Skip to main content

Baby Proposal: Cinta Tak Membutuhkan Alasan....


Aku tahu novel ini pertama kali karena tidak sengaja. Kebetulan aku membuka website Gagas Media dan aku mendapati sampul novel ini di bagian buku-buku baru. Aku tergelitik dengan sampul dan judul novel ini dan akhirnya membaca reviewnya. Cukup membaca sejenak review yang memang tidak terlalu panjang membuatku memutuskan aku harus mendapatkan novel ini untuk kado ulang tahunku. Selain Perahu Kertas tentunya. Pas tanggal 22 November kemarin aku berhasil menghadiahi diriku sendiri dengan 2 novel ini. Salah satunya Baby Proposal. Pada akhirnya aku memilih novel karya dua penulis Dahlian dan Gielda Lafita ini karena ide yang coba mereka angkat. Mencari kesejatian cinta di tengah kenyataan yang menyakitkan. Membuktikan jika cinta memang tidak membutuhkan alasan.
Kisah berawal ketika Karina menyadari bahwa dirinya tengah hamil. Hasil hubungan tak sengajanya dengan seorang laki-laki yang baru dikenalnya pada perjalanan wisatanya ke Lombok. Laki-laki yang dari kesan pertama yang didapat Karina adalah angkuh dan borju. Laki-laki itu bernama Daniel. Kejadian yang begitu singkat tapi mampu merubah keseluruhan jalan hidup Karina.
Karina yang hidup mandiri dan berjuang seorang diri untuk meraih cita-citanya sebagai chef tidak menyertakan kehamilan dan pernikahan dalam daftar rencana hidupnya. Karena ia memiliki trauma yang dalam dengan lembaga pernikahan. Laki-laki yang ia kenal sebagai ayahnya selalu menyiksa Ibu dan dirinya baik secara fisik dan mental. Hal itulah yang membuat Karina membuang jauh-jauh menikah dalam kamus hidupnya.
Kehamilannya ini sungguh diluar perkiraannya. Karina sama sekali tidak siap untuk itu. Maka ia memutuskan untuk menghubungi Ayah dari janinnya untuk meminta pertanggungjawaban. Bukan untuk dinikahi tapi untuk bertanggung jawab atas dirinya sampai ia melahirkan. Setelah itu Karina akan menyerahkan anak itu pada ayahnya, yaitu Daniel. Karina menemui Daniel dengan segala macam pikiran yang berkecamuk. Pun begitu dengan Daniel.
Ketidaksengajaan mempertemukan mereka, Daniel dan Karina. Kehamilan Karina yang tak terduga  membuat mereka berdua tergagap dalam menjalani konsekuensi tanggung jawab yang harus mereka jalani. Pada awalnya mereka sama-sama enggan dan terkesan menolak kehadiran janin di tubuh Karina. Namun ketika Daniel menemani Karina untuk check up kehamilan, Daniel dapat mendengarkan detak bayi yang ada di kandungan Karina. Detik itu juga Daniel seketika menyayangi anak itu. Demikian juga Karina. Tak ada lagi penolakan terhadap anak dalam kandungan Karina.
Hingga pada satu kenyataan, mereka harus kehilangan anak mereka. Rasa kehilangan yang sama-sama mereka rasakan menyatukan mereka dalam satu bentuk hubungan yang tak terdefinisikan. Rasa kasih sayang dan cinta itu perlahan muncul di antara mereka. Konflik kemudian muncul ketika Celline mantan kekasih Daniel muncul. Perasaan Daniel diuji pun juga perasaan Karina. Daniel dan Karina yang sama-sama tidak pernah mengutarakan perasaan satu sama lain diuji dengan kesalahpahaman yang muncul karena kehadiran Celline. Kesalahpahaman yang kemudian memisahkan mereka.
Mereka kembali pada kehidupannya masing-masing. Karina mengejar cita-citanya sebagai Chef dan Daniel sibuk dengan bisnisnya. Karina sengaja menghilang dari kehidupan Daniel karena mengira Daniel akan kembali pada Celline. Padahal tanpa sepengetahuan Karina, Daniel selalu mencari tahu di mana Karina berada. Hingga pada akhirnya mereka kembali dipertemukan secara tidak sengaja. Pertemuan oleh takdir yang menyadarkan Daniel bahwa untuk kali ini ia tak mau lagi kehilangan Karina. Bahwa Ia harus jujur akan perasaannya pada Karina.
Hubungan yang diawali tanpa sengaja. Kehamilan yang tak terduga. Menumbuhkan perasaan yang tak terdefinisikan di antara Karina dan Daniel. Cinta memang tidak membutuhkan alasan. Karena ketika ada seribu alasan agar cinta itu tumbuh maka akan ada pula seribu alasan ketika cinta itu hilang.
Membaca novel ini, seperti membaca sebagian kisahku. Air mata tak hentinya luruh ketika merekam kata demi kata ke dalam memori otakku. Karina beruntung karena memiliki Daniel yang bersedia bertanggung jawab dan menerima anaknya dengan ikhlas. Mungkin aku tak seberuntung Karina. Tapi satu hal yang kusadari sejak awal bahwa aku sama sekali tak pernah berniat membuang apa yang telah diberikan padaku. Dengan atau tanpa laki-laki di sampingku. Mungkin Karina berpikir ulang terus untuk dapat menerima janin dalam tubuhnya. Tapi aku, di detik aku tahu Dia ada detik yang sama aku ikhlas menerimanya meskipun aku tahu aku hanya akan berjalan seorang diri.
Baby Proposal, membuatku sekali lagi percaya bahwa suatu hari kebahagiaan akan datang di hidupku dengan cara yang indah dan waktu yang tepat. Dan cinta memang tak membutuhkan alasan, sama halnya cintaku dan penerimaanku terhadap kehadiran Langit.
:-)       

*) gambar diunduh dari www.gagasmedia.net 

Comments

Popular posts from this blog

Saya Benci Film SURGA YANG TAK DIRINDUKAN

Ya, Saya benci film SURGA YANG TAK DIRINDUKAN (SYTD). Kesimpulan ini semakin kuat setelah saya akhirnya menonton film ini semalam.

Sejak awal film SYTD dipromosikan secara gencar di berbagai media baik online maupun elektronik, saya sudah apatis. Begitu tahu tema yang diusung adalah POLIGAMI, saya semakin melangkah mundur.

Secara pribadi, saya membenci ide tentang POLIGAMI. Bukan karena saya membenci ketentuan Allah SWT yang memperbolehkan suami memiliki istri lebih dari satu. Hanya saja, sekarang ini jika dalih yang digunakan adalah ketentuan Allah SWT dan Sunnah Rasul hanya dijadikan sebagai "alat" saja. Dari semua istri Nabi Muhammad SAW, hanya satu yang berusia muda, yang lainnya berusia lebih tua dan janda. Sementara, pelaku poligami saat ini? Ahh... cukup saya membahas tentang mengapa saya tidak sepakat untuk yang satu ini.

Kembali saya akan bahas tentang film SURGA YANG TAK DIRINDUKAN (SYTD). Dengan alasan yang saya sebut di atas, saya cukup yakin bahwa film ini tida…

Surat untuk Mantan Kekasih

Dear a',
Semoga Allah SWT selalu melimpahkan kebaikan bagimu ^.^
Aku baik-baik saja, ah... seharusnya tak perlu kukatakan kabarku bagaimana, toh kamu tak pernah menanyakannya.
Eits, kamu jangan berpikiran aku tengah menangis saat surat ini ku tulis. Aku sedang tersenyum a'. Senyum yang dulu pernah kau kenal.
Aku bahagia, meskipun aku tak bisa mengelak masih tersisa luka, tapi luka ini tak lagi menyakitiku. Aku tak lagi menangis jika namamu disebut. Aku tak lagi merasa kosong saat melewati sudut-sudut penuh kenangan.
Jika ada satu atau dua bulir air mata membayang, itu hanya karna aku tidak benar-benar dapat membuang kenanganmu.
A'... ah apa masih pantas kusematkan panggilan itu padamu, sementara kita tak lagi menjadi 'kita'
^.^ Takdir tlah memisahkan jalan hidup kita sekarang...
Untuk esok entahlah...
Ah... Sungguhnya aku hanya ingin kau tahu, aku baik-baik saja dan bahagia dengan caraku...
Percayalah aku kan menjaga jejak yg kau tinggal...

n.b. karna …

Percaya, Bukan Hanya Kata...

Hubungan cinta laki-laki dan perempuan itu sungguh rumit, benar kan?
Dalam sebuah hubungan, hanya akan bertahan yaahh paling 3-4 tahun lah. Lebih dari itu kadar cinta akan berkurang dan harus dipupuk dengan komitmen dan kepercayaan. Sesederhana itu?
Sepertinya tidak...
Karena perkara komitmen dan kepercayaan itu pun sama rumitnya dengan urusan cinta.
Saya suka dengan analogi cinta pasir
Cinta itu ibarat pasir dalam genggaman. Jika kau menggenggamnya terlalu erat, maka ia akan keluar dari sela-sela jarimu. Biarkan telapakmu terbuka, maka ia akan tetap pada tempatnya... Percaya akan komitmen yang telah dibuat berdua itu harga mati.
Kamu hanya perlu percaya, karena pasangan akan leluasa menjaga kepercayaan daripada memusingkan diri dengan kecurigaan.
Jadi bukan kata-kata "Aku percaya kamu kok sayang, tapi..." yang harus kamu katakan
Tetapi
"Aku percaya kamu, jaga kepercayaan aku ya sayang..."

Karena dalam kepercayaan itu hanya ada "Percaya.(period)"