Skip to main content

Ikutan Nimbrung Soal Cicak dan Buaya


Akhir-akhir ini tayangan berita televisi sedang penuh dengan perseteruan Buaya vs Cicak. Awal-awal dulu aku bingung apaan sih nih cicak, buaya, mang ada migrasi besar-besaran kedua hewan itu ke Jakarta kah???? Tapi kemudian aku mengerti bahwa ini adalah analogi yang digunakan untuk menggambarkan perseteruan KPK vs Polri. Tapi kenapa sih pake analogi cicak dan buaya. Kenapa nggak Gorrila, Kingkong, Macan, Naga, Godzillla n etc... Ternyata tuh analogi cicak dan buaya yang mencetuskan Kabareskrim Polri Susno Duadji...Hya... kayaknya tuh orang nilai semiotiknya ancur deh, bikin analogi nggak pas banget. Kalo belakangan Kapolri Pak Bambang minta maaf dengan penggunaan istilah buaya dan cicak yang digunakan anak buahnya. Dan ia meminta media tidak menggunakan istilah itu.
Heheheh...Pak Bambang kemana aja selama ini... Tuh istilah dah mendarah daging di media n otak penduduk Indonesia. Bahkan kemarin demonstrasi di Bunderan HI Jakarta mendeklarasikan CICAK (Cinta Indonesia Cinta KPK) Hah... Jangan gara-gara Presiden udah turun tangan dalam kasus ini, semua lantas panik, proses evaluasi di interen Polri dipercepat, dan minta maaf atas kesalahan anak buahnya...(eh kok aku jadi emosi gini, sabar sabar sabar)
Uhm...ini bukan perkara aku ada di barisan pembela Bibit dan Candra. Karena jujur saja aku nggak tahu mereka beneran salah pa bener. Aku cuma nggak pengen aja kerja pemberantasan korupsi jadi terbengkalai karena sekarang semua orang sedang meributkan perseteruan yang menurutku kekanak-kanakan. Perseteruan yang bikin semua orang emosi dan terjebak dalam usaha dukung mendukung. Kalau gini nggak ada yang bakal menang...Oh ada ding tuh koruptor-koruptor a.k.a. tikus (aku ikutan pake analogi ah) yang bakal tertawa-tawa karena mereka bebas dari pantauan.
Mau Lo Cicak, Buaya, Semut, Gajah, Kecebong, Ulet bulu apa aja deh...bukannya yang lebih penting memperkarakan tuh tikus-tikus. Kalo aku mah, milih jadi manusia aja deh. It's enough for me. Biar mereka aja pada bengkerengan, kalo aku mah nulis aja. Nulis Nulis Nulis Nulis... Bersuara lewat tulisan....    

Comments

Popular posts from this blog

Saya Benci Film SURGA YANG TAK DIRINDUKAN

Ya, Saya benci film SURGA YANG TAK DIRINDUKAN (SYTD). Kesimpulan ini semakin kuat setelah saya akhirnya menonton film ini semalam.

Sejak awal film SYTD dipromosikan secara gencar di berbagai media baik online maupun elektronik, saya sudah apatis. Begitu tahu tema yang diusung adalah POLIGAMI, saya semakin melangkah mundur.

Secara pribadi, saya membenci ide tentang POLIGAMI. Bukan karena saya membenci ketentuan Allah SWT yang memperbolehkan suami memiliki istri lebih dari satu. Hanya saja, sekarang ini jika dalih yang digunakan adalah ketentuan Allah SWT dan Sunnah Rasul hanya dijadikan sebagai "alat" saja. Dari semua istri Nabi Muhammad SAW, hanya satu yang berusia muda, yang lainnya berusia lebih tua dan janda. Sementara, pelaku poligami saat ini? Ahh... cukup saya membahas tentang mengapa saya tidak sepakat untuk yang satu ini.

Kembali saya akan bahas tentang film SURGA YANG TAK DIRINDUKAN (SYTD). Dengan alasan yang saya sebut di atas, saya cukup yakin bahwa film ini tida…

Surat untuk Mantan Kekasih

Dear a',
Semoga Allah SWT selalu melimpahkan kebaikan bagimu ^.^
Aku baik-baik saja, ah... seharusnya tak perlu kukatakan kabarku bagaimana, toh kamu tak pernah menanyakannya.
Eits, kamu jangan berpikiran aku tengah menangis saat surat ini ku tulis. Aku sedang tersenyum a'. Senyum yang dulu pernah kau kenal.
Aku bahagia, meskipun aku tak bisa mengelak masih tersisa luka, tapi luka ini tak lagi menyakitiku. Aku tak lagi menangis jika namamu disebut. Aku tak lagi merasa kosong saat melewati sudut-sudut penuh kenangan.
Jika ada satu atau dua bulir air mata membayang, itu hanya karna aku tidak benar-benar dapat membuang kenanganmu.
A'... ah apa masih pantas kusematkan panggilan itu padamu, sementara kita tak lagi menjadi 'kita'
^.^ Takdir tlah memisahkan jalan hidup kita sekarang...
Untuk esok entahlah...
Ah... Sungguhnya aku hanya ingin kau tahu, aku baik-baik saja dan bahagia dengan caraku...
Percayalah aku kan menjaga jejak yg kau tinggal...

n.b. karna …

Menarilah Bersamaku June (Dear June #2)

Menarilah Bersamaku June...
Senja kali ini begitu memerah June  Ia sepertinya memendam amarah entah mengapa Tapi tahukah kau June...  Aku begitu menikmati senja yang kini berselimut merah  Aku menikmati senja yang penuh amarah
Selama ini dia terlalu hening June Memelukku dalam sunyi  Mencumbuku dalam sepi
Aku rindu senja yang memerah seperti kali ini June Ia membuatku sadar bahwa ia ada untukku
Aku rindu berbincang denganmu June Serindu aku menari di ujung senja  Aku rindu lekuk lekuk tubuh yang temaram dihempas cahaya senja 
Masihkah kau ingat June  Saat aku, kamu, dan senja melebur dalam satu tarikan nafas Melebur dalam satu irama gerakan Melebur dalam satu amarah yang sama
Biarkan June... Biarkan senja ini memerah... Agar kita bisa terus menari Berpelukan Berbincang 
Menarilah bersamaku June  Biarkan senja yang memerah karna amarah semakin membara  Melihat lekuk tubuh kita Mendengar tawa riang kita...
Biarkan...