Tuesday, November 24, 2009

Baby Proposal: Cinta Tak Membutuhkan Alasan....


Aku tahu novel ini pertama kali karena tidak sengaja. Kebetulan aku membuka website Gagas Media dan aku mendapati sampul novel ini di bagian buku-buku baru. Aku tergelitik dengan sampul dan judul novel ini dan akhirnya membaca reviewnya. Cukup membaca sejenak review yang memang tidak terlalu panjang membuatku memutuskan aku harus mendapatkan novel ini untuk kado ulang tahunku. Selain Perahu Kertas tentunya. Pas tanggal 22 November kemarin aku berhasil menghadiahi diriku sendiri dengan 2 novel ini. Salah satunya Baby Proposal. Pada akhirnya aku memilih novel karya dua penulis Dahlian dan Gielda Lafita ini karena ide yang coba mereka angkat. Mencari kesejatian cinta di tengah kenyataan yang menyakitkan. Membuktikan jika cinta memang tidak membutuhkan alasan.
Kisah berawal ketika Karina menyadari bahwa dirinya tengah hamil. Hasil hubungan tak sengajanya dengan seorang laki-laki yang baru dikenalnya pada perjalanan wisatanya ke Lombok. Laki-laki yang dari kesan pertama yang didapat Karina adalah angkuh dan borju. Laki-laki itu bernama Daniel. Kejadian yang begitu singkat tapi mampu merubah keseluruhan jalan hidup Karina.
Karina yang hidup mandiri dan berjuang seorang diri untuk meraih cita-citanya sebagai chef tidak menyertakan kehamilan dan pernikahan dalam daftar rencana hidupnya. Karena ia memiliki trauma yang dalam dengan lembaga pernikahan. Laki-laki yang ia kenal sebagai ayahnya selalu menyiksa Ibu dan dirinya baik secara fisik dan mental. Hal itulah yang membuat Karina membuang jauh-jauh menikah dalam kamus hidupnya.
Kehamilannya ini sungguh diluar perkiraannya. Karina sama sekali tidak siap untuk itu. Maka ia memutuskan untuk menghubungi Ayah dari janinnya untuk meminta pertanggungjawaban. Bukan untuk dinikahi tapi untuk bertanggung jawab atas dirinya sampai ia melahirkan. Setelah itu Karina akan menyerahkan anak itu pada ayahnya, yaitu Daniel. Karina menemui Daniel dengan segala macam pikiran yang berkecamuk. Pun begitu dengan Daniel.
Ketidaksengajaan mempertemukan mereka, Daniel dan Karina. Kehamilan Karina yang tak terduga  membuat mereka berdua tergagap dalam menjalani konsekuensi tanggung jawab yang harus mereka jalani. Pada awalnya mereka sama-sama enggan dan terkesan menolak kehadiran janin di tubuh Karina. Namun ketika Daniel menemani Karina untuk check up kehamilan, Daniel dapat mendengarkan detak bayi yang ada di kandungan Karina. Detik itu juga Daniel seketika menyayangi anak itu. Demikian juga Karina. Tak ada lagi penolakan terhadap anak dalam kandungan Karina.
Hingga pada satu kenyataan, mereka harus kehilangan anak mereka. Rasa kehilangan yang sama-sama mereka rasakan menyatukan mereka dalam satu bentuk hubungan yang tak terdefinisikan. Rasa kasih sayang dan cinta itu perlahan muncul di antara mereka. Konflik kemudian muncul ketika Celline mantan kekasih Daniel muncul. Perasaan Daniel diuji pun juga perasaan Karina. Daniel dan Karina yang sama-sama tidak pernah mengutarakan perasaan satu sama lain diuji dengan kesalahpahaman yang muncul karena kehadiran Celline. Kesalahpahaman yang kemudian memisahkan mereka.
Mereka kembali pada kehidupannya masing-masing. Karina mengejar cita-citanya sebagai Chef dan Daniel sibuk dengan bisnisnya. Karina sengaja menghilang dari kehidupan Daniel karena mengira Daniel akan kembali pada Celline. Padahal tanpa sepengetahuan Karina, Daniel selalu mencari tahu di mana Karina berada. Hingga pada akhirnya mereka kembali dipertemukan secara tidak sengaja. Pertemuan oleh takdir yang menyadarkan Daniel bahwa untuk kali ini ia tak mau lagi kehilangan Karina. Bahwa Ia harus jujur akan perasaannya pada Karina.
Hubungan yang diawali tanpa sengaja. Kehamilan yang tak terduga. Menumbuhkan perasaan yang tak terdefinisikan di antara Karina dan Daniel. Cinta memang tidak membutuhkan alasan. Karena ketika ada seribu alasan agar cinta itu tumbuh maka akan ada pula seribu alasan ketika cinta itu hilang.
Membaca novel ini, seperti membaca sebagian kisahku. Air mata tak hentinya luruh ketika merekam kata demi kata ke dalam memori otakku. Karina beruntung karena memiliki Daniel yang bersedia bertanggung jawab dan menerima anaknya dengan ikhlas. Mungkin aku tak seberuntung Karina. Tapi satu hal yang kusadari sejak awal bahwa aku sama sekali tak pernah berniat membuang apa yang telah diberikan padaku. Dengan atau tanpa laki-laki di sampingku. Mungkin Karina berpikir ulang terus untuk dapat menerima janin dalam tubuhnya. Tapi aku, di detik aku tahu Dia ada detik yang sama aku ikhlas menerimanya meskipun aku tahu aku hanya akan berjalan seorang diri.
Baby Proposal, membuatku sekali lagi percaya bahwa suatu hari kebahagiaan akan datang di hidupku dengan cara yang indah dan waktu yang tepat. Dan cinta memang tak membutuhkan alasan, sama halnya cintaku dan penerimaanku terhadap kehadiran Langit.
:-)       

*) gambar diunduh dari www.gagasmedia.net 

No comments:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...