini ku tulis. Aku sedang tersenyum a'. Senyum yang dulu pernah kau kenal.
Aku bahagia, meskipun aku tak bisa mengelak masih tersisa luka, tapi luka ini tak lagi menyakitiku. Aku tak lagi menangis jika namamu disebut. Aku tak lagi merasa kosong saat melewati sudut-sudut penuh kenangan.
Jika ada satu atau dua bulir air mata membayang, itu hanya karna aku tidak benar-benar dapat membuang kenanganmu.
A'... ah apa masih pantas kusematkan panggilan itu padamu, sementara kita tak lagi menjadi 'kita'
^.^ Takdir tlah memisahkan jalan hidup kita sekarang...
Untuk esok entahlah...
Ah... Sungguhnya aku hanya ingin kau tahu, aku baik-baik saja dan bahagia dengan caraku...
Percayalah aku kan menjaga jejak yg kau tinggal...

n.b. karna …

Menarilah Bersamaku June (Dear June #2)

Menarilah Bersamaku June...
Senja kali ini begitu memerah June  Ia sepertinya memendam amarah entah mengapa Tapi tahukah kau June...  Aku begitu menikmati senja yang kini berselimut merah  Aku menikmati senja yang penuh amarah
Selama ini dia terlalu hening June Memelukku dalam sunyi  Mencumbuku dalam sepi
Aku rindu senja yang memerah seperti kali ini June Ia membuatku sadar bahwa ia ada untukku
Aku rindu berbincang denganmu June Serindu aku menari di ujung senja  Aku rindu lekuk lekuk tubuh yang temaram dihempas cahaya senja 
Masihkah kau ingat June  Saat aku, kamu, dan senja melebur dalam satu tarikan nafas Melebur dalam satu irama gerakan Melebur dalam satu amarah yang sama
Biarkan June... Biarkan senja ini memerah... Agar kita bisa terus menari Berpelukan Berbincang 
Menarilah bersamaku June  Biarkan senja yang memerah karna amarah semakin membara  Melihat lekuk tubuh kita Mendengar tawa riang kita...
Biarkan...